my first diary

25 February 2009 at 2:20 PM (curhat)

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Rako prijanto

Kulari

Ke hutan kemudian teriakku

Kulari ke pantai kemudian menyanyiku

Sepi…Sepi…dan sendiri aku benci

Aku ingin bingar aku mau di pasar

Bosan aku dengan penat

Dan enyah saja kau pekat

Seperti berjelaga kusendiri

…………Pecahkan saja gelasnya biar ramai………………….

Biar mengaduh sampai gaduh

Aih…Ada malaikat menyulam

Jaring laba-laba belang di tembok

Putih keraton

Kenapa tak goyangkan saja…loncengnya…

Biar terdera

Atau aku harus lari ke pantai

Belok ke hutan

Tuhanku

Chairil Anwar

Tuhanku

dalam termangu

Aku masih menyebut nama-Mu

Biar susah sungguh

Mengingat kau penuh seluruh

Caya-Mu panas suci

Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

Aku hilang bentuk

Remuk

Tuhanku

Aku mengembara di negeri asing

Tuhanku

Di pintu-Mu aku mengetuk

Aku tidak bisa berpaling

Sungguh hati muslim dipatri cinta nabi

Dialah pangkal mulia

Sumber bangga kita di dunia

Dia tidur di atas tikar kasar

Sedang umatnya mengguncang tahta kisra

Inilah pemimpin bermalam-malam terjaga

Di gua hira ia bermalam

Sehingga tegak bangsa, hukum, dan negara

Kala Shalat, pelupuknya tergenak air mata

Di medan perang, pedangnya bersimbah darah

Di bukanya pintu dunia dengan kunci agama

Duhai, belum pernah insan melahirkan putra

Semacam dia

Dance me to your heart

Keep me safely in

Dance me to the fire

Flames burning

Music of desire

Dence to the night

Stars shining

Under the moonlight

Dance me to the dawn

Morning bright

Hear the wind sing our song

Dance me to the sky

Soaring free

Give me wings to fly

Dance me to your heart

Keep me safely in

Dance with me in your heart

If I could

If I could

I would always tell the truth

I would always love you

From the heart

If I could

I would take you in my arms

Take you inside

Into my heart

If I could

I would be the place you turn to

When you are feeling lonelyor afraid

I would shine

Like a latern in the dark

Take you inside

Into my heart

When you feel as if

You didn’t know who you are

I’ll remind you with my love

If I could

I would always keep you safe

Take you inside

Into my heart

When you feel as if

You simply couldn’t go on

I’ll remind you that you are strong

If I could

I would love you as you are

Take you inside Into my heart into my arms…into my life

Puisi Putih

Maybe, in another time…

You might hear me

Above the din of crowd’s approval

The tiny little song beneath the roar

Perhaps, in some other place

You may see me

Out there beyond the glaring footlights

Shining bright and true

Here I am…just me…my self

Nothing to hide, no games to play

Perhaps If I knew the rules

The dance…The script…

Someday in a warmer space

You will feel me

As others clamour to touch your robe

I’ll will be in the wings…

Waiting.

….

Cut Hani Bustanova

Huuuhh…..Hidup itu kosong

Tak secerah kukira

Menjebakku

Rangkaian malu menutup rasa

Tertahan di sanubari

Rasa dari mata turun ke hati

Tak henti menggebu merayapkemudian menjalar

Aku mati….

Diletih sahutan

Menjemput penyesalan

Menghampiri kebimbangan

Meninggalkan kesenduan

Bersemu maya…

Entah…mengapa aku benci dan heehh…..

Sulit diterangkan

Aku masih satu dan bisu

2003

Rako Prijanto

Ketika tunas itu tumbuh

Serupa tubuh yang membakar

Setiap nafas yang terhembus

Angan…..debur dan emosi

Bersatu dalam jubah bertautan

Tangan kita terikat, lidah kita menyatu

Maka setiap kata yang terucap

Adalah sabda pandita ratu

Huhh…..dalam ini pasir luar itu debu

Hanya angin meniup saj alalu terbang

Hilang tak ada

Tapi kita tetap menari

Menari…Cuma kita yang tahu

Jiwa ini tandu

Maka duduk saja

Maka akan kita bawa

Semua…

Karna kita adalah satu

sPideR “DiK”

If 10 cares for you I’ll be the one of them

If theres only one I’ll be that one

If Nobody cares for you

That mean

I’m not in this world anymore

Rako Prijanto

Perempuan datang atas nama cinta

Bunda pergi karena cinta

Digenangi air racun jingga adalah wajar

Seperti bulan

Lelap tidur di hatimu yang berdinding kelam

Ada apa dengannya?

Meninggalkan hati untuk dicaci

Baru sekali ini

Aku lihat surga dari mata seorang hawa

Ada apa dengan cinta?

Tapi aku pasti kembali

Dalam atu purnama

Untuk mempertanyakan kembali cintanya

Bukan untuknya bukan untuk siapa

Tapi untukku

Karena aku ingin kamu

Itu saja…

Guru Kehidupan

Juftazani

Dekatlah dengan kematian

Karna kematian guru kehidupan

Di jalanan

Orang-orang berseteru dengan kematian

Tapi di medan pertempuran

Serdadu persahabatan dengan kematian

Agar ruh mereka

Mampu mempertahankan negeri

Dari balik tubuh mereka yang nisbi

Betapa banyak filsuf mendefinisikan kematian

Tapi selalu gagal menolaknya

Betapa banyak orator, ulama, pendeta

Berapi-api mengkhotbahkan kematian

Tapi mereka tak mampu menghindarinya

Jika kematian guru kehidupan

Mengapa hidup tak pernah belajar kepadanya

Bila kematian gerbang kehidupan

Mengapa orang-orang selalu menghindar darinya

Kematian adalah kegembiraan

Mengapa orang selalu bersedih menerimanya

MABUK

Juftazani

Namun tatkala kau ulurkan jemari tanganmu

Aku hendak melepaskan diri

Karena ombak dan gelombang

Menghempas bulan dan matahari

Namun kasihmu teramat abadi

Kau beri aku limpahan kasih

Ddari cinta yang terpandar dari pancaran matamu

Sajadah yang terbentang di lembaran awan

Menari dan minta anggur secawan

Dari cahaya yang tak pernah tertawan

O lingua franca yang menyatukan manusia

Aku menyanyikan semesta

Yang menyimpan kemabukan

Menyandera luka dan kepiluan

Kelembutan IBUNDA

Juftazani

Adalah kehancuran yang menjanjikan jiwa

Pada tasbih semesta dan duka abadi

Seperti juga tentara yang mati

Menjanjikan kebebasan dan pahlawan negeri

Bertasbihlah karena duka

Terhempas dari ketinggian surga

Ke jurang dunia

Bisakah aku bertasbih

Seperti yunus yang terlunta

Bisakah Muhammad berdakwah penuh kekerasan?

Padahal berpuluh nabi

Telah mengajarkan umatnya pada ketidaksabaran?

Adalah kelembutan yang menjanjikan keabadian

Seperti juga Khadijah

Melembutkan jiwa Muhammad yang gelisah

Setelah dipapar cahaya di gua sunyi

Dan Ibunda abadi

Meninggalkan pesan yang sangat mendalam

Pada jiwa Muhammad yang tak pernah padam

Dua februari dua ribu tiga

Cut hany Bustanova

”Dengan nama Tuhanku yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang”

Heran

Aku tersenyum

Huhhhff…setidaknya berusaha untuk slalu lembut pada dunia

Selalu tertawa, riang

Tapi mereka semua memasang wajah seburuk-buruknya

Aku bukan penyair

Aku bukan penyair

Kali ini aku sungguh tak mengerti

What the meaning of life?

I can’t answer the question

Aku tak kuat mengartikan hidupku sendiri

Atau

Inikah sesungguhnya hidup yang harus kuhadapi

Aneh…pahit…

Masih adakah sudut dunia yang bisa ku rasa

Masih kosongkah sudut itu agar aku dapat mengisinya?

Atau…

Semua sudah penuh sesak

Dan aku harus mematung

Di sini sunyi sayup semesta beriuh rendah

Dua puluh juni dua ribu dua

Langit

Cut Hani Bustanova

Langit…..

Kenapa hatimu biru sedang aku merah

Kenapa sewi malam, raja siang dan sang bintang mengisimu

Sedang tak mengisiku

Aku ingin katakan padamu kalau aku bosan

Kau tau kenapa? Hehhhm…Kau takkan tau

Dan tak seoramg pun kan tau

Kau tau langit…..

Hatiku acapkali terbelah acapkali pula aku menjahitnya

Kau tau langit…..

Hatiku semakin hari semakin jelek karena belahan

Itu semakin nampak terjahit

Langit…..

Mengertilah diriku Belikan aku hati yang baru

Berwarna biru seperti hatimu

Kemudian bawa aku berkahyal menaiki nirwana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: