Culture, Language, and Communication

20 April 2009 at 4:21 PM (perkuliahan)

1. Berikan contoh Sapir-Hypothesis! Penggunaan bahasa dari suatu daerah ke daerah lain berbeda. Perbedaan bahasa ini disebabkan oleh asal muasal bahasa, struktur bahasa, dan fungsi bahasa itu sendiri. Perbedaan penggunaan bahasa ini menghasilkan cara berpikir masyarakat yang berbeda dari satu budaya ke budaya lain. Bentuk pola pikir yang akan berbeda misalnya proses berpikir, mengasosiasikan sesuatu, dan cara menginterpretasikan dunia. Sapir-Whorf menyatakan suatu konsep tentang “Relativitas Bahasa”. Konsep ini menjelaskan bahwa jika seseorang berbicara dengan bahasa yang berbeda mereka akan berpikir dengan cara yang berbeda. Sebab menurutnya, bahasa berperan dalam membentuk pola pikir. Dalam suatu artikel karya Lera Boroditsky telah terbukti beberapa hasil penelitian yang mendukung konsep relativitas bahasa tersebut. Misalnya, perbedaan orang Inggris dan orang Mandarin dalam menginterpretasikan waktu. Orang Inggris cenderung menggunakan istilah-istilah untuk menjelaskan peristiwa yang berlangsung berurutan dalam suatu garis horizontal sedangkan orang Mandarin vertikal (Scott, 1989). Orang Inggris menggunakan istilah past, present, dan present (garis horizontal). Sedangkan orang Mandarin shàng (atas) xià dan (bawah). Beberapa penelitian berikutnya yang dilakukan oleh Boroditsky, 2001 menyatakan bahwa orang Mandarin cenderung berpikir tentang waktu secara vertikal meskipun mereka berpikir dengan bahasa Inggris. Orang Mandarin juga akan lebih cepat mengetahui bahwa bulan Maret datang sebelum bulan April, jika mereka baru saja melihat objek yang tersusun secara vertikal daripada horizontal. Saya dapat mengasumsikan perbedaan ini disebabkan oleh cara mereka menulis bahasa. Dalam kehidupan sehari-hari juga terdapat contoh relativitas bahasa. Di antaranya, pada bahasa Jawa terdapat Kromo Inggil. Pada bahasa Aceh terdapat perbedaan kata ganti kedua untuk orang yang usianya berbeda-beda. Kah untuk orang yang usia lebih rendah, Gatta untuk orang yang usianya lebih rendah juga atau setara, dan Ron atau Drone’ untuk orang yang usianya lebih tua. Sedangkan Penggunaan kata ganti ketiga yaitu ijih untuk orang yang usianya lebih muda dan gotnyan untuk orang yang usianya setara dan lebih tua. Untuk penggunaan kata ganti ketiga oreung nyan, digunakan untuk semua tingkat usia. Pada bahasa Arab, penggunaan kata ganti kedua, baik yang bersifat tunggal maupun jamak, setara untuk semua usia. Kata ganti keduanya tidak berubah (tetap anta untuk laki-laki dan anti untuk perempuan) pada bentuk tunggal dan antum untuk laki-laki dan antunna untuk perempuan pada bentuk jamak. Begitupula penggunaan kata ganti ketiga, tetap huwa untuk laki dan hiya untuk perempuan pada bentuk tunggal dan hum untuk laki-laki dan hunna untuk perempuan pada bentuk jamak. Penggunaan kata ganti kedua dan ketiga tersebut tetap sama untuk semua rentang usia. Jika ingin memanggil orang yang lebih tua, tinggal memanggil perannya dalam keluarga (ummi atau abi) ataupun dalam masyarakat dengan tambahan kata sandang Bapak (Sayyid) atau Ibu (Ummu) seperti yang digunakan oleh orang Indonesia. Perbedaan seseorang dengan orang lain tidak dilihat berdasarkan usia, status dan kedudukannya di dalam masyarakat melainkan karena kualitas yang dimiliki. Namun, penggunaan bahasa Arab menekankan pentingnya perbedaan fitrah (yang terberi) yaitu jenis kelamin. Perbedaan ini merupakan perbedaan yang sangat penting dalam bahasa Araba. Sebab dalam setiap penggunaan kata ganti baik yang bersifat tunggal maupun jamak, bahasa Arab mengikutsertakan perbedaan jenis kelamin, kecuali kata ganti pertama. Bahkan penggunaan kata kerja yang digunakan pun akan berbeda ketika pelakunya perempuan atau laki-laki, seperti yang dapat kita lihat dengan jelas di dalam bahasa Al-Qur’an. Hal ini tentu saja, terkait erat dengan ajaran islam yang menyetarakan perempuan dengan laki-laki dalam berbagai kondisi apapun. Perbedaan di antara keduanya hanya kondisi fisiknya yang memang tidak dapat diubah dan perbedaan kualitas kepribadian yang dimililki masing-masing orang. ”Inna akramakum indallahi atqakum”. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu adalah orang yang paling bertaqwa Q. S . 2. Apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi komunikasi antarbudaya? Untuk mengatasi komunikasi antarbudaya orang harus mau memahami perbedaan, terbuka terhadap bias kognitif, afektif, dan perilaku. Orang-orang dapat melakukannya dengan belajar keterampilan berkomunikasi dengan baik dan menciptakan mental baru untuk menciptakan hubungan antar budaya. Selain itu, orang juga harus dapat meregulasi emosi dengan baik, terbuka terhadap perbedaan bahasa, fleksibel, dan tetap berpikir kritis. Dengan demikian, perbedaan bahasa tidak akan menjadi ancaman kehidupan melainkan memperkaya khazanah pengetahuan tentang budaya tertentu. Wallahu ‘alam bisshawab Ciputat, April 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: