my life span development from prenatal till adolescence

20 November 2008 at 8:34 AM (Uncategorized)

MAKALAH PSIKOLOGI PERKEMBANGAN

“My Life Span Development”

–from prenatal till adolescence periode–

Cut Hani Bustanova (07 06 280 611)

Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

November 2008

PENDAHULUAN

Psikologi Perkembangan manusia adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia yang merupakan proses yang selalu berlangsung berubah-ubah sekaligus stabil. Pada abad ke-19, penelitian ilmiah mengenai perkembangan manusia sudah dimulai terutama pada perkembangan kanak-kanak, kemudian berlanjut sampai perkembangan orang dewasa. Pada dasarnya, tujuan mempelajari perkembangan manusia adalah untuk menggambarkan (to decribe), menjelaskan (to explain), memprediksi (to predict), dan memodifikasi (to modify) perilaku manusia itu sendiri. Untuk itu, metode penelitian yang paling sering digunakan yaitu penelitian longitudinal sebab merupakan metode penelitian yang paling tepat untuk menjelaskan perkembangan yang berlangsung terus-menerus dari awal sampai akhir kehidupan manusia.

Berkaitan dengan ini, Baltes dalam Papalia menyatakan 6 konsep perkembangan yaitu: perkembangan berlangsung terus-menerus, perkembangan mencakup aspek peningkatan maupun penguranga, perkembangan dipengaruhi oleh faktor-faktor biologis dan unsur budaya, perkembangan dipengaruhi latar belakang sejarah dan konteks budaya, perkembanagn menunjukan plasticity, perkembangan mencakup perubahan sumber-sumber dalam kehidupan. Sesuai dengan pernyataan Batles, perkembangan manusia dipengaruhi oleh faktor hereditas dan lingkungan. Faktor hereditas berasal dari gen kedua orang tua seseorang sedangkan faktor lingkungan antara lain keluarga, status sosial ekonomi dan lingkungan rumah, budaya dan etnis, latar belakang sejarah, asupan gizi, pemeliharaan kesehatan, dan pendidikan yang ditempuh seseorang.

Dalam ilmu psikologi perkembangan manusia, dikenal lima perspektif besar, yaitu: 1) perspektif psikoanalitis yang dipelopori oleh Freud’s dan Erikson; 2) perspektif belajar yang dipelopori oleh Bandura, Watson, dan Skinner; 3) perspektif kognitif yang dipelopori Piaget dan Vygotsky; 4) perspektif evolusi/sosiobiologi yang dipelopori oleh Wilson; 5) perspektif kontekstual yang dipelopori oleh Bronfenbrenner. Kelima perspektif ini saling melengkapi satu sama lain untuk menjelaskan tahapan perkembangan manusia. Selain itu, perkembangan manusia dapat dipelajari berdasarkan tiga sudut pandang penting, yaitu: perkembangan fisik, perlembangan kognitif, dan perkembangan psikososial dimana tiap sudut pandang saling mempengaruhi satu sama lain.

Seperti yang telah penulis paparkan sebelumnya, perkembangan bermula dalam rahim ibu sampai dengan akhir kehidupan yang ditandai dengan kematian seseorang. Untuk itu, agar dapat dipelajari secara sistematis dan rinci, Papalia (2007) membagi perkembangan manusia ke dalam delapan periode kehidupan, yakni: 1) bayi dan 3 tahun pertama kehidupan; 2) masa kanak-kanak awal; 3) masa kanak-kanak pertengahan; 4) masa remaja; 5) masa dewasa muda; 6) masa dewasa madya; 7) masa dewasa akhir. Namun dalam makalah ini penulis hanya akan menuliskan perkembangan kehidupan sampai pada masa remaja saja, mengingat usia penulis yang baru menginjak 19 tahun.

ISI

I. Masa Prenatal dan Bayi (Infancy)

Informasi mengenai perkembangan masa prenatal dan bayi diri saya peroleh dari ayah, sebab ibu saya telah meninggal dunia. Berdasarkan keterangan ayah, ketika ibu mengetahui bahwa beliau hamil, usia kandungannya sudah berjalan tiga minggu (Embryonic Stage) dan beliau saaat itu berusia 25 tahun. Kemudian ketika usia kandungannya menginjak 4 bulan, Ibu mulai merasakan janin sedikit bergerak dan pada bulan ke tujuh kehamilan, gerakan janin terasa makin sering dan kuat, ditandai dengan gerakan kaki menendang perut ibu (Fetal Stage) yang terus berlangsung sampai proses kelahiran.

Ibu saya menyuplai asupan gizi yang baik untuk bayinya namun menurut ayah beliau suka sekali memakan soto yang bergajih, selain itu beliau mengonsumsi vitamin penyubur kandungan. Saat itu, berat badan ibu sekitar 45 kg dan bertambah menjadi sekitar 65 kg. Ibu saya juga aktif mengajar di suatu SD (5 hari dalam satu minggu), namun beliau tidak mengalami stress kerja. Beliau juga tidak sedang mengonsumsi obat-obatan karena penyakit tertentu, walaupun setahun sebelum saya lahir, beliau menjalani operasi usus buntu. Sedangkan ayah saya secara fisik maupun psikologis memberikan pengaruh yang baik terhadap perkembangan janin ibu. Lingkungan tempat tinggal orang tua saya juga cukup kondusif, jauh dari kebisingan dan polusi udara. Sehingga janin yang dikandung ibu tidak mendapat pengaruh pada masa prenatal ini.

Selanjutnya setelah sembilan bulan beberapa hari, tepatnya tanggal 12 Juli 1989, melahirkan saya dengan cara normal. Sayangnya, ayah saya tidak mengetahui secara persis tahapan melahirkan yang dialami ibu, karena beliau tidak ada di damping Ibu ketika itu. Keadaan fisik saya ketika baru dilahirkan adalah sebagai berikut: panjang tubuh 52 cm, berat badan 3,2 kg, kepala agak lonjong, wajah putih (asumsi ayah disebabkan oleh gajih), rambut tebal, dan pernapasan serta pencernaan berfungsi dengan normal, sebagai tambahan mata saya sudah terbuka dan saya juga menangis ketika dilahirkan. Secara keseluruhan, saya lahir sebagai bayi yang sehat dan normal. Menurut ayah, beliau mendapatkan dokumen tertulis (semacam Apgar Scale) ketika saya lahir, namun saat ini dokumen tersebut tidak dapat ditemukan.

II. Masa Tiga Tahun Pertama Kehidupan (The First Three Years)

Masa tiga tahun pertama kehidupan saya berlangsung di sebuah rumah di jalan Andara Pondok Labu. Selama tiga tahun pertama kehidupan, waktu tidur saya berjalan normal (sekitar 3-4 kali sehari). Ibu saya memberikan ASI hanya sampai usia dua bulan, karena beliau tidak menghasilkan ASI yang cukup dan memiliki aktivitas mengajar dengan intensitas cukup tinggi sehingga saya diberikan susu botol sebagai penggganti. Selain itu, Ibu juga rutin membawa saya ke posyandu untuk mendapatkan imunisasi dan melaksanakan imunisasi secara bertahap dan lengkap. Perkembangan bahasa yang saya alami adalah sebagai berikut: babbling ketika usia sekitar 4-5 bulan, penggunaan gesture mulai pada usia 7-8 bulan, first word timbul pada 8-9 bulan dan first sentences pada usia 15 bulan. Pada usia sekitar 18 bulan saya sudah sangat ‘cerewet’ berbicara (naming explosion). Pada usia 18 bulan juga saya sudah bisa berjalan. Perkembangan psikososial yang terjadi pada diri saya secara umum berjalan normal. Saya menangis, tersenyum, dan tertawa seperti anak yang lain. Namun saya memiliki temperamen difficult children, karena saya akan marah jika orang lain mencolek atau mengganggu saya dan akan secara agresif memukulnya atau menunjukan ekspresi wajah tidak suka namun jika sudah kenal dekat saya tidak akan berperilaku demikian. Mengenai perkembangan kognitif, saya tidak dapat memaparkannya secara rinci, tetapi secara umum saya tidak mengalami gangguan fungsi kognitif dan memiliki tahap perkembangan yang relatif sama dengan bayi-bayi lain.

Saya meraih trust dari kedua orang tua, terutama dari ayah sebab setahun setelah saya lahir Ibu saya sering menderita sakit yang berhubungan dengan pernapasan, yang akhirnya divonis mengidap kanker paru-paru sehingga saya jarang sekali tidur dengan ibu melainkan dengan ayah. Dengan demikian, saya mendapatkan secure attachment dengan ayah, dibuktikan dengan ketika ayah akan berangkat ke kantor saya akan menangis sebelum diajak berkeliling gang satu kali dengan motor begitupula ketika beliau pulang saya sangat antusias menyambutnya. Walaupun demikian, saya juga sering berjalan-jalan ke supermarket dengan ibu pada akhir pekan. Selain itu, saya juga mengalami stranger dan separation anxiety ketika berhadapan dengan orang yang baru saya temui dan merasa sedih ketika pengasuh saya pergi meninggalkan saya, sebab di samping ayah saya juga diasuh oleh pembantu dan saya mengalami mutual regulation dengan pengasuh tersebut.

Saya juga termasuk anak yang memiliki autonomi dan self-control yang cukup baik ditandai dengan kebiasaan saya buang air kecil sebelum tidur yang diinternalisasikan dan disosialisasikan oleh ibu saya. Proses sosialisasi dan internalisasi lainnya antara lain membiasakan cium tangan dan makan dengan tangan kanan. Pada masa tiga tahun pertama kehidupan ini, saya juga dikaruniai seorang adik yang yang jaraknya dua tahun. Hubungan saya dengan adik berlangsung dengan cukup baik walau saya lebih aktif dan dia lebih pendiam.

III. Masa Kanak-kanak Awal (Early Childhood)

Perkembangan fisik saya pada masa ini berlangsung dengan normal. Saya memiliki tinggi yang normal dan berat badan cukup gemuk. Gigi susu pertama saya tumbuh ketika saya berusia 15 bulan. Demikian pula dengan pola tidur, saya tidak mengalami gangguan tidur dan pada usia dua tahun sudah jarang mengompol di tempat tidur. Namun, saya justru sering mengalami gangguan tidur berupa sleep walking dan sleep talking pada masa middle childhood bahkan beberapa kali pada masa awal adolescence, walaupun tidak terjadi setiap malam. Perkembangan motorik saya berkembang secara seimbang antara gross motor skills dan fine motor skills, karena saya senang bermain mainan yang ada di TK (ayunan, jungkat-jungkit, dan sebagainya) dan juga senang menggambar namun saya tidak dapat mengambarkan secara rinci artistic development yang ada pada diri saya. Saya juga menggunakan tangan kanan untuk menulis dan melakukan kegiatan-kegiatan lain karena ibu saya mengajarkan demikian. Mengenai isu kesehatan, saya pernah satu kali mengalami kecelakaan mobil yang mengakibatkan kulit kepala saya robek dan harus dijahit, tetapi hal itu tidak berdampak negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan otak saya. Begitupula dengan lingkungan, secara umum lingkungan memberikan sumbangan positif pada perkembangan fisik saya. Hal ini ditandai dengan status pekerjaan ayah sebagai pegawai negeri sipil golongan dua yang mendukung status sosial ekonomi keluarga saya dan lingkungan perumahan komplek yang cukup aman dan kondusif meskipun pada usia empat tahun saya berpindah rumah dari Pondok Labu ke Pamulang. Kebiasan buruk yang saya lakukan pada masa ini adalah menghisap dan mengigit jari jempol, yang berawal pada masa early childhood. Kebiasaan ini terus berlangsung sampai sekarang (19 tahun), terutama ketika saya sedang belajar atau membaca buku. Saya juga paling takut dengan kecoa dan ketakutan ini tetap ada sampai masa kuliah. Hal ini menunjukan bahwa dalam aspek perkembangan manusia seseuatu terjadi secara terua menerus.

Berikutnya paragraf ini akan berisi tentang perkembangan kognitif saya selama early childhood menurut teori kognitif Piaget dan Information Processing Theory dan perkembangan berbahasa. Berdasarkan ingatan ayah, saya sudah mampu menggunakan fungsi simbolik sebab saya sudah dapat meminta pergi ke pasar swalayan untuk bermain permainan tertentu dan saya juga sudah dapat berhitung secara berurutan dari angka satu sampai sepuluh sebelum berusia empat tahun. Mengenai fungsi kognitif lain, saya belum memperoleh informasi yang cukup jelas dan rinci. Namun demikian saya juga menderita egocentrism dan conservation seperti anak lainnya. Selain itu, saya juga sudah mampu menggunakan generic memory, karena pada usia 4-5 tahun saya sudah tahu jalan pulang dari TK ke rumah, yang berjarak 200 meter, tanpa perlu ditemani pengasuh atau ibu. Mengenai perkembangan bahasa, saya sering menyebut diri saya dengan nama panggilan ”Hani” bukan saya atau aku, namun panggilan itu memiliki maksud yang sama dan menunjukan perkembangan grammar dan syntax yang baik.

Terakhir mengenai perkembangan psikososial, selama masa early childhood saya sudah sering mengikuti dan memenangkan berbagai macam perlombaan sehingga dapat dikatakan memiliki self-esteem yang tinggi dan initiative yang tinggi. Sedangkan mengenai isu gender, kedua orang tua saya sudah mengenalkan identitas gender sebagai perempuan, peran-peran sebagai perempuan dengan membelikan mainan-mainan berupa masak-masakan dan boneka. Pada tahap ini, saya juga sudah mampu constructive dan pretend play yang ditandai dengan kesukaan saya mewarnai gambar dan bermain masak-masakan. Pola asuh yang diterapkan oleh orang tua saya saat itu adalah autoritatif, sebab biasanya mereka mengajak berenang sebagai reinforcement ketika saya meraih suatu prestasi dan cenderung menggunakan verbal expression dan terkadang withdrawal of love (dengan mengurung saya di kamar mandi) ketika melakukan kesalahan sebagai bentuk punishment yang mereka lakukan untuk membentuk disiplin pada diri saya. Perilaku prososial dan agresi jarang muncul pada saat saya berada pada tahap ini. Saya juga tidak memiliki ketakutan yang berlebihan, menurut ayah, saya hanya takut pada jarum suntik. Hubungan saya dengan orang lain selain orang tua dan pengasuh juga sangat baik terutama dengan adik kandung dan teman-teman bermain di TK.

IV. Masa Kanak-kanak Pertengahan (Middle Childhood)

Masa Middle Childhood saya berlangsung cukup singkat, hanya 5 tahun (6-10 tahun) sehingga saya masuk ke masa Adolescence lebih awal. Saya tetap memiliki tubuh yang cukup gemuk sampai usia sekitar 7 atau 8 tahun dan dengan tinggi badan yang seimbang. Karena hal tersebut saya dipanggil”Atun” oleh teman-teman sekolah dan tukang sampah di komplek. Saya juga mendapatkan asupan gizi yang cukup baik karena sampai kelas 5 SD selalu diwajibkan minum susu dan sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolah. Namun demikian, saya sempat berobat jalan selama 6 bulan saat kelas 2 SD untuk menghilangkan penyakit paru-paru basah yang berasal dari ibu kandung saya, selebihnya saya beberapa kali mengalami gejala tipes, penyakit pencernaan, dan kecelakaan kecil. Pada usia 6 sampai 9 tahun saya ‘wajib’ tidur siang sekitar 2-3 jam perhari namun ketika menginjak usia 10 tahun kewajiban itu perlahan mengendur berganti kegiatan ekstrakurikuler yang saya ikuti di sekolah. Karena kesibukan kegiatan sekolah dan ekstrakurikuler (pramuka dan seni tari), berat badan saya perlahan turun. Ketika masa ini, saya senang sekali bermain sega (semacam play station) dan lompat tali dengan teman-teman di sekolah.

Saya diterima di Madrasah Ibtidaiyah Pembangunan UIN JAKArta (sekolah islam swasta) pada Juli 1995, saat itu saya sudah memiliki kemampuan akademik dasar yang dibutuhkan untuk memasuki sekolah dasar yakni membaca, menulis, dan berhitung yang berada di tingkat rata-rata. Selanjutnya, saya memang cenderung meraih prestasi yang cukup baik selama kelas 1 sampai kelas 4 SD. Ketika kelas tiga SD saya sudah mampu menghafal dan mengoperasikan pertambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian di luar kepala. Saya juga senang sekali mengarang yang menuntut kemampuan induksi maupun deduksi, saya sudah mengetahui rute-rute perjalanan dalam komplek perumahan dimana tempat-tempat strategis berada seperti restoran, toko buku, swalayan, masjid dan sebagainya. Sejak kelas 1 sampai 4 SD, saya selalu mendapat ranking sepuluh besar di kelas, hal ini menunjukan perkembangan kognitif saya berlangsung dengan baik. Beberapa hal yang mempengaruhi prestasi saya di sekolah adalah self-efficacy yang tinggi, ibu yang selalu mendukung dan membantu belajar, guru private yang sempat mengajar saat masa-masa awal setelah ibu saya meninggal, status sosial ekonomi keluarga saya yang cukup baik dan juga sistem pendidikan di sekolah yang sangat menunjang.

Ayah saya selalu menyediakan banyak buku bacaan, baik fiksi maupun non-fiksi, karena beliau memang bekerja di bidang pendidikan dan mempunyai banyak teman yang bekerja di bidang penerbitan buku. Hal inilah yang meningkatkan perkembangan bahasa saya sejak masa ini dan berlanjut sampai adolescence nanti. Karena banyak membaca buku, saya mengetahui lebih banyak kata kerja dan istilah-istilah tertentu (pragmatics) dan kemampuan ini saya salurkan melalui bentuk karangan dan puisi.

Perkembangan psikososial saya berjalan baik dan normal. Ketika kelas 4 SD saya sudah merasa sangat pandai pada pelajaran bahasa Indonesia dan ilmu sosial, dan ilmu alam dan merasa tidak terlalu pandai pada pelajaran matematika, saat itu saya sudah mengembangkan representational system. Saya juga memiliki self-esteem yang tinggi sebab saya suka menjadi pemimpin pada upacara hari senin, mengikuti pertunjukan tari, dan kegiatan pramuka. Hal tersebut juga menunjukan saya sudah dapat memperoleh rasa bangga. Saya juga memiliki rasa peduli yang tinggi pada teman-teman saya dan cenderung berperilaku prososial pada berbagai kesempatan. Ditandai dengan seringnya saya meminjamkan catatan atau PR kepada teman yang meminta.

Di dalam keluarga, saya merupakan anak pertama. Seharusnya jika kakak saya lahir dengan sempurna dan masih hidup saya menjadi anak kedua. Seperti yang sudah saya katakan pada awal tulisan, mendekati ulang tahun saya yang ke 7, Ibu saya meninggal dunia. Hal ini berdampak negatif pada pencapaian prestasi saya (saya meraih ranking terburuk (ranking 9) selama Sekolah Dasar saat kelas dua SD). Namun, dengan fasilitas guru private tambahan di rumah, saya dapat mempertahahan prestasi saya kembali. Kemudian untuk menghadirkan kembali peran ibu dan tentu saja mencukupi kebutuhan kami sekeluarga, ayah saya memutuskan untuk menikah kembali sebelum usia saya genap 8 tahun. Jadi saya mendapatkan figur seorang ibu kembali. Hubungan yang terjalin antara saya dan orang tua tidak sedekat waktu saya berada pada masa tiga tahun pertama kehidupan. Saya jarang sekali bertukar pikiran dengan ayah begitu juga ibu sambung saya. Namun selama periode ini, saya tidak pernah mengalami konflik yang cukup berarti dengan keduanya. Pada masa ini, saya sering sekali bertengkar dengan adik saya, seringkali kami merasa iri satu sama lain, mungkin karena jarak usia yang dekat atau perlakuan ayah yang selalu memuji-muji saya di depan keluarga besar dan relasinya yang tidak beliau lakukan terhadap adik saya yang memang selama masa Middle Childhood tidak menunjukan prestasi belajar yang cukup signifikan. Terkadang ayah saya menggunakan hukuman fisik ketika pertengkaran kami sudah melewati batas atau membuatnya sangat jengkel dan kesal sehingga kami merasa takut dan enggan berbagi cerita dengan ayah. Ibu sambung saya termasuk orang yang pendiam, beliau jarang berbicara dan bercengkrama dengan kami sehingga ketika ada konflik antara kami dan ayah beliau cenderung diam dan tidak berani membela kami. Dalam hal ini, ayah saya menganut pola asuh autoritarian. Dimana kami dilarang keras bermain ke rumah teman seusai pulang sekolah dan hal ini terus berlanjut sampai masa Adolescence.

Di sisi lain, saya tidak pernah memiliki peer masa ini, saya hanya memiliki satu sahabat yang dekat sekali ketika kelas 3 SD yang bernama Tika. Selebihnya hubungan saya dengan teman-teman relatif baik tidak hanya pada satu orang namun beberapa orang. Berdasarkan isu popularitas, saya termasuk anak yang dikenal punya popularitas yang baik karena prestasi dan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang saya ikuti.

V. Masa Remaja (Adolescence)

Seperti yang telah saya sampaikan pada tahap middle childhood, saya mengawali masa remaja pada usia 10 tahun. Saya mengalami menarche tepatnya tanggal 10 April 1999. Beberapa bulan sebelum menarche, rambut kelamin dan ketiak saya telah tumbuh walaupun jumlahnya sedikit, payudara saya juga sudah membesar. Namun saya mengalami kelainan fisik yakni puting payudara saya tidak tumbuh sempurna (cenderung terlihat seperti tidak memiliki puting). Pertumbuhan fisik saya juga cukup normal dengan berat badan berkisar antara 45-52 kg selama usia 10-19 tahun dan tinggi badan 157 sentimeter. Ketika mengalami menarche pertama saya mengalami sakit perut, namun selang 5-6 tahun berikutnya saya jarang sekali mengalami sakit perut. Saya mengalami PMS seperti remaja wanita lain, yang biasanya ditandai dengan kecenerungan untuk lebih emosional dan ingin selalu marah dan akhirnya menangis. Anehnya, pada masa akhir SMA dan awal perkuliahan, saya makin sering menderita sakit perut karena haid pada hari-hari pertama haid.

Pada masa adolescence saya menjalani tiga tingkatan pendidikan, 2 tahun SD, 3 tahun SMP, dan 3 tahun SMA, danpada masa awal perkuliahan. Saya bersekolah di lembaga yang sama (Madrasah Pembangunan UIN Jakarta) selama SD dan SMP sedangkan pada saat SMA saya memilih Sekolah Negeri yang letaknya relatif jauh dari rumah (berjarak 18 km dari rumah). Setidaknya terdapat tiga kejadian penting menyangkut perpindahan tempat selama saya menjalani masa adolescence. Pertama, pada tahun 1999 (kelas 5 SD) saya pindah sekolah ke Madrasah Pembangunan Pusat yang terletak di kawasan Ciputat sehingga saya perlu mengendarai mobil jemputan sekolah untuk sampai ke sekolah (sejak kelas 1-4 saya bersekolah di cabangnya yang terletak di Pamulang). Kedua, pada akhir tahun 2000 (kelas 6 SD), kami sekeluarga pindah rumah ke komplek Pondok Hijau, Ciputat yang hanya berjarak sekitar 2 km dari sekolah sehingga cukup menggunakan ojek untuk sampai ke sekolah. Kami tetap tinggal di rumah ini sampai saya lulus SMA. Ketiga, pada pertengahan 2004 saya diterima di SMA 70 yang terletak di daerah Kebayoran Baru. Ketiga perpindahan ini mempengaruhi masa remaja saya baik dari segi fisik, kognitif, dan psikososial.

Ketika masa kelas 5-6 SD, saya pernah memiliki sahabat dan clique. Saya juga pernah mengalami ‘cinta monyet’ yang terkadang mempengaruhi prestasi saya walaupun pengaruh tersebut tidak signifikan. Selebihnya, akhir masa SD saya disibukkan dengan latihan dan belajar menghadapi UAN SD dan persiapan menuju SMP. Saya pernah beberapa kali mengalami depresi terutama saat awal masa adolescence. Suatu kali, di penghujung kelas 6 SD, saya pernah tidak pulang ke rumah dan berniat kabur dari rumah karena sudah pulang terlalu sore (mendekati magrib akibat bermain ke rumah teman), karena tidak tahu mau pergi kemana, saya berjalan dari rumah teman saya yang sekomplek ke rumah nenek saya yang terletak di dekat sekolah. Hal ini saya lakukan karena kebencian yang membuncah pada ayah saya yang begitu otoriter dan takut terkena hukuman karena pulang sekolah terlambat. Pada tahun-tahun berikutnya, perlahan perilaku ayah saya mulai membaik walaupun tidak secara spontan berubah. Di sini terlihat betapa pola asuh sangat berpengaruh pada perkembangan anak. Selain itu, aktivitas yang saya lakukan sepulang sekolah adalah mengikuti pengajian rutin dari hari Senin sampai Jumat. Saya memiliki satu orang sahabat bernama Momoh yang tidak pernah saya temui lagi sampai saat ini, karena kabarnya dia pindah ke kampungnya di Tasikmalaya. Persahabatan kami berlangsung sekitar 2 tahun ketika saya masih tinggal di Pamulang, saya sempat memberinya beberapa pakaian yang masih layak pakai, berhubung dia berasal dari keluarga dengan SES rendah (ketika itu ibunya bekerja sebagai buruh kerja di rumah saya). Nama lembaga pengajian itu adalah Raudhatul Al-Qut’an. Di tempat ini juga, sya mampu menghapal tiga juz pertama dan satu juz terakhir Al-Qur’an sehingga saya memperoleh penghargaan dan hadiah berupa satu set baju muslim.

Ketika masa SMP, saya tetap dapat mempertahankan prestasi dengan meraih ranking 10 besar selama tiga tahun berturut-turut. Ranking terburuk yang pernah saya raih adalah ranking lima ketika berada di kelas unggulan pada semester pertama kelas 3 SMP. Hal ini menunjukan perkembangan fungsi kognitif saya berkembang cukup baik. Sedangkan perkembangan cara berpikir saya yang belum matang (Elkind) pada masa ini yang paling menonjol adalah Idealism and criticalness, Argumentativeness, dan Indecisivenesss. Pada masa remaja inilah saya seringkali mengalami ‘perang mulut’ dengan ayah saya, saya bermaksud mengemukakan argumen-argumen namun ayah mengartikannya sebagai bentuk pembangkangan. Saya juga seringkali merasa lebih pandai daripada orang tua saya dan juga seringkali bingung menentukan pilihan namun di sisi lain sudah ingin memiliki kebebasan menentukan pilihan. Saya juga telah masuk pada tahap conventional morality, dimana saya berpikir harus tetap berperilaku baik dan menjadi anak yang pintar yang dapat membanggakan keluarga. Hal ini sering terjadi ketika saya ingin mengikuti beberapa macam ekstrakurikuler sekaligus yang dilarang oleh ayah saya sebab beliau khawatir akan mengganggu kesehatan fisik dan akhirnya berakibat buruk pada pencapaian prestasi. Pada satu titik, saya akhirnya harus memilih meninggalkan salah satu eksrakurikuler (yakni PASKHAND) dan tetap mengikuti KIR. Selama kelas 1 SMP aya mengikuti PASKHAND, dan saat kelas 2 SMP saya beralih mengikuti KIR dan bersahabat akrab sekali dengan Irma (teman sekelas dan se-ekskul). Pertemanan kami terus berlanjut sampai kelas 3. Hubungan kami semakin lama semakin dekat, karena selalu terlihat berdua di sekolah. Sampai masa SMA pun kami masih sering membina komunikasi yang baik walaupun berbeda sekolah.

Jika dilihat dari perkembangan bahasa, saya adalah remaja yang pandai membuat puisi, mengingat pada masa SMP saya sudah banyak membaca novel-novel karya Mira W yang ada di perpustakaan sekolah, saya juga suka membaca literatur berbau sastra Indonesia, sebaliknya komik yang pernah dan suka saya baca hanya Detective Conan. Puisi ini juga terkadang ‘curahat hati’ saya ketika sedang jatuh cinta, mengalami konflik dengan ayah maupun pacar. Suatu ketika saya ditawari menulis puisi dan membacakannya pada Hari Guru di SMAN 70. Walaupun performance saya tidak terlalu baik saat ‘berlaga ‘ di atas panggung saya tetap bangga pada diri saya sendiri.

Mengenai hubungan saya dengan pacar, saya memiliki riwayat tersendiri. Saya pertama kali pacaran pada usia 11 tahun (kelas 6 SD). Dan terus berlanjut sampai kelas 3 SMP. Selama 5 tahun tersebut (kelas 5 SD – kelas 3 SMP) saya sudah pernah 3 kali pacaran. Batasan-batasan seksual yang pernah saya lakukan adalah ciuman. Saya tidak berani mengambil risiko lebih jauh lagi. Saya memang mengetahui berbagai macam hal tentang seks dari berbagai sumber seperti film, novel, dan majalah namun pengaruh agama islam dan peraturan-peraturan yang dibuat oleh ayah saya mencegah saya melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.

Seperti yang telah saya sebutkan di atas, saya juga memiliki aktivitas fisik yang cukup banyak di samping belajar, yakni kegiatan ekstrakurikuler KIR dan PASKHAND (semacam Pecinta Alam). Saya sudah tidak setiap hari melakukan ‘ritual ‘ tidur siang. Namun di malam hari saya dapat memenuhi kebutuhan tidur saya. Terkadang saya senang bergadang pada beberapa hari menjelang ujian (UAN dan UAS) dan sepulang ujian saya membalasnya dengan tidur sampai sore. Saya tidak mengalami obesitas seperti pada awal Middle Childhood, walaupun saya tidak mengonsumsi susu setiap hari lagi, asupan gizi yang saya konsumsi cukup baik, karena saya jarang sekali memakan junkfood dan memang orang tua saya tidak memiliki kebiasaan memakan junkfood. Perkembangan fisik yang seperti ini terus berlanjut sampai saya lulus SMA.

Masa remaja saya terus berlanjut ke tingkat pendidikan SMA. Semasa SMA prestasi yang saya raih mengalami penurunan, yang mungkin disebabkan oleh iklim akademis SMA 70 yang merupakan SMA Unggulan Nasional sehingga saya harus bersaing dengan teman-teman saya yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Sistem pendidikannya pun berbeda, dimana tiap pelajaran memiliki nilai SKBM (Standard Ketuntasan Belajar Minimal) yang cukup tinggi minimal meraih nilai 70 pada tiap mata pelajaran. Pada pembagian raport aspek yang dinilai ada tiga: kognitif, afektif, dan psikomotor. Pada rapor tersebut juga sudah tidak ada ranking, yang terkadang kurang memotivasi saya untuk belajar lebih giat. Pada masa SMA saya disibukkan dengan belajar, mengikuti ekstrakurikuler PASKIBRA (TLUP SMAN 70), dan bebrapa macam kepanitian di tingkat sekolah. Saya memiliki kedekatan secara fisik dan emosional dengan teman-teman PASKIBRA karena kami sering sekali berlatih bersama dan mengikuti perlombaan. Moment terindah terakhir yang kita alami adalah menyelenggarakan suatu acara perlombaan PASKIBRA tingkat Jabodetabek “VAFOR”, dimana saya berperan sebgai Humas. Saya dan teman-teman satu angkatan juga menjadi pengurus TLUP SMAN selama satu periode (2005-2006). Namun sayangnya, menginjak bangku kuliah kami sudah jarang bertemu satu sama lain. Suatu hari, ketika kelas 2 SMA sekitar beberapa hari menjelang perlombaan di SMAN 90 , Petukangan Jakarta Selatan, saya mengidap cacar. Hal ini tentunya membuat saya sangat kesal dan sedih, karena tidak dapat mengikuti perlobaan tersebut dan mengecewakan teman-teman TLUP. Namun apa mau dikata, saya tetap sabar, dan cacar itu menghilang segera setelah sekitar 9 hari..

Pada masa SMA, saya merasa Ayah tetap mengasuh saya dengan pola asuh autoritarian. Saya tetap dimarahi kalau pulang terlalu malam karena latihan TLUP. Hal ini yang membuat saya sering berbohong dan berdalih dengan berbagai macam alasan ketika saya pulang terlambat karena bermain di rumah teman atau sekadar nonton film di Twenty One Blok M. Pada Masa akhir SMA saya ingin sekali menlanjutkan kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Keinginan ini sudah timbul sejak saya kelas 6 SD. Saya memang sudah bercita-cita ingin menjadi Psikolog sejak saat itu. Namun saya juga tertarik pada ilmu biologi dan sastra indonesia. Ayah yang notabene orang yang berkecimpung dalam pendidikan (Pegawai Negeri DEPDIKNAS) juga sudah merencanakan saya harus dapat kuliah di UI jauh-jauh hari ketika saya masih di SD. Bahkan saya ingat, ketika saya SD, beliau sudah merencanakan saya harus melanjutkan SMP ke Madrasah Tsanawiyah Pembangunan, SMA ke SMAN 70 atau Al-Azhar, dan tentu saja kuliah di Universitas Indonesia. Alhamdulillah sampai pada tahap SMA keinginan ayah itu terkabul. Hal ini karena saya menyetujui dan sejalan dengan pemikiran ayah. Di sini terlihat jelas motivasi eksternal dan internal seseorang sangat berpengaruh dalam meraih keberhasilan belajar seseorang.

Pada masa SMA saya sempat ‘dicekoki’ oleh ayah harus bisa mengejar Fakultas Kedokteran UI, saya memang tidak membenci jurusan itu, namun minat saya lebih tinggi pada ilmu Psikologi. Akhirnya, pada tahun terakhir SMA, ayah dapat mengerti dan mengizinkan saya memilih psikologi sebagai pilihan pertama SPMB. Perjuangan saya masih terus berlangsung, ayah saya menyarankan mengambil program IPC (Ilmu Pengetahunan Campuran) agar dapat mengambil ilmu kedokteran walau tujuannya bukan UI melainkan UIN yang letaknya dekat dengan rumah. Namun saya berhasil meyakinkan bahwa saya tidak mampu belajar keduanya yakni IPA dan IPS. Dan akhirnya kami berdua sepakat mengambil jalan tengah, yakni pilihan jurusan Ilmu social dengan kombinasi keinginan saya pada pilihan pertama dan saran ayah pada pilihan kedua. Pilihan saya adalah Psikologi UI dan Sastra Inggris UNS. Dan alhamdulillah saya dapat membuktikan dan membuat ayah dan tentu saja seluruh keluarga saya bangga dengan keberhasilan saya masuk F. Psikologi UI. Berdasarkan wacana di atas, saya mengalami Identity Achievement. Selain itu, saya juga akhirnya meraih Identity dengan virtue kepercayaan yang lambat laun saya peroleh dari ayah.

Peraihan identitas ini terus berlanjut sampai sekarang, ketika saya menginjak bangku kuliah di UI. Saya merasa semakin punya kebebasan sekaligus tanggung jawab yang besar dalam berbagai bidang kehidupan misalnya mengatur uang mingguan kos, mengatur pola makan, mengatur waktu pulang malam. Dimana terkadang saya ‘mambandel’ dan memilih menginap di rumah teman yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan ketika saya berada di rumah.

Selama masa SMA saya tidak pernah berpacaran, saya hanya memiliki ’gebetan’ yang merupakan teman akrab di TLUP. Namun menjelang awal perkuliahan saya malah sering bergonta-ganti pacar. Mungkin karana saya lebih meraih kebebasan dengan tinggal di tempat kost di daerah Kober, Depok.

KESIMPULAN

Secara umum perkembangan saya berlangsung normal. Aspek kognitif perkembangan saya berlangsung sangat baik, dibuktikan dengan prestasi-prestasi yang telah saya raih sejak TK, SD, SMP, dan SMA. Aspek fisik saya juga demikian, hanya saja saya cenderung memiliki tinggi badan yang kurang proprosional dan akhir-akhir ini selama masa kuliah, saya cenderung kurang menjaga pola makan dan asupan gizi karena kesibukan kuliah dan status sebagai anak kos. Perkembangan puting payudara saya juga dapat dikatakan tidak sempurna. Saya juga masih mengalami gangguan tidur sleep talking sampai masa adolescence akhir (usia 18 tahun). Pada aspek psikososial, saya mendapat pengaruh dari pola pengasuhan ayah yang cukup dominan sedangkan ibu yang hampir tidak memiliki andil dalam kehidupan. Ayah cenderung mengasuh dengan pola autoritatif walaupun semakin dewasa beliau semakin mengerti dan hubungan kami semakin membaik mungkin saja karena kami hanya bertemu semingggu atau dua minggu sekali. Selain itu, keberadaan ibu tiri tidak terlalu berarti bagi perkembangan psikososial, beliau hanya memenuhi kebutuhan fisik kami (saya dan adik), saya merindukan figure seorang ibu, terutama untuk memahami hal-hal yang berkaitan dengan isu-isu seksualitas. Sedangkan hubungan dengan teman, sahabat dan lawan jenis relatif cukup baik pada masa TK sampai dengan awal perkuliahan (early childhood – adolescence).

Menurut saya, walaupun saya sudah meriah keberhasilan pendidikan, saya masih sering labil dalam menjalani kehidupan. Walaupun usia saya sudah 19 tahun, ketidakmatangan berpikir pada remaja masih saya rasakan dan terbawa sampai ke masa perkuliahan saat ini misalnya indeciveneness dan self-cosciousness. Selain itu, sesuai dengan prinsip perkembangan Baltes, banyak aspek dari perkembangan diri saya yang tetap ada seperti kemampuan berbahasa yang tinggi dan sekaligus berkurang seperti sifat emosional yang sangat terasa pada masa SMA dan intensitasnya berkurang pada awal perkuliahan.

REFERENSI

Papalia, Diane E., Olds, W. Sally & Feldman D. Ruth. (2007). Human

Development 10th Edition. New York: McGraw-Hill Companies, Inc.

LAMPIRAN

Berisi foto dan puisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: