berpikir meta

29 April 2009 at 4:28 PM (renungan)

Hal yang paling dasar yang jadi perbedaan meta kognitif dan kognitif adalah karena ada motivasi internal dan spontanitas dari dalam diri seseorang ketika berpikir meta.

Hal itu berarti metakognitif menuntut kesadaran seseorang yang muncul karena pengetahuannya tentang apa yang sudah dia tahu sekaligus tidak tahu. Ini mirip dengan self-reflection. Sebab, kita melakukannya karena kemauan kita bukan karena adanya perintah, saran, atau bahkan sekedar reward di awal yang biasanya diberikan pada anak kecil.

Selain itu, metakognitif selalu memiliki tujuan. Misalnya ketika saya tahu saya senang mengetik, saya telah memantau, dan sadar juga bahwa dengan melakukan apa yang saya senangi saya akan semakin menguasai suatu materi pelajaran. Maka mengetik menjadi salah satu cara me-rehearse pelajaran, yang tujuannya adalah saya semakin menguasai materi pelajaran itu.

Ada beberapa istilah dalam metakognitif, di antaranya:
1. Metacognitive knowledge (pengetahuan2 yang dibutuhkan/menjadi pertimbangan ketika berpikir meta). Metacognitive konowledge terdiri dari tiga variabel (person, task, and strategy)
2. Metacognitive experience (penggunaan knowledge meta)
3. Metacognitive strategy (cara yang digunakan untuk berpikir meta)
4. Metacognitive behavior (perilaku berpikir meta)

Bedanya tentu saja dengan proses kognitif adalah kognitif memerlukan stimulus dari luar, perintah, suruhan, ancaman akan uas dna sbginya. Sedangkan meta tidak. Ketika berpikir disebut kognitif sedangkan memikirkan apakah benar, apakah cukup, apakah relevan suatu pengetahuan yang kita pikirkan, dan apakah apakah yang lain, kita sedang berpikir meta.

Bentuk perilaku meta salah satunya adalah questioning. Bertanya ttg sesuatu yang masih belum jelas atau membingungkan. Sebab berarti kita tahu dimana letak ketidaktahuan kita.

Namun, hati-hati. Jika bertanya karena ada ajakan teman, ancaman dosen, atau motif ekstrnal lain. itu bukan termasuk meta.

Selain itu, metakognitif dapat mendahului (dilakukan sebelum) kognitif ataupun kelanjutan dari kognitif.

beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa berpikir meta berhubungan secara signifikan dnegan dengan intelegensi dan self-esteem.

Intinya dengan berpikir meta kita jadi semakin tahu dimana letak kelemahan dan kelebihan kita

So, tunggu apalagi, untuk menjadi pintar cukup…kembangkan kemampuan berpikir meta kita.

tentu saja hanya hati kita yang tahu, apakah ada kemauan dan kesadaran untuk berpikir meta???

“Apakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb mu itu benar, sama dengan orang yang buta? Hanyalah ‘ulul-albaab (diterjemahkan: orang-orang yang berakal) saja yang dapat mengambil pelajaran.” Q.S. [13] : 19.

  • ulul-al-baab

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s

    %d bloggers like this: