Narsis, Percaya Diri atau Sombong ?

12 December 2008 at 10:06 AM (Uncategorized)


v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} h1 {mso-style-next:Normal; margin-top:12.0pt; margin-right:0cm; margin-bottom:3.0pt; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; page-break-after:avoid; mso-outline-level:1; font-size:16.0pt; font-family:Arial; mso-font-kerning:16.0pt; font-weight:bold;} h5 {mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0cm; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; mso-outline-level:5; font-size:10.0pt; font-family:”Times New Roman”; font-weight:bold;} h6 {mso-style-next:Normal; margin-top:12.0pt; margin-right:0cm; margin-bottom:3.0pt; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; mso-outline-level:6; font-size:11.0pt; font-family:”Times New Roman”; font-weight:bold;} a:link, span.MsoHyperlink {color:blue; text-decoration:underline; text-underline:single;} a:visited, span.MsoHyperlinkFollowed {color:purple; text-decoration:underline; text-underline:single;} p {mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0cm; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0cm; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} span.style3 {mso-style-name:style3;} span.style4 {mso-style-name:style4;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Kategori Klinis
Oleh : RR. Ardiningtiyas Pitaloka, M.Psi.
Jakarta, 5/6/2008

Kisah si Narcissus
Kisah sang penakluk wilayah Thespiae di Boetia yang dianugerahi ketampanan, Narcissus, Narkissos atau Sang Pemuja Diri Sendiri

Beberapa versi kisah Narcissus salah satunya oleh Ovid dalam ‘Echo’. Narcissus yang sedang berburu kijang di hutan merasa haus dan mengambil air di sebuah sungai, namun ia tak bisa menyentuh air itu karena takut merusak bayangan yang ada pada permukaan air. Narcissus meninggal dengan memandangi bayangannya sendiri dan tumbuhlah bunga Narcissus di tempat ia meninggal.

Namun Pausanias (seorang ahli geografi dan traveller dari Mesir, hidup pada abad kedua Masehi) menolak kisah seseorang yang tidak mampu membedakan manusia nyata dan bayangan, menurutnya Narcissus jatuh cinta pada saudara kembar perempuannya, yang mengenakan pakaian sama dengan Narcissus ketika berburu di hutan. Ketika saudara kembarnya meninggal, Narcissus sangat terpukul dan menganggap bayangan yang ia lihat di permukaan air itu adalah saudara kembarnya (www.wikipedia.com).

Kita yang tinggal di kota besar di Indonesia tentunya tidak akan sanggup mengambil air di sungai untuk minum, bukan karena ada bayangan yang mempesona, pastinya. Namun jaman sekarang kita tidak perlu sungai untuk bercermin, karena makin hari gambaran diri kita makin jelas, tebal dan kongkrit, menutupi inti sari diri yang makin tidak jelas.

Ada yang menganggap bahwa orang narsis itu menyebalkan dan berdampingan dengan orang narsis rasanya tidak menyenangkan karena atmosfernya penuh dengan persaingan, kesombongan, dsb regardless orang-orang narsis ini dari luar tampak punya rasa percaya diri yang besar. Menarik untuk kita lihat pemahaman narsis ini lebih jauh, karena dalam psikologi klinis dikenal pula istilah Narcissistic Personality Disorder. Dalam bahasa umum, orang narsisistik adalah orang yang menjadikan dirinya pusat dari segalanya.

The narcissist becomes his own world and believes the whole world is him
(Theodore I. Rubin)

Ia memiliki penilaian berlebih pada dirinya dalam skala ekstra besar, sehingga meresahkan, mengganggu kehidupan sosial sekelilingnya. Namun, gejala narsis ini pun dapat berlaku di masyarakat luas. Agar tidak selalu menebak, ada baiknya kita menengok definisi teoritik dan studi empirik dalam psikologi.

Narisisisme dalam studi psikologi
Dimensi kepribadian narsistik berasal dari kriteria narsistik dalam gangguan kepribadian, namun narsisme yang kita bahas kali ini lebih ditujukan bagi individu yang masih dapat berfungsi secara normal di masyarakat.

Narcissists characterized by a highly positive or inflated self-concept. Narcissists use a range of intrapersonal and interpersonal strategies for maintaining positive self-views.(Campbell, Rudich,& Sedikies , 2002)

Kita melihat kata kunci dalam narsistik yaitu: konsep diri yang terlalu melambung. Alexander Lowen dalam bukunya Narcissism: Denial of The True Self mengatakan bahwa secara psikologis, individu sudah dikatakan narsis jika mencurahkan segenap daya upaya untuk membangun image dengan mengorbankan diri sendiri. Mereka sering menipu diri demi penampilan.

Narcissist are more concerned with how they appear rather than what they feel. Indeed they deny feeling that contradict the image they seek.(Alexander Lowen, 1985)

Konsep diri yang melambung dari orang narsis juga terlihat dari potret mereka seperti yang dideskripsikan Lowen (1985), bahwa tindakan mereka seringkali tanpa dipikir dan dirasa, manipulative, egois, haus kekuasaan dan ingin pegang kendali, tidak jujur dalam membawa diri dan tidak punya integritas.
<!–[if !supportLineBreakNewLine]–>
<!–[endif]–>

Sekilas tentang self esteem
Terjadi tumpang tindih antara narsistik dan selfesteem. Seringkali orang menyalahartikan definsi antara keduanya. Yang jelas, narsisme bersifat sebagai ancaman dan merusak karena terbentuk dari penilaian diri yang tidak realistik, rasional dan proporsional, sementara selfesteem (dalam kadar proporsional dan rasional / realistik) justru menguntungkan. Selfesteem merupakan derajat penilaian individu terhadap dirinya sendiri. Individu dengan selfesteem tinggi dan sehat akan menilai dirinya secara positif. Dalam interaksi dengan orang lain, ia biasanya percaya diri, dan cenderung mengarah sebagai orang yang tampil dan pemimpin dalam kelompok.

Ironisnya, individu yang memiliki selfesteem rendah memandang dirinya kurang. Perasaan kurang ini, bisa nyata, bisa persepsi dirinya semata. Bisa jadi sesungguhnya ia memang punya kemampuan dan cemerlang dalam skill tertentu; namun pada saat yang sama kehilangan kepercayaan diri.
<!–[if !supportLineBreakNewLine]–>
<!–[endif]–>

Self defeating behavior
Studi literature menunjukkan individu narsis memiliki perilaku seperti arogan, merendahkan orang lain, merespon ancaman ego dengan kekerasan dan agresivitas, menciptakan atribusi internal bagi kesuksesan (sukses karena kehebatan diri) dan sebaliknya atribusi eksternal ketika menghadapi kegagalan (gagal karena kesalahan lingkungan/pihak di luar diri sendiri), serta menilai masa depan secara berlebihan meski menghadapi kondisi yang tidak mendukung/kondusif.

Individu narsis juga tidak disukai oleh rekan sebaya/kelompoknya (meski biasanya telah menciptakan impresi diri positif) yang secara psikologis merasa dirugikan (Colvin, Block, & Funder, 1995 dalam Vazire & Funder,2006).

“In short, as they yearn and reach for self-affirmation,
[narcissists] destroy the very relationships on which they are dependent”
(Vazire & Funder, 2006).


<!–[endif]–>

Narsisime dalam kehidupan sosial
Salah satu ciri orang narsis adalah sikap yang berlebihan dalam menilai dirinya. Sifat berlebihan ini yang menyeret diri hingga merusak ikatan sosial dan mendistorsi sikap terhadap masa depan terkait pada estimasi (memperkirakan dan membaca rencana suksesnya).

Beberapa studi psikologi yang mengupas narsistik terkait dengan interaksi sosial sebagian besar menggambarkan hubungan yang tidak sehat dan distorted, corrupted karena karakter ini, di antaranya; fantasi tentang ketenaran atau kekuasaan (Raskin & Novacek, 1991 dalam Campbell, et al 2002), merespon kritik dengan kemarahan dan atribusi pencapaian diri (Campbell, Reeder, Sedikides, & Elliot, 2000; Far-well & Wohlwend-Lloyd, 1998; Rhodewalt & Morf,1996 dalam Campbell et al 2002), juga sikap merendahkan orang yang dianggap mengancam (Kernis & Sun, 1994 dalam Keith,2002). Narsistik juga kurang mampu menjaga komitmen dan memberikan perhatian dalam interaksinya dengan orang lain (Campbell, 1999; Campbell & Foster, 2001 dalam Campbell et al, 2002).

Pada perkembangan lingkungan sosial yang dinamis, kadang kita sering mendengar istilah narsis yang agak bergeser dari makna sesungguhnya. Narsis dalam bahasa gaul, menunjuk pada gaya humor antar individu yang berfungsi untuk mendorong kepercayaan diri dan penilaian diri positif, baik pada si subjek atau lawan bicaranya. Padahal seperti telah di bahas sebelumnya, bahwa seorang yang narsis punya tolok ukur yang tidak rasional-proporsional dalam menilai dirinya, baik secara individual maupun dalam interaksi sosial.

Gambaran individu narsis di atas bukan berarti susah dijumpai di lingkungan sosial kita. Orang-orang ini lebih dikenal sebagai orang sombong, yang cenderung mementingkan dirinya sendiri, menyelamatkan dirinya sendiri, kurang peka bahkan tidak memedulikan orang lain. Sikapnya jauh dari menyenangkan bahkan bisa berbuat kekerasan (seperti kekerasan verbal) demi melindungi egonya yang dirasakan terancam.

Tetapi karakter narsisme tidak begitu saja terlihat dalam waktu singkat. Mungkin salah satu petunjuk kilatnya adalah, ketika menemukan orang yang dengan renyahnya meremehkan atau merendahkan orang lain guna meninggikan dirinya sendiri dalam percakapan. Tentu tidak sekedar dalam nuansa kalimat, tetapi juga dari sikap dan bahasa tubuhnya. Orang yang sensi dan gampang tersinggung kalau di kasih nasehat, apalagi di tegur.

Ciri ini juga dikenal dalam teori outgroup-ingroup di mana salah satu cara untuk meninggikan kelompok adalah dengan merendahkan kelompok lain. Pada kenyataannya, hal ini terkait pada selfesteem diri (kelompok) yang rendah sehingga sangat membutuhkan pihak lain untuk direndahkan/diinjak sehingga ia (kelompok) mendapatkan dampak perasaan lebih baik, lebih tinggi.

Pertanyaan untuk pekerjaan rumah (PR) kita, apakah kita sering menemui orang seperti ini, atau kita lah yang insan narsis di lingkungan kita? Bagaimana dengan kelompok sosial kita, bangsa kita?


<!–[if !supportLineBreakNewLine]–>
<!–[endif]–>

Literature

Vazire, Simine., Funder, David C. (2006) Impulsivity and the Self-Defeating Behavior of Narcissists. Personality and Social Psychology Review 2006, Vol. 10, No. 2, 154–165

Campbell,W. Keith., Rudich,Eric A., Sedikides,Constantine (2002) Narcissism, SelfEsteem, and the Positivity of Self-views: Two Portraits of Self-Love. PSPB, Vol. 28 No. 3, March 2002 358-368 © 2002 by the Society for Personality and Social Psychology, Inc.

http://en.wikipedia.org/wiki/Narcissus/mythology

Orang Narsis Punya Bakat Jadi Pemimpin

Kamis, 9 Oktober 2008 – 09:02 wib

textTEXT SIZE :  

Stefanus Yugo Hindarto – Okezone

<!–// <![CDATA[
OA_show(‘techno_Details_skyscraper’);
// ]]> –>

OHIOOrang yang memiliki perasaan mencintai diri sendiri secara berlebihan, atau lebih dikenal dengan sebutan orang narsis, ternyata memiliki kecenderungan menjadi seorang pemimpin.

Sikap menyayangi diri sendiri itu, membuat orang Narsis memiliki tingkat inisiatif yang tinggi sehingga berbakat untuk memimpin di berbagai, bidang termasuk politik.

Seperti dilansir Live Science, Kamis (9/10/2008), para psikolog dari Ohio State University telah meneliti sejumlah orang yang dikategorikan narsis dan menemukan kecenderungan itu. Tapi, psikolog tersebut belum dapat mengungkapkan apakah orang narsis mampu menjadi pemimpin yang baik.

Sikap egois yang dimiliki orang Narsis menunjukkan karakter orang yang kuat dan sulit untuk dipengaruhi orang lain. Psikolog mengungkapkan orang narsis jauh berbeda dengan orang yang memiliki kepercayaan diri tinggi (pede), karena pede yang berlebihan masih dapat mentolerir orang lain.

Orang yang cenderung narsis sangat menyukai kekuatan, egois, dan terkadang menarik perhatian orang banyak,” kata psikolog Ohio State University, Amy Brunell.

Menurut Brunell, penelitian dilakukan terhadap tiga kelompok. Dua kelompok adalah anak-anak pelajar dan mahasiswa, dan kelompok lainnya adalah para manajer perusahaan.

Pada studi pertama, psikolog mensurvei 432 pelajar yang dibagi kedalam empat grup berdasarkan latar belakang dan kecenderungan narsis masing-masing.  Sama seperti kelompok pertama, para psikolog kemudian menyurvei 400 pelajar dan membaginya ke dalam empat grup. Pada kelompok ini, tiap responden disuruh memilih 15 benda yang harus dibawa dari kapal yang sedang terdampar di sebuah pulau. Hasilnya kelompok yang memiliki kecenderungan narsis memilih barang-barang yang berbeda dengan orang non-narsis. Kebanyakan barang yang dipilih adalah barang kebutuhan diri sendiri.

Sedangkan pada penelitian kelompok ketiga, yaitu 150 manajer perusahaan, kelompok yang memiliki kecenderungan narsis memiliki kecenderungan kuat untuk menjadi pemimpin.

Selain itu Brunnell mengatakan hasil penelitian mengungkapkan orang narsis memiliki pendirian yang kuat dan memiliki bakat menjadi pemimpin. (srn)

http://72.14.235.132/search?q=cache:wU6VtaLQav0J:techno.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/10/09/56/152175/orang-narsis-punya-bakat-jadi-pemimpin+mengapa+orang+narsis+penelitian&hl=id&ct=clnk&cd=1&gl=id&client=firefox-a

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: