“Self-Control and Social Control: An Examination of Gender, Ethnicity, Class, and Delinquency”

16 February 2009 at 11:23 AM (renungan)

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

TUGAS REVIEW MATA KULIAH “KENAKALAN ANAK DI INDONESIA”

– KELOMPOK 3 –

Cut Hani Bustanova (0706280611)

Desiana Nurahayu (0606096736)

Hesty Apriani (0706282516)

Lucky Nurhadiyanto (0905040324)

Rosana Yuniasih (0706281740)

Salmah Hilmia A (07062818030)

Self-Control and Social Control:

An Examination of Gender, Ethnicity, Class, and Delinquency

(M. Reza Nakhaie, Robert A. Silverman, Teresa C. LaGrange)

  1. Latar Belakang

Keberadaan peran dari kontrol dalam kaitannya untuk mengurangi tingkat kriminalitas telah menjadi fokus utama dalam kajian teoritis kriminologi. Kontrol tersebut berkembang saat seseorang masih berada dalam masa anak-anak yang baik secara langsung maupun tidak lagnsung berkaitan erat dengan norma sosial di masyarakat. Oleh karena itu, kontrol dalam diri seorang individu dapat diklasifikasikan atas dua macam, kontrol internal (self-control/ kontrol diri) yang terkait dengan individu itu sendiri dan kontrol eksternal (social control/ kontrol sosial) yang melihat adanya batasan-batasan norma masyarakat.

Penelitian-penelitian dalam ranah kriminologi atau pun cabang ilmu sosial lainnya jarang sekali mengkaji suatu fenomena dengan pisau analisa kedua macam kontrol tersebut. Terkadang hanya mempergunakan kontrol internal saja dalam menjelaskan suatu kasus, tetapi tak sedikit yang hanya memfokuskan pada kontrol eksternal. Oleh karena itu, penelitian ini berusaha mengkaji keterkaitan kedua kontrol tersebut untuk kemudian mendapatkan penjelasan terbaik mengenai kenakalan.

Di tahun 1969, Travis Hirschi dalam bukunya Causes of Delinquency menjelaskan bahwa proses sosial yang dialami individu, mulai dari keluarga sampai institusi sosial lainnya, akan membentuk ikatan antara individu tersebut dengan agen-agen sosial. Disini peran kontrol sosial adalah sebagai ikatan yang menyatukan individu dengan beberapa agen sosial lainnya. Hirschi menyebutnya sebagai social bond (ikatan sosial). Lebih lanjut Hirschi mengetengahkan adanya empat (4) dimensi ikatan sosial, yaitu attachment (keteriakatan), commitment (komitmen), involvement (keterlibatan), dan belief (kepercayaan). Keempat elemen tersebut saling terkait satu sama lainnya dan jika terjalin ikatan yang kuat antara individu dengan masyarakat maka potensi terjadinya kenakalan kecil. Sedangkan, jika ikatan tersebut lemah maka akan memiliki kecenderungan yang besar terjadinya kenakalan.

Hubungan antara attachment dan commitment dengan involvement dan belief telah diuji dalam beberapa penlitian. Dalam penelitian-penelitian yang dilakukan oleh Glueck dan Glueck (1950), Nye (1958), Hirschi (1969), Hagan et. al. (1985, 1988), Rosenbaum (1989), McCord (1991), Wells dan Rankin (1991), serta Hirschi dan Gottfredson (1993) memperlihatkan adanya ketrikatan empat elemen tersebut dengan keluarga dan kenakalan. Sedangkan, Stinchcombe (1964), Waitrowski et. al. (1982), Toby (1983), Figueira-McDonough (1987), McGee (1992) mengkaji kaitannya dengan institusi sekolah. Dan keterkaitan dengan peer group (teman sebaya) telah dikaji dalam penelitian Hirschi (1969) dan Akers at. al. (1979).

Memang lebih banyak penelitian yang memfokuskan pada keluarga dan sekolah dari pada yang menkaji teman sebaya, tetapi keberadaan teman sebaya dapat menjadi dalah sati indikator individu melakukan kenakalan.Tidak cukup hanya sampai disini, perkembangan untuk menjelaskan kenakalan kembali dilakukan Gottfredson dan Hirschi (1990) yang mengembangkan ‘General Theory of Crime’ (Teori Umum Kejahatan). Teori ini memperhatikan adanya kaitan karakteristik kepribadian indiviu dengan kenakalan. Mereka menyatakan bahwa, “Teori klasikal dalam kriminologi merupakan teori tentang kontrol sosial (eksternal)… Teori klasikal itu sendiri memiliki kekurangan dalam menjelaskan tentang unsur kontrol diri (internal)… Mengkombinasikan dua ide tersebut hanya mengenalkan keberadaan batasan perilaku sosial dan individual secara bersamaan” (1990 87-88).

Sebagai contoh, mereka memberi penekanan yang sangat kuat bahwa larangan orangtua dan latihan-latihan di sekolah dapat membantu pencegahan perilaku anak yang tidak diharapkan dan sekaligus juga meyakinkan internalisasi dari nilai-nilai dan pelajaran-pelajaran moral. Hal ini-lah yang menurut mereka dapat mencegah terjadinya penyimpangan perilaku anak (kenakalan) di masa mendatang.

Lebih lanjut, mereka menyatakan bahwa interaksi dan sosialisasi normal yang terjadi dalam kehidupan individu di kesehariannya dapat memantu meningkatkan kontrol diri. Keterkaittannya adalah dengan kontrol diri yang rendah maka seseorang juga akan memiliki ikatan yang lemah terhadap institusi konvensional dalam masyarakat. Kesimpulannya adalah bahwa kontrol diri dan kontrol sosial saling mempengaruhi. Secara lebih spesifik, dinyatakan bahwa kontrol diri dan kontrol sosial terkait dalam menjelaskan kenakalan. Meskipun dalam penilitian yang dilakukan oleh Gottfredson dan Hirschi lebih terfokus pada kontrol diri sebagai prediktor utama dari kejahatan dan atau kontrol sosial serta kurang memperhatikan keberadaan kontrol sosial.

Asumsi dari General Theory of Crime bahwa semua manusia yang melakukan tindakan merupakan makhluk rasional dan memiliki kehendak bebas (free will). Perbedaannya terletak pada tingkat kontrol diri individu. Sosialisasi masa kecil dalam keluarga merupakan faktor dominan yang mempengaruhinya. Pemberian sanksi dinilai tidak efektif. Tetapi memberikan dengan cara yang lebih mendidik dianggap metode yang lebih baik. Anak akan memiliki tingkat sensitifitas yang baik, mandiri, mengetahui batasan peran, dan meminimalkan sikap kekerasan merupakan beberapa karakteristik pengambangan kontrol diri yang tangguh. Disinilah peran sentral keluarga dalam mempengaruhi kenakalan.

Salah satu pernyataan lainnya adalah kontrol diri yang dimiliki seseorang sejak kecil dan terbentuk melalui institusi keluarga, cenderung tidak berubah di masa-masa mendatang dan hampir tidak dipengaruhi oleh institusi-institusi lainnya selain keluarga tersebut (Gottfredson dan Hirschi, 1990: 107-108, 117). Oleh karena itu, meskipun mereka menekankan pada kedua aspek yaitu kontrol internal dan eksternal, mekanisme kontrol eksternal dianggap lebih penting pada masa kanak-kanak awal untuk proses internalisasi tentang kontrol diri.

Bagi Gottfredson dan Hirschi (1990, 190), kesempatan kejahatan merupakan percampuran antara kontrol diri yang rendah dan perilaku kejahatan, “Karena kejahatan mencakup benda-benda, pelayanan, dan korban, mereka juga memiliki unsur pokok lainnya: mereka membutuhkan kesempatan, dan mereka mengetahui bahwa mereka akan diberikan sanksi apabila perilaku kejahatan mereka diketahui.” Jika kontrol diri dan kontrol sosial lemah maka individu tersebut berpotensi melakukan kenakalan. Sedangkan, jika individu tersebut memiliki kontrol diri dan kontrol sosial yang kuat maka kecenderungan melakukan kenakalan kecil.

  1. Rumusan Masalah

Bagaimana keterkaitan kontrol (internal dan eksternal) dengan gender, etnis, dan struktur kelas terhadap kenakalan?

  1. Pembahasan

Sekolah yang dipilih dalam penelitian adalah sekolah yang berasal dari daerah dengan tingkat vandalisme yang tinggi, yaitu sebanyak 5 SMU dan 6 SMP umum, serta 2 SMU dan 2 SMP Katolik di Edmonton, Alberta. Pemilihan tersebut didasarkan pada asumsi bahwa daerah dengan tingkat vandalisme tinggi merupakan daerah yang banyak terjadi kasus kenakalan. Desain penelitian dalam penelitian ini berupa cluster sampling, yaitu membagi populasi ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan tingkat kelas, dan dari masing-masing kelompok diambil beberapa partisipan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa gender (pria dan wanita), usia (dibawah 15 tahun dan diatas 15 tahun), dan etnik (Aborigin, etnik minoritas, dan lainnya) berpengaruh terhadap kenakalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa etnik Aboriginal lebih terlibat dalam tindak kriminal dibandingkan etnik lain. Selain itu, terdapat perbedaan jumlah terjadinya kenakalan pada sekolah umum dan sekolah Katolik. Pada sekolah Katolik, kriminalitas dan kenakalan yang terjadi cenderung rendah, kemungkinan sebagai akibat dari pengaruh hubungan keagamaan, keanggotaan gereja, dan pemberian dukungan berdasarkan nilai-nilai keagamaan. Sayangnya, dalam penelitian ini tidak dijelaskan lebih lanjut mengenai hal tersebut.

The General Theory lebih terfokus pada pendekatan terhadap kontrol internal atau kontrol diri. Asumsi dari pencetus teori ini yakni, Gottfredson dan Hirschi, berpendapat bahwa hubungan antara kontrol diri akan mampu untuk menjelaskan fenomena kejahatan atau pun kenakalan yang ada. Logikanya adalah jika kontrol diri seseroang kuat maka kemungkinan ia melakukan kenakalan akan semakin keci. Kontrol diri yang terbentuk dalam kepribadian seseorang merupakan hasil penanaman yang dilakukan oleh agen sosial keluarga, sekolah, dan dalam pergaulan teman sebaya (peer group).

Meskipun keberadaan kontrol diri dan kontrol sosial memiliki hubungan yang erat dengan kenakalan akan tetapi perlu diperhatikan juga adanya faktor-faktor lain yang mempengaruhinya. Adanya sikap keberanian untuk mengambil resiko (risk-taking) dan keterlibatan orang tua dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam mengkaji kenakalan. Serta adanya faktor kepribadian juga dapat menjadi alternatif utama. Risk-taking dan faktor kepribadian dapat mempengarahui seseorang untuk melakukan kenakalan, terlebih perbedaan kepribadian merupakan stimulus keberanian untuk mengambil resiko.

Konsep risk-taking sebelumnya telah dikaji oleh Miller (1958) yang berusaha meneliti proses sosialisasi pada masyarakat lower class. Dalam definisi yang berbeda risk-taking juga dapat diartikan sebagai pilihan untuk melakukan atau tidak melakukan kenakalan. Hal ini disebabkan karena risk-taking dilatarbelakangi oleh perbedaan budaya dan latar belakang historis lainnya. Selain itu faktor kesempatan memiliki hubungan dengan pembentukkan keberanian mengambil resiko.

Pengaruh masalah jenis kelamin, usia dan perbedaan kelas sebagai pemicu kenakalan dinilai kurang memperhatikan adanya faktor karakteristik kepribadian individu. Gottfredson dan Hirschi berpendapat bahwa perbedaan kepribadian individu telah terbentuk, terstuktur dan telah ada sejak individu tersebut berada pada tahap anak-anak. Maka dapat dikatakan bahwa pada kehidupan laki-laki dan anak-anak, suku Aborigin, dan masyarakat lower class telah terinternalisasi sikap risk-taking yang mampu mempengaruhi keberanian melakukan kenakalan.

Meskipun begitu kontrol diri dan kontrol sosial masih tidak mampu terelimiasikan dari variable jenis kelamin, suku, dan usia. Dalam konteks gender, Gottfredson dan Hirschi membedakan kenakalan yang dilakukan anak laki-laki dan perempuan dengan menunjukkan perbedaan perlakuan berdasarkan gender sejak anak-anak dan pengawasan yang diperolehnya. Hasilnya adalah anak perempuan memiliki kontrol diri yang lebih kuat dari pada anak laki-laki. Penelitian memperlihatkan laki-laki lebih signifikan melakukan kenakalan setelah self dan social-controlnya juga diteliti. Itulah yang menyebabkan anak laki-laki lebih nakal daripada anak perempuan jika kita melihat dari sudut pandang kontrol diri dan kontrol sosial.

Selain itu dalam penelitian ini ditemukan bahwa golongan minoritas (suku Aborigin dan suku minoritas lainnya) memiliki kecenderungan yang rendah untuk melakukan kenakalan. Karena internalisasi kontrol diri dan kontrol sosial telah lama ditanamkan dalam kehidupan mereka sejak masih kecil. Ini memperlihatkan bahwa kontrol sosial dan kontrol diri bukanlah faktor yang memengaruhi mereka melakukan kenakalan. Selain itu ternyata masih terdapat faktor lain untuk menjelaskan kenakalan yang dilakukan oleh golongan minoritas tersebut (Aborigin, golongan minoritas, masyarakat lower class, dan anak perempuan/ masalah gender).

Sebagai contoh anak-anak Aborigin mungkin melakukan kenakalan karena mengalami kemiskinan, latar belakang historis, pengalaman hidup kaum marginal, dan perlakuan negatif yang didapatnya di sekolah. Singkatnya, efek perlawanan dari gender dan suku setelah mengontrol self dan social control bahwa predictor sendiri dibutuhkan untuk tujuan menjelaskan kejahatan dan kenakalan anak. (lihat Smith 1991).

Oleh karena itu, keberadaan risk-taking merupakan faktor pendorong yang kuat untuk mempengaruhi seseorang melakukan kenakalan. Selain itu adanya motivasi dan kesempatan yang berbeda-beda dapat pula menjadi faktor penting yang mampu mempengaruhi kenakalan. Hal ini dilandasi karena dalam pembentukkan kontrol diri dan kontrol sosial terdapat pengaruh dari perbedaan sosialisasi yang didapat individu tersebut. Terlebih sulitnya mencari penjelasan mengapa terjadi perbedaan sosialisasi yang dialami individu dalam komunitas sosial yang berbeda pula. Terutama dalam konteks agen sosial yang paling pertama, yaitu keluarga.

  1. Keterkaitan dengan kasus di Indonesia

Gang Nero’ (neko-neko dikeroyok) merupakan salah satu bentuk komunitas beranggotakan anak-anak perempuan yang berasal dari Juwana, Pati, Jawa Tengah. Sebagai informasi Kota Kecamatan Juwana dikenal sebagai pusat pasar beras, industri kuningan, pelabuhan antarpulau, dan tempat pendaratan ikan maupun tempat penjualan ikan (TPI) terbesar nomor dua di Jateng, serta berada di jalur utama Jakarta-Semarang-Surabaya.

Sekilas mendengar bahwa ada sekelompok wanita yang membentuk sebuah gang mungkin akan terdengar biasa saja, tetapi jika ternyata gang tersebut melakukan tindak kekerasan, ini baru menarik. Aksi kekerasan yang dilakukan anggota gang Nero terhadap salah seorang siswi SMP di sebuah gang yang bernama Gang Belimbing.

Gang yang punya nama lain ‘Gang Belimbing’ dan ‘Gang Cinta’ ini biasa berkumpul di Gang Belimbing tersebut yang ternyata merupakan tempat yang biasa dipakai oleh para remaja untuk melakukan kenakalan, seperti mabuk-mabukan, merokok, dan melakukan tindakan vandalis (mencoret-coret tembok). Selain itu gang ini juga sering dipakai oleh para remaja untuk berpacaran karena kondisi jalan yang jarang dilalui orang.

Aksi kekerasan ini dilakukan sebagai bentuk perpoloncoan terhadap calon anggota baru, tetapi kabar lain meyebutkan aksi tersebut dilandasi dendam karena korban menghina salah seorang anggota Gang Nero. Aksi kekerasan yang dilakukan Gang Nero tersebut berupa penamparan, penjambakkan, hingga penendangan. Bahkan tak cukup hanya itu, kekersan verbal juga turut mewarnai aksi gang tersebut. Tapi aksi kekerasan mereka tersebut terekam video dan telah beredar di luas di masyarakat, bahkan telah jatuh ke tangan polisi. Inilah kemudian yang menjadi bukti untuk melakukan pidana terhadap mereka terkait aksi kekerasan tersebut. Kini mereka harus berurusan dengan pihak kepololisan guna mempertanggungjawabkan perbuatannya tersebut.

Aksi kekerasan yang dilakukan oleh Gang Nero dapat digolongkan sebagai bentuk kenakalan karena terbukti melanggar hokum dan norma social yang ada di masyarakat. Keterkaitannya dengan tugas review ini adalah adanya kesamaan permasalahan kenakalan yang berhubungan dengan gender, etnis, dan struktur kelas. Anak perempuan yang lebih dikenal sebagai seseorang yang harus bersikap sopan, terlebih pada masyarakat etnis Jawa terdapat tuntutan untuk bersikap kemayu, malah melakukan kekerasan yang berbuntut pada penangkapan. Selain itu mereka juga tergolong sebagai masyarakat kelas menengah (middle class). Karena berdasarkan data yang ada (meskipun terbatas) menunjukkan mereka mampu bersekolah sampai tingkat SMA dan mampu memiliki telepon genggam yang berkemampuan untuk merekam video.

Dalam review diatas kontrol diri dan kontrol sosial bukan merupakan faktor utama seseorang melakukan kenakalan, tetapi terdapat faktor risk-taking dan karakteristik kepribadian yang berbeda-beda. Terlebih rasa solidaritas anggota gang turut mewarnai ikatan emosional gang yang telah terbentuk sejak mereka SD.

Keberanian mengambil resiko dengan merekam gambar aksi kekerasan tersebut dengan catatan mereka juga masih tercatat sebagai siswi aktif di SMA dan masih duduk di kelas 1 menunjukkan mereka memiliki risk-taking yang rendah. Ditambah perbedaan latar belakang keluarga masing-masing anggota turut mempengaruhi karakteristik kepribadian mereka.

Referensi :

ANTARA. 2008, Anggota Geng Nero Ditangkap Polisi, tersedia di: http://www.antara.co.id/arc/2008/6/13/anggota-geng-nero-ditangkap-polisi/, diakses pada Kamis 9 Oktober 2008, pukul 09.25.

KOMPAS. 2008, Gang Belimbing, Gang Cinta, Juga Ganng Nero, tersedia di:

http://www.kompas.com/read/xml/2008/06/16/19290990/gang.belimbing.gang.cinta.juga.geng.nero., diakses pada Kamis 9 Oktober 2008, pukul 09.30.

Moyer, Imogene L. 2001, Criminological Theories: Traditional and Nontraditional Voices and Themes, Sage Publications, Inc., Thousand Oaks, California.

M. Reza Nakhaie, Robert A. Silverman, Teresa C. LaGrange. 2000, ‘Self-Control and Social Contreol: An Examination of Gender, Ethnicity, Class, dan Delinquency’, dalam Sourcer Canadian Journal of Sociology, Vol. 25, No. 1, hal.35-59, tersedia di: http: www.jstor.org/stable/3341910, diakses pada: 02 September 2008, pukul 04.24.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: