subhanallah
nilah makalah psibang gw udah keluar dan gw dapet A oh indahnya…
tapi cm 83,95
besok paling ga gw mesti dapet 85
my first diary
<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
Rako prijanto
Kulari
Ke hutan kemudian teriakku
Kulari ke pantai kemudian menyanyiku
Sepi…Sepi…dan sendiri aku benci
Aku ingin bingar aku mau di pasar
Bosan aku dengan penat
Dan enyah saja kau pekat
Seperti berjelaga kusendiri
…………Pecahkan saja gelasnya biar ramai………………….
Biar mengaduh sampai gaduh
Aih…Ada malaikat menyulam
Jaring laba-laba belang di tembok
Putih keraton
Kenapa tak goyangkan saja…loncengnya…
Biar terdera
Atau aku harus lari ke pantai
Belok ke hutan
Tuhanku
Chairil Anwar
Tuhanku
dalam termangu
Aku masih menyebut nama-Mu
Biar susah sungguh
Mengingat kau penuh seluruh
Caya-Mu panas suci
Tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk
Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
Di pintu-Mu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling
Sungguh hati muslim dipatri cinta nabi
Dialah pangkal mulia
Sumber bangga kita di dunia
Dia tidur di atas tikar kasar
Sedang umatnya mengguncang tahta kisra
Inilah pemimpin bermalam-malam terjaga
Di gua hira ia bermalam
Sehingga tegak bangsa, hukum, dan negara
Kala Shalat, pelupuknya tergenak air mata
Di medan perang, pedangnya bersimbah darah
Di bukanya pintu dunia dengan kunci agama
Duhai, belum pernah insan melahirkan putra
Semacam dia
Dance me to your heart
Keep me safely in
Dance me to the fire
Flames burning
Music of desire
Dence to the night
Stars shining
Under the moonlight
Dance me to the dawn
Morning bright
Hear the wind sing our song
Dance me to the sky
Soaring free
Give me wings to fly
Dance me to your heart
Keep me safely in
Dance with me in your heart
If I could
If I could
I would always tell the truth
I would always love you
From the heart
If I could
I would take you in my arms
Take you inside
Into my heart
If I could
I would be the place you turn to
When you are feeling lonelyor afraid
I would shine
Like a latern in the dark
Take you inside
Into my heart
When you feel as if
You didn’t know who you are
I’ll remind you with my love
If I could
I would always keep you safe
Take you inside
Into my heart
When you feel as if
You simply couldn’t go on
I’ll remind you that you are strong
If I could
I would love you as you are
Take you inside Into my heart into my arms…into my life
Puisi Putih
Maybe, in another time…
You might hear me
Above the din of crowd’s approval
The tiny little song beneath the roar
Perhaps, in some other place
You may see me
Out there beyond the glaring footlights
Shining bright and true
Here I am…just me…my self
Nothing to hide, no games to play
Perhaps If I knew the rules
The dance…The script…
Someday in a warmer space
You will feel me
As others clamour to touch your robe
I’ll will be in the wings…
Waiting.
….
Cut Hani Bustanova
Huuuhh…..Hidup itu kosong
Tak secerah kukira
Menjebakku
Rangkaian malu menutup rasa
Tertahan di sanubari
Rasa dari mata turun ke hati
Tak henti menggebu merayapkemudian menjalar
Aku mati….
Diletih sahutan
Menjemput penyesalan
Menghampiri kebimbangan
Meninggalkan kesenduan
Bersemu maya…
Entah…mengapa aku benci dan heehh…..
Sulit diterangkan
Aku masih satu dan bisu
2003
Rako Prijanto
Ketika tunas itu tumbuh
Serupa tubuh yang membakar
Setiap nafas yang terhembus
Angan…..debur dan emosi
Bersatu dalam jubah bertautan
Tangan kita terikat, lidah kita menyatu
Maka setiap kata yang terucap
Adalah sabda pandita ratu
Huhh…..dalam ini pasir luar itu debu
Hanya angin meniup saj alalu terbang
Hilang tak ada
Tapi kita tetap menari
Menari…Cuma kita yang tahu
Jiwa ini tandu
Maka duduk saja
Maka akan kita bawa
Semua…
Karna kita adalah satu
sPideR “DiK”
If 10 cares for you I’ll be the one of them
If theres only one I’ll be that one
If Nobody cares for you
That mean
I’m not in this world anymore
Rako Prijanto
Perempuan datang atas nama cinta
Bunda pergi karena cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajar
Seperti bulan
Lelap tidur di hatimu yang berdinding kelam
Ada apa dengannya?
Meninggalkan hati untuk dicaci
Baru sekali ini
Aku lihat surga dari mata seorang hawa
Ada apa dengan cinta?
Tapi aku pasti kembali
Dalam atu purnama
Untuk mempertanyakan kembali cintanya
Bukan untuknya bukan untuk siapa
Tapi untukku
Karena aku ingin kamu
Itu saja…
Guru Kehidupan
Juftazani
Dekatlah dengan kematian
Karna kematian guru kehidupan
Di jalanan
Orang-orang berseteru dengan kematian
Tapi di medan pertempuran
Serdadu persahabatan dengan kematian
Agar ruh mereka
Mampu mempertahankan negeri
Dari balik tubuh mereka yang nisbi
Betapa banyak filsuf mendefinisikan kematian
Tapi selalu gagal menolaknya
Betapa banyak orator, ulama, pendeta
Berapi-api mengkhotbahkan kematian
Tapi mereka tak mampu menghindarinya
Jika kematian guru kehidupan
Mengapa hidup tak pernah belajar kepadanya
Bila kematian gerbang kehidupan
Mengapa orang-orang selalu menghindar darinya
Kematian adalah kegembiraan
Mengapa orang selalu bersedih menerimanya
MABUK
Juftazani
Namun tatkala kau ulurkan jemari tanganmu
Aku hendak melepaskan diri
Karena ombak dan gelombang
Menghempas bulan dan matahari
Namun kasihmu teramat abadi
Kau beri aku limpahan kasih
Ddari cinta yang terpandar dari pancaran matamu
Sajadah yang terbentang di lembaran awan
Menari dan minta anggur secawan
Dari cahaya yang tak pernah tertawan
O lingua franca yang menyatukan manusia
Aku menyanyikan semesta
Yang menyimpan kemabukan
Menyandera luka dan kepiluan
Kelembutan IBUNDA
Juftazani
Adalah kehancuran yang menjanjikan jiwa
Pada tasbih semesta dan duka abadi
Seperti juga tentara yang mati
Menjanjikan kebebasan dan pahlawan negeri
Bertasbihlah karena duka
Terhempas dari ketinggian surga
Ke jurang dunia
Bisakah aku bertasbih
Seperti yunus yang terlunta
Bisakah Muhammad berdakwah penuh kekerasan?
Padahal berpuluh nabi
Telah mengajarkan umatnya pada ketidaksabaran?
Adalah kelembutan yang menjanjikan keabadian
Seperti juga Khadijah
Melembutkan jiwa Muhammad yang gelisah
Setelah dipapar cahaya di gua sunyi
Dan Ibunda abadi
Meninggalkan pesan yang sangat mendalam
Pada jiwa Muhammad yang tak pernah padam
Dua februari dua ribu tiga
Cut hany Bustanova
”Dengan nama Tuhanku yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang”
Heran
Aku tersenyum
Huhhhff…setidaknya berusaha untuk slalu lembut pada dunia
Selalu tertawa, riang
Tapi mereka semua memasang wajah seburuk-buruknya
Aku bukan penyair
Aku bukan penyair
Kali ini aku sungguh tak mengerti
What the meaning of life?
I can’t answer the question
Aku tak kuat mengartikan hidupku sendiri
Atau
Inikah sesungguhnya hidup yang harus kuhadapi
Aneh…pahit…
Masih adakah sudut dunia yang bisa ku rasa
Masih kosongkah sudut itu agar aku dapat mengisinya?
Atau…
Semua sudah penuh sesak
Dan aku harus mematung
Di sini sunyi sayup semesta beriuh rendah
Dua puluh juni dua ribu dua
Langit
Cut Hani Bustanova
Langit…..
Kenapa hatimu biru sedang aku merah
Kenapa sewi malam, raja siang dan sang bintang mengisimu
Sedang tak mengisiku
Aku ingin katakan padamu kalau aku bosan
Kau tau kenapa? Hehhhm…Kau takkan tau
Dan tak seoramg pun kan tau
Kau tau langit…..
Hatiku acapkali terbelah acapkali pula aku menjahitnya
Kau tau langit…..
Hatiku semakin hari semakin jelek karena belahan
Itu semakin nampak terjahit
Langit…..
Mengertilah diriku Belikan aku hati yang baru
Berwarna biru seperti hatimu
Kemudian bawa aku berkahyal menaiki nirwana
Ayat-Ayat Cinta dari Allah
Ayat-Ayat Cinta dari Allah
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu menjadi manusia yang berkembang biak.”

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi kaum yang berpikir.”

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warba kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.”

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari usahamu mencari sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.”


“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya, Dia memperlihatkan padamu kilat untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya.”

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradatNya. Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu juga kemu keluar dari kubur.”
”Dan kepunyaanNyalah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Semuanya hanya kepadaNya tunduk.”
Analisis Peristiwa Politik
Analisis Peristiwa Politik
Berdasarkan 5 Pandangan Politik
1. KLASIK (”BHP Atur Keringanan Kuliah”)
Sumber: Media Indonesia, Selasa, 27 Mei 2008, hal. 5
Deskripsi Peristiwa
Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan akan mengakomodasi minimal 20% dari total mahasiswa setiap perguruan tinggi untuk diberikan keringanan biaya kuliah. Skema keringanan pembiayaan kuliah itu antara lain meliputi pemberian beasiswa, pinjaman mahasiswa berbasis kampus, dan memberikan pekerjaan sambil kuliah. Fasli Jalal mengemukakan hal itu seusai peluncuran program Satu Keluarga Satu Sarjana oleh Baznas di Gedung Depdiknas. Menurut Fasli angka minimal 20% itu sudah menjadi kesepakatan pemerintah dan DPR, dalam pembahasan terakhir mengenai RUU BHP. Diharapkan, jika RUU BHP yang ditargetkan selesai tahun ini dapat disahkan, akan lebih banyak lulusan SMA yang melanjutkan pendidikan di universitas. Dengan RUU BHP, pemerintah berharap perguruan tinggi menawarkan program yang bervariasi sesuai kebutuhan masyarakat.
Dirjen Depdiknas mengakui sudah ada universitas yang sudah men’jemput bola’ agar mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu tetap bisa melanjutkan kuliah, yakni Universitas Indonesia dan Institut Pertanian Bogor. Namun, jaminan pengadaan kuliah bagi mahasiswa kurang mampu tersebut ditanggapi sinis oleh pengamat pendidikan Universitas Paramadina, Utomo Dananjaya, menurutnya jumlah beasiswa yang akan diberikan untuk mahasiswa masih terbilang minim. Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi X DPR Heri Akhmadi mengungkapkan alokasi minimal 20% sebagai kewajiban perguruan tinggi untuk meringankan kuliah mahasiswa masih menjadi masalah alot yang belum dicapai antara pemerintah dan DPR.
Analisis
Peristiwa di atas dapat digolongkan ke dalam peristiwa politik karena RUU BHP dengan akomodasi minimal 20% sudah menjadi kesepakatan pemerintah dan DPR yang merupakan elit politik negeri ini. Selain itu, RUU BHP ini juga menyangkut kelangsungan pendidikan pelajar di Indonesia. Pada dasarnya RUU ini memiliki tujuan agar mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu dapat melanjutkan kuliah diperguruan tinggi setara dengan mahasiswa yang berasal dari keluarga mampu. Hal ini menunjukan adanya landasan etis dan filosofis yang menekankan pada ’apa yang seharusnya dilakukan’ dan ’dengan cara apa sebaiknya’ suatu kegiatan politik (penyepakatan RUU) itu diwujudkan agar tujuan bersama tersebut terpenuhi (Surbakti, 1992). Sedangkan menurut Aristoteles, RUU BHP ini bertujuan untuk mewujudkan kebaikan/kepentingan bersama seluruh anggota masyarakat dimana kebaikan/kepentingan bersama memiliki nilai moral yang lebih tinggi daripada kebaikan/kepentingan swasta. Harapan pemerintah agar perguruan tinggi menawarkan program yang bervariasi sesuai kebutuhan masyarakat merupakan wujud pandangan politik klasik.
Kelemahan pandangan ini adalah terkadang kegiatan politik era modern tidak mungkin ’sesempurna’ itu. Hal ini dibuktikan dengan keraguan dari Utomo Dananjaya sebab alokasi dana sejumlah minimal 20% tersebut dinilai masih minim serta persidangan yang alot sebelum akhirnya lahir kesepakatan antara pemerintah dan DPR menunjukan bahwa pandangan politik klasik ini sulit diaplikasikan pada kehidupan politik.
Kesimpulan
Peristiwa penyepakatan RUU BHP tersebut tepat dilihat dari sudut pandang politik klasik sebab bertujuan untuk mewujudkan kebaikan/kepentingan bersama seluruh anggota masyarakat dalam hal ini mahasiswa yang kurang mampu. Meskipun dalam pelaksanaanya terdapat beberapa kekurangan yang mengindikasikan kesulitan pandangan ini diterapkan ke dalam kehidupan berpolitik.
2. KELEMBAGAAN (”Kabinet Baru Kongo Terbentuk”)
Sumber: Media Indonesia, Senin, 3 November 2008, hal 20
Deskripsi Peristiwa
Parlemen Republik Demokratik Kongo, kemarin, menyetujui kabinet baru yang akan mengambil alih tugas untuk menemukan cara mewujudkan kembali perdamaian di wilayah timur negara itu. Dalam voting kemarin, sebanyak 294 anggota parlemen mendukung kabinet pimpinan Perdana Menteri Adolphe Muzito tersebut dan 67 sisanya menyatakan abstain. Persetujuan atas pemerintahan baru itu menyusul perdebatan selama dua hari mengenai konflik di wilayah timur Kongo antara militer dan pemberontak pimpinan Laurent Nkunda yang kembali meletus sejak Agustus 2008 lalu. Presiden Joseph Kabila mengatakan kabinet baru tersebut adalah tim yang akan memegang misi keamanan dan rekonstruksi guna menangani konflik.
Analisis
Peristiwa terbentuknya kabinet baru Kongo pimpinan Perdana Menteri Adolphe Muzito dapat dikatakan sebagai suatu bentuk pandangan politik kelembagaan. Keberadaan kabinet baru tersebut telah memenuhi salah satu syarat pandangan politik kelembagaan menurut Weber, yakni terdapat berbagai struktur yang mempunyai fungsi berbeda-beda seperti jabatan, peranan, dan lembaga-lembaga yang memiliki tugas yang jelas batasnya, bersifat kompleks, formal dan permanen (Surbakti, 1992). Kabinet tersebut tentu saja terdiri dari menteri-menteri yang membawahi berbagai bidang yang diperlukan serta lembaga-lembaga setingkat kementrian misalnya pada negara Indonesia terdapat Bank Indonesia yang pejabatnya setingkat menteri, Gubernur Bank Indonesia. Pengadaan lembaga tersebut dapat ditemui pada negara maju dan berkembang yang sudah memiliki struktur pemerintahan yang stabil (modern national state).
Pandangan politik kelembagaan, menurut Weber, juga mengharuskan negara memiliki kewenangan yang sah untuk membuat keputusan final dan mengikat seluruh warga negara. Hal ini terlihat pada tujuan pembentukan kabinet baru Kongo yakni memegang misi keamanan dan rekonstruksi untuk mengakhiri konflik yang merupakan keputusan final yang harus dicapai dan keputusan ini harus dipatuhi oleh kedua pihak yang bersengketa.
Kesimpulan
Peristiwa terbentuknya kabinet baru Kongo pimpinan Perdana Menteri Adolphe Muzito tepat jika dilihat dari kacamata politik kelembagaan. Hal yang menjadi kata kunci adalah adanya sebuah struktur kabinet baru yang memiliki tugas dan fungsi yang berbeda-beda serta batasan yang jelas. Kabinet tersebut juga bersifat kompleks dan formal meski melalui artikel tersebut tidak diketahui apakah kabinet tersebut bersifat permanen atau tidak.
3. KEKUASAAN (”Australia Keluarkan Travel Advice”)
Sumber: Republika, Senin, 27 Oktober 2008, hal. 11
Deskripsi Peristiwa
Pemerintah Australia mengeluarkan travel advice kepada warganya agar tidak
bepergian ke Indonesia, termasuk Bali. Pemberlakuan travel advice ini dimulai sejak Jumat, 24 Oktober 2008. Penyebab dikeluarkannya travel advice ini karena pemerintah Indonesia akan mengeksekusi pelaku Bom Bali pada November. Situs Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT) menerima laporan yang mengindikasikan adanya teroris berencana melakukan serangan terhadap sejumlah target sehingga pemerintah Australia menyarankan agar warganya mempertimbangkan kembali keperluan bepergian ke Indonesia. Bahkan dalam situs National Schoolies Week, pemerintah menyarankan semua pihak mematuhi aturan pemerintah. Karena itu, rencana ribuan remaja Australia yang berencana berkunjung ke Pantai Kuta, Bali untuk mengisi liburan terancam dibatalkan. Juru bicara Deplu RI, Teuku Faizasyah, merespon travel advice ini dengan mengatakan mestinya tak ada kekhawatiran yang berlebihan sebab pemerintah Indonesia akan mengantisipasi apapun yang terkait dengan pelaksanaan eksekusi ini.
Analisis
Dalam peristiwa di atas, pemerintah Australia melalui Departemen Luar Negeri dan Perdagangan, sebagai pelaku politik telah melaksanakan suatu bentuk politik kekuasaan yakni mengeluarkan travel advice. Menurut Ramlan Surbakti (1992) kekuasaan merupakan kemampuan mempengaruhi pihak lain untuk berpikir dan berperilaku sesuai dengan kehendak yang mempengaruhi. Dalam hal ini, tentu saja pemerintah Australia sebagai ”orang” yang mempengaruhi. Pada peristiwa politik di atas kemampuan mempengaruhi pihak lain dilakukan dengan menyarankan sekaligus memerintahkan warga Australia untuk tidak bepergian ke Indonesia perintah tersebut dilengkapi laporan yang diterima (DFAT) yang berfungsi untuk memperkuat kemampuan mempengaruhi warga.
Kesimpulan
Peristiwa politik di atas sudah tepat jika dilihat dari sudut pandang politik kekuasaan. Namun pada peristiwa di atas, konsep kekuasaan menjadi rancu dengan kewenangan yang juga merupakan salah satu konsep dalam ilmu politik. Sehingga konsep kekuasaan menjadi meluas dan kurang tajam (Surbakti, 1992).
4. FUNGSIONALISME (”Pelaksanaan BLT di Bogor”)
Sumber: Tabloid Sambung Hati 9949, Edisi 23, 11-17 Agustus 2008, hal 5
Deskripsi Peristiwa
Bantuan Langsung Tunai (BLT) merupakan bagian dari Program Pro Rakyat Kluster I yaitu bantuan dan perlindungan sosial. BLT merupakan uang tunai yang diberikan kepada 19, 1 juta Rumah Tangga Sasaran (RTS) di seluruh Indonesia sebagai kompensasi kenaikan bahan bakar minyak. Pada tahun 2008 pemerintah memberikan BLT Rp 100.000 per bulan selama tujuh bulan dengan rincian diberikan pada tahap I Rp 300. 000 per 3 bulan (Juni – Agustus) dan tahap II Rp 400.000 per 4 bulan (september – Desember).
Kantor Pos Cabang Kota Bogor, Jawa Barat, melaksanakan pencairan BLT pada tanggal 11 Juni – 26 Juli 2008 di 6 kecamatan yang meliputi 67 kelurahan kepada 40.269. RTS dan alokasi dana sebesar Rp 12.080.700.000. Sedangkan Kantor Pos Cabang Kabupaten Bogor melaksanakan pencairan dana BLT tanggal 26 Juni – 26 Juli 2008 di 22 kecamatan kepada 157.092 RTS dan alokasi dana sebesar Rp 47.127.600.000.
Mekanisme pendistribusian BLT diawali dengan penyerahan data nominasi penerima BLT berdasarkan BPS Pusat lepada kepala desa untuk dilakukan verifikasi agar diperoleh data penerima BLT lebih akurat. Kemudian hasil verifikasi diserahkan kepada Kantor Pos Kota Bogor untuk diperbarui menjadi daftar penerima BLT. Selanjutnya kantor pos memberikan kupon BLT kepada RTS melalui kepala desa masing-masing. Pencairan BLT dilakukan sesuai jadwal supaya tidak terjadi antrian yang berlebihan.
Analisis
Seperti yang telah dilansir di atas bahwa Program BLT adalah bagian dari Program Pro Rakyat Kluster I yaitu bantuan dan perlindungan sosial sehingga peristiwa pemberian dana BLT di atas termasuk kegiatan merumuskan dan melaksanakan kebijakan umum. Sebab kegiatan tersebut sudah terprogram dan terlihat pelaksanaanya telah dilakukan. Kegiatan perumusan dilakukan oleh pemerintah pusat (presiden, jajaran kabinetnya, dan anggota DPR) selaku elit politik sedangkan pelaksanaannya dilakukan oleh pemerintah daerah mulai dari tingkat propinsi sampai kelurahan/desa. Ini merupakan pandangan fungsionalisme di mana politik merupakan kegiatan para elit politik dalam membuat dan melaksanakan kebijakan umum.
Berkaitan dengan kegiatan politik, Lasswell Easton dalam Surbakti, 1992 menyatakan bahwa politik adalah alokasi nilai-nilai secara otoritatif, berdasarkan kewenangan, dan karena itu mengikat suatu masyarakat. Nilai yang dimaksud dalam peristiwa di atas berupa nilai abstrak yakni keadilan dan persamaan mendapatkan penghidupan yang layak sekaligus mewujudkan nilai konkret yaitu pengadaan pangan, sandang, dan pendidikan yang merupakan kebutuhan pokok masyarakat.
Kesimpulan
Peristiwa pemberian dana BLT di atas tepat jika dilihat dari pandangan politik fungsional. Sebab Pemerintah berusaha merumuskan dan melaksanakan suatu kebijakan umum menyangkut masyarakat meski kefektivitasan pemberian dana BLT masih dapat dipertanyakan baik secara ekonomis maupun psikologis.
5. KONFLIK (”Disiapkan, Judicial Review RUU Pornografi”)
Sumber: Media Indonesia, Senin, 3 November 2008, hal. 2
Deskripsi Peristiwa
Perjuangan menolak klausul-klausul dalam RUU Pornografi belum berakhir, LBH Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (APIK) telah menyiapkan bahan judicial review yang bahannya terdiri dari dua jalur, bahan uji formil dan uji materiil. Umi, perwakilan pihak APIK menyatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan beberapa pihak yang sejalan dengan pandangan LBH APIK dan dalam waktu dekat akan digelar rapat untuk mengerucutkan dan menyamakan pandangan sebelum judicial review diajukan ke Mahkamah Konstitusi. LBH APIK juga berkoordinasi dengan PDIP yang memberikan informasi mengenai rencana sejumlah masyarakat di Bali, Manado, Yogyakarta, dan Jawa Timur untuk mengajukan judicial review.
Terkait dengan upaya uji formal, LBH APIK mengajukan dua klausul berkaitan dengan pelanggaran prosedur, pertama klausul terkait pelanggaran terhadap UU 10/2004 tentang peraturan pembahasan RUU dengan menutup akses parsipatoris masyarakat. Kedua, klausul menyangkut pelanggaran atas keputusan Badan Musyawarah (Bamus) tanggal 23 Oktober 2008. Sedangkan melalui upaya uji materiil, LBH mengajukan gugatan atas Pasal 20, 21, dan 22 yang mengatur peran serta masyarakat. Selain itu, Ketua Komponen Masyarakat Bali (KMB), I Gusti Ngurah Harta, menganggap UU tersebut bertentangan UUD 1945 karena mendiskriminasikan sebagian warga bangsa.
Analisis
Artikel di atas menggambarkan suatu peristiwa politik sebab pengesahan RUU Pornografi sangat berkaitan dengan kehidupan publik yakni pengaturan perilaku masyarakat yang mengarah pada pornografi. Namun terdapat pihak-pihak yang tidak setuju akan pengesahan RUU Pornografi yakni LBH APIK dan beberapa lembaga terkait yang berusaha mengajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi. Hal ini menunjukan adanya perbedaan pendapat yang merupakan upaya untuk mendapatkan dan/atau mempertahankan nilai-nilai yang disebut konflik (Surbakti, 1992). Menurut pandangan konflik, konflik merupakan gejala yang serbahadir dalam masyarakat, temasuk dalam proses politik. Akan tetapi, hampir dalam semua proses politik selain ada konflik pasti akan ada konsensus, kerjasama, dan integrasi yang dapat meredam konflik itu sendiri. Sehingga keputusan politik dapat juga dimaknai sebagai penyelesaian konflik politik.
Kesimpulan
Peristiwa di atas dapat dipandang melalui pandangan politik konflik sebab terjadi perbedaan pendapat dan usaha yang keras untuk tetap mempertahankan perbedaan pendapat tersebut. Namun RUU Pornografi yang akan disahkan yang merupakan keputusan politik bisa saja merupakan langkah penyelesaian konflik meski tidak dapat disadari secara langsung.
Referensi
Surbakti, Ramlan.(1992). Memahami Ilmu Politik. Jakarta: Grasindo
Campur Tangan AS di Timur Tengah Untuk Kepentingan Israel
Minggu, 08/02/2009 15:29 WIB Cetak | Kirim | RSS
Sebuah laporan strategis mengungkap kebijakan-kebijakan politik pemerintahan AS dibawah pemerintahan Presiden Barack Obama di Timur Tengah, terutama kebijakan AS dalam konflik Israel-Palestina. Dari laporan itu terungkap bahwa Gedung Putih akan menerapkan metode untuk melibatkan diri secara langsung dalam proyek-peroyek di Timur Tengah dan dalam konflik Israel-Palestina, namun AS akan melakukannya semata-mata untuk kepentingan Israel.
Laporan tersebut dibuat oleh lembaga studi dan konsultasi Zaituna Center bulan Desember lalu, yang menyebutkan bahwa Obama telah menegaskan di hari pertama pemerintahannya sebagai presiden baru AS bahwa ia akan melibatkan diri langsung dalam konflik Arab-Israel. Disebutkan pula bawa pemerintahan AS menjadi konflik Arab-Israel sebagai persoalan penting yang akan menjadi salah satu prioritas mereka.
Dari laporan itu juga diketahui bahwa Obama akan mengadopsi cara-cara yang pernah dilakukan mantan presiden Bill Clinton dalam melibatkan AS secara langsung dalam konflik tersebut, namun Obama akan lebih berhati-hati dalam melakukannya agar kesalahan Clinton yang membuat negosiasi selama delapan tahun gagal, tidak terulang lagi. Itulah sebabnya, Obama menunjuk George Mitchell sebagai utusannya untuk masalah Timur Tengah.
Mitchell, kata laporan tersebut, memiliki kepribadian yang pragmatis dan realistis dan bisa menghindari diri untuk tidak membuat penilaian-penilaian ideologis. Selain itu, Mitchell dianggap memiliki track-record yang cukup baik ketika menangani konflik antara Inggris dan kelompok pemberontak Irlandia Utara (IRA) sehingga berhasil mencapai kesepakatan damai pada tahun 1998. Tapi di sisi lain, menurut laporan itu, kelompok lobi Zionis di AS khawatir sikap Micthell yang realistis akan menyulitkan posisi Israel di AS.
Laporan itu juga menyebutkan bahwa Obama mendengarkan masukkan-masukkan dari banyak pejabat tak resmi seperti mantan presiden Jimmy Carter dan mantan penasehat keamanan nasionalnya Zbigniew Brzezinkski. Dua tokoh di luar lingkaran pemerintahan Obama, yang tidak segan-segan mengkritik Israel yang bisa jadi akan memberikan kontribusi bagi hasil-hasil kesepakatan yang sedikitnya memberi peluang bagi kepentingan Palestina.
Hamas dan Gencatan Senjata
Sementara itu, mediasi Mesir antara Israel-Hamas untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata sudah hampir menemui titik temu, tinggal menunggu pernyataan resmi dari pihak Israel. Pihak Hamas, melalui juru bicaranya Fawzi Barhoum mengatakan, gencatan senjata jangka panjang tinggal menunggu waktu saja jika upaya negosiasi yang dilakukan Mesir ke Israel sukses.
Jika kami menerima jawaban-jawaban yang meyakinkan dari Israel melalui Mesir, kami berharap kesepakatan gencatan senjata jangka panjang akan tercapai dalam beberapa hari mendatang,” kata Barhoum.
Hamas tetap pada persyaratannya berupa pencabutan blokade, penghentikan agresi dan pembukan kembali perbatasan-perbatasan yang ditutup Isrel dalam negosiasi tersebut. Dan menurut surat kabar Israel Haaretz melaporkan, draft kesepakatan gencatan senjata selama 18 bulan sudah tercapai.
Kabar itu tersiar setelah pimpinan senior Hamas di Gaza Mahmoud Al-Zahar kembali ke Mesir hari Sabtu kemarin untuk membahas masalah Gaza. “Kami sepakat untuk menyatukan sikap, semuanya tergantung pada otoritas Mesir dan kami akan menyampaikan respon mereka pada pimpinan kami di Damaskus, setelah itu kami akan kembali ke Cairo,” kata Zahar dalam pemunculan pertamanya setelah agresi brutal Israel ke Gaza.
Perkembangan baru juga terjadi dalam kasus Gilad Shalit, prajurit Israel yang tertangkap dan ditawan pejuang Palestina di Gaza. Laporan televisi Turki menyebutkan bahwa kesepakatan tentang pertukaran tawanan antara Hamas dan Israel dipekirakan akan tercapai hari Selasa lusa.
Dalam pernyataannya di saluran televisi Israel Channel 1, Menhan Israel Ehud Barak mengatakan bahwa pihaknya melakukan upaya-upaya maksimum untuk segera membebaskan Shalit. Tapi kali ini Barak mengakui pertukaran Shalit membutuhkan “biaya tinggi”.
“Kami tahu Shalit masih hidup dan kondisi yang baik-baik saja. Tapi kami harus membawanya dari Gaza ke sini (Israel),” kata Barak.
Dari Turki dilaporkan, delegasi Turki yang memediasi kesepakatan antara Israel dan Hamas untuk membebaskan Shalit dengan cara pertukaran tahanan, sudah berangkat ke Suriah untuk memediasi kesepakatan itu. Selain Turki, Qatar juga berperang dalam upaya kesepakatan pertukaran tawanan antara Israel-Palestina. (ln/iol/aby)
Vygotsky
Tugas Rangkuman Individu
Cut Hani Bustanova (07 06 280 611)
Mata Ajaran Psikologi Kognitif
Kelas A
VYGOTSKY
Trish Nicholl
‘the central fact about our psychology is the fact of mediation’
Vygotsky, psikolog Rusia yang tertarik mengaplikasikan Teori Sosial Marxist mengenai psikologi individu. Pendekatan yang beliau gunakan untuk memahami perkembangan kognitif adalah sosiokultural dengan asumsi ’action is mediated and cannot be separated from the milieu in which it is carried out’ (Wertsch, 1991:18)
Vygotsky membedakan dua fungsi mental manusia yakni higher and lower mental function). Lower mental functions pada manusia diturunkan secara genetis yang juga dimiliki oleh hewan seperti naluri hidup dan adaptasi sedangkan Higher mental functions berkembang melalui interaksi sosial misalnya voluntary attention dan logical dan abstract thinking.
Fungsi perkembangan kultural anak berlangsung dalam dua tahap yang berurutan, tahap pertama disebut intermental yang terjadi di tingkat sosial. Tahap ini menurut Vygotksy diwariskan dari lingkungan sosial …“the mind is inherently social”. dan tahap kedua disebut intramental yakni terjadi di dalam diri seorang anak.
Zone of Proximal Development adalah daerah yang menunjukan perbedaan ketika seseorang mengerjakan suatu tugas sendiri (actual development) dengan ketika ia dibantu oleh orang lain yang keahliannya lebih tinggi (potential development) dimana bantuan (scaffolding) tersebut berupa cues bukan jawaban langsung.
Melalui interaksi sosial manusia belajar menggunakan psychological tools. Psychological tools dan technical tools memudahkan manusia untuk menjembatani jarak antara lower dan higher mental functions. Beberapa contoh Psychological tools di antaranya sistem berhitung, teknik mnemonic, sistem simbol aljabar, alat-lat kesenian, tulisan, skema, diagram, peta, alat-alat gambar dan sebagainya.
Bahasa merupakan Psychological tools yang paling penting. Sebab bahasa digunakan oleh orang dewasa dan anak untuk berkomunikasi (social action). Bahasa merupakan alat untuk memunculkan self awareness dan kontrol kesadaran setiap perilaku manusia. Di sisi lain, budaya menyediakan orientasi dasar yang membangun lingkungan bagi diri manusia. …’socio-cultural-history context define and shapes any particular child and his experience”. Budaya juga mengatur pengalaman anak-anak sehari-hari. Manusia sangat bergantung pada lingkungan dan di mana ia mendapat informasi. Dan akhirnya pada suatu saat nanti (in the future) manusia juga dapat mempengaruhi lingkungan.
Vygotsky juga meneliti semiotic potential yang terrealisasi pada dekontekstualisasi makna mediasi. Beliau menemukan perbedaan proses persepsi dan conceptual styles pada individu dan perbedaan ini menunjukan kemampuan seseorang berpikir abstrak daripada berpikir konkret. Field dependent/relational styles menunjukan kecenderungan untuk menerima sesuatu yang sudah ada. Sedangkan field independent/analytical styles menunjukan kemampuan individu membangun sumber-sumber internal dan pengetahuan. Gaya berbahasa dapat digolongkan menjadi dua yakni bahasa publik dan bahasa formal. Bahasa publik diasosiasikan dengan field dependence dan bahasa formal diasosiasikan dengan field independence. Bahasa publik berisi transmisi pengetahuan dan budaya secara implisit sedangkan bahasa formal secara eksplisit.
Vygotksy menekankan bahwa perkembangan merupakan proses perubahan melalu interaksi sosial. Beliau menekankan pentingnya partisipasi di dalam komunitas. Semakin besar partisipasi seseorang semakin sepat perkembangan berpikirnya.
Summary Piaget
Ringkasan
Selama anak mengalami perkembangan, mereka melewati seluruh tahapan-tahapan perkembangan yang memiliki karakteristik tertentu dengan cara yang unik untuk memahami dunia. Pada tahap sensorimotor, anak mengembangkan skema koordinasi tangan dan kepala serta konsep object permanence. Pada tahap selanjutnya yakni pre-operational, anak mulai mengembangkan pemikiran simbolik yang merupakan pengaruh dari peningkatan penggunaan bahasa pada awal masa kehidupan anak. Selanjutnya, pada tahap concrete operational, anak mampu menggunakan operasi-operasi dasar seperti pengelompokan (clasification) dan pengurutan benda-benda konkret (seriation). Dan pada tahap akhir, formal operation, anak sudah dapat mengembangkan kemampuan berpikir secara abstrak dan meta (metacognitively) sebaik mereka juga mampu melakukan penalaran secara hipotetis. Artikel ini menunjukan bahwa tahapan-tahapan perkembangan anak tersebut mengindikasikan adanya instruksi matematika. Secara umum, pengetahuan tentang tahapan-tahapan perkembangan anak yang dikemukakan oleh Piaget ini telah membantu para guru memahami perkembangan kognitif anak sehingga mereka dapat merencanakan aktivitas-aktivitas belajar yang sesuai dengan tahapan-tahapan tersebut dan tetap memberikan aktivitas yang baik dan benar kepada mereka.
Tugas Wawancara dan Observasi Tahap Perkembangan Dewasa Akhir “Late Adulthood”
<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
Tugas Wawancara dan Observasi
Tahap Perkembangan Dewasa Akhir “Late Adulthood”
Data Diri:
Drs . Thalhas Ali
Place and date of Birth: Aceh, 5 April 1932 (76 years old)
Height and Weight: 165 cm & 65 kg
I. Perkembangan Fisik Late Adulthood
-
Perubahan Organik dan Sistemik
Menderita Diabetes Mellitus
-
Penuaan Otak
-
Fungsi Sensoris dan Psikomotor
-
Penglihatan (beliau mulai menggunakan kacamata sejak usia 36 tahun, beliau menderita presbiopi rabun dekat)
-
Pendengaran (terkadang tidak terdengar jika sumber suara lebih dari 4 meter, terjadi sekitar 2-3 tahun belakangan ini)
-
Gerakan dengan tangan kanan normal tidak lumpuh
-
Mobilitas dan kenyamanan di rumah baik
-
Keamanan berkendara (sejak berumur 60 menggunakan supir untuk bepergian ke suatu, namun masih sanggup menyetir sendiri ke Bandung)
-
Penilaian temperament (terkadang kurang sabar menyuruh seseorang melakukan sesuatu)
-
Kekuatan, keseimbangan, waktu reaksi, menderita rasa sakit.
-
Waktu tidur, tidur pukul 11 malam dan terbangun sekitar pukul 8-9 di pagi hari
-
Fungsi Seksual
-
-
Kesehatan Fisik dan Mental
-
Status kesehatan normal
-
Kondisi Kronis & Ketidakmampuan (Mengidap diabetes mellitus, namun ditretmen dengan mengonsumsi gula dengan petunjuk dokter, dan mengonsumsi gula Tropicana slim)
-
Kondisi kronis (yang sedang dialami adalah diabetes mellitus, namun secara umum kesehatannya baik, hanya saja beliau merokok sejak usia 19 tahun sampai sekarang)
-
Ketidakmampuan
-
-
Beliau mampu melakukan Activities of Daily Training (ADLs) sebab beliau masih mampu memakai baju, mandi, membaca Koran, membaca buku, bahkan menerbitkan buku. Selain itu, mengingat beliau adalah seorang professor sekaligus pengusaha, beliau sering diundang untuk menjadi pembicara pada berbagai macam seminar.
-
-
Pengaruh gaya hidup pada kesehatan dan panjang hidup
-
- Aktivitas fisik (sampai usia 60 thn beliau masih aktif berolahraga tennis, menginjak usia 60 tahun ke atas beliau menggantinya dengan berjalan kaki)
- Nutrisi (asupan nutrisinya cukup baik, beliau tidak menderita osteoporosis, tubuh beliau terlihat masih kekar.
-
-
Masalah Mental dan tingkah Laku
-
Depressi
-
Dementia
-
Alzheimer’s Disease
-
-
Syukur alhamdulillah beliau tidak menderita maslah mental dan perilaku seperti di atas.
II. Perkembangan Kognitif Late Adulthood
-
-
-
Kecerdasan & kemampuan memproses informasi
-
Pragmatics Intelligence (similar but broader than crystallized intelligence), “software” berpikir praktis, pengetahuan & skilss, ahli spesialisasi, produktivitas yang professional.
-
Everyday Problem Solving
-
Memory: How Does it Change?
-
Meningkatkan kemampuan kognitif
-
Kebijaksanaan
-
Lifelong learning
-
-
Kakek saya telah mempu menulis 13 buku berkaitan dengan penafsiran al-qur’an serta dengan keadaan finansial yang memadai beliau juga telah berhasil menerbitkan buku-buku tersebut.
II. Perkembangan Psikososial Late Adulthood
-
-
-
Kepribadian, Emosi, dan Kesejahteraan
-
Erik Erikson: Ego Integrity Vs Despair, dengan virtue: wisdom
-
Dampak Agama dan Spiritualitas
-
-
Sejak 10 tahun yang lalu seliau sempat membentuk sebuah lembaga pengkajian/penafsiran Al-Qur’an yang anggotanya teman dan sahabat yang usianya sebaya dengan beliau.
- Gaya Hidup dan Issue social yang berhubungan dengan penuaan
-
-
Pekerjaan dan pensiun (tren, pengaruh usia mengenai sikap thd pekerjaan dan unjuk kerja, kehidupan setelah pensiun). Beliau pensiun pada tahun 1994 (usia 52 tahun), dan setelah pensiun beliau mengajar menjadi dosen). Sejak tahun 1994-2008 motto beliau adalah beribadah dan berdakwah
-
Living Arrangement (beliau tinggal dengan istrinya di rumah pribadinya di kawasan Komplek Bappenas Mampang Prapatan)
-
-
-
-
Hubungan Interpersonal (pernikahan beliau sudah berlangsung selama 46 tahun, Hubungan dengan sahabat dan kolega juga cukup baik, begitu juga dengan anak, saudara kandung dan cucu, walaupun mereka terpisah jarak, mereka masih saling memberikan perhatian baik berupa materi maupun moril
-
-
Pelatihan dan Pengembangan Tenaga Kerja
<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
Pelatihan dan Pengembangan Tenaga Kerja
A.Pelatihan dan Pengembangan Diperlukan oleh Perusahaan
Pelatihan dan pengembangan dibutuhkan bagi suatu perusahaan atau organisasi untuk menyesuaikan pengetahuan, sikap, dan keterampilan tenaga kerja yang baru diterima oleh suatu perusahaan dengan kebutuhan suatu perusahaan. Hal ini disebabkan oleh latar belakang yang dimiliki oleh tenaga kerja baru, baik pendidikan maupun pengalaman ketika bekerja di perusahaan sebelumnya berbeda atau belum memadai untuk memenuhi kebutuhan perusahaaan. Misalnya, seorang lulusan sekolah teknik menengah belum dapat bekerja pada bagian pemeliharaaan mesin-mesian di sebuah pabrik karena pengetahuan dan keterampilan tentang mesin yang diperolehnya di sekolah berbeda dengan yang dibutuhkan oleh perusahaan. Selain itu, mesin mempunyai keragaman jenis dan merek sehingga sekolah tidak mungkin mengajarkan semuanya. Oleh karena itu, tenaga kerja yang seperti ini sangat membutuhkan pelatihan. Pelatihan dan pengembangan tenaga kerja terus menerus dibutuhkan oleh perusahaan demi kekepentingan perusahaan agar perusahaan mampu bersaing mengingat pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
B.Pengertian Pelatihan dan Pengembangan
Menurut Sikula (1976) dalam Munandar (2001), pelatihan adalah
proses pendidikan jangka pendek yang mempergunakan prosedur sistematis dan terorganisir sehingga tenaga kerja non manejerial mempelajari pengetahuan dan keterampilan teknis untuk tujuan tertentu.
Sikula juga membuat definisi tentang pengembangan menurutnya pengembangan adalah
Proses pendidikan jangka panjang yang mempergunakan prosedur sistematis dan terorganisir sehingga tenaga kerja manajerial mempelajari pengetahuan konseptual dan teoritis untuk tujuan umum.
Dari definisi tentang pelatihan dan pengembanagan yang dibuat oleh Sikula dapat disimpulkan bahwa baik pelatihan maupun pengembangan merupakan proses pendidikan dengan prosedur sitematis dan terorganisir. Perbedaannya adalah pelatihan membutuhkan waktu yang relatif singkat, pesertanya adalah tenaga kerja nonmanajerial, dan materi yang diajarkan berkaitan dengan keterampilan teknis, sedangkan pengembangan membutuhkan waktu yang lebih lama, pesertanya adalah tenaga kerja manajerial, dan materi yang diajarkan berkaitan dengan pengetahuan konseptual dan teoritis.
Pelatihan dan pengembangan tentunya memiliki tujuan. Sikula (1976) dalam Munandar (2001) merumuskan beberapa tujuan pelatihan dan pengembanagan anta lain untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Melaului perlatihan tenaga kerja dapat dapat meningkatkan taraf prestasinya sehingga menyebabkan peningkatan produktifitas. Selain itu, pelatihan juga meningkatkan mutu karena tenaga kerja yang mempunyai kemampuan dan keterampilan yang baik akan membuat sedikit kesalahan dan cermat dalam pelaksanaan pekerjaan.
C.Peserta Pelatihan dan Pengembangan
Pelatihan dan pengembangan dibutuhkan bagi tenaga kerja yang baru diterima oleh perusahaan karena pendidikan dan pengalaman kerja sebelumnya yang telah dimiliki oleh tenaga kerja tersebut belum sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Pelatihan dan pengembangan dibutuhkan pula bagi tenaga kerja lama yang akan dipromosikan atau akan dipindahkan ke jabatan baru sehingga memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk jabatan barunya. Kebutuhan pelatihan untuk kepentingan promosi atau pemindahan jabatan baru dapat dilaksanakan oleh bagian sumber daya manusia dari suatu perusahaan. Selain itu, kebutuhan pelatihan dapat diketahui berdasarkan permintaan dari para line magaer karena melihat bawahan mereka mempunyai unjuk kerja yang kurang memuaskan sehingga mereka mengusulkan agar para bawahannya dilatih untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan tertentu.
D.Tempat Pelaksanaan Pelatihan dan Pengembangan
Biasanya program pelatihan untuk tenaga kerja manajerial diselenggarakan oleh lembaga-lembaga pendidikan manajemen dalam bentuk lokakarya, misalnya lokakarya menejemen industri dan lokakarya menejemen pemasaran. Sementara itu, pelatihan bagi tenaga kerja nonmanajerial atau operator diselenggarakan oleh perusahaan sendiri atau Balai Latihan Kerja.
Pelatihan dalam pekerjaan dapat dibedakan dalam bentuk pelatihan dalam pekerjaan ‘on the job’ pelatihan dan pelatihan di luar pekerjaan ‘off the job’ pelatihan. Bentuk pelatihan di luar pekerjaan ‘off the job’ pelatihan menggunakan metode-metode pelatihan di dalam kelas. Metode-metode tersebut terdiri dari kuliah, konperensi atau diskusi kelon\mpok, studi kasus, bermain peran, programmed instruction, dan simulasi.
Metode-metode pelatihan di dalam kelas, antara lain:
a.Kuliah
Kuliah merupakan ceramah yang terorganisir dan disampaikan secara lisan untuk tujuan pendidikan kelebihan dari metode ini adalah dapat diikuti oleh kelompok yang sangat besar sehingga biaya setiap trainee rendah dan dapat menyajikan bahan pengetahuan dalam waktu yang relatif singkat. Salah satu kelemahan dari metode ini adalah trainee lebih bersikap pasif.
b.Konperensi
konperensi merupakan diskusi dalam kelompok kecil. Kelebihan dalam metode ini adalah peserta dapat terlibat secara aktif, sedangkan kelemahannya adalah biaya yang dikeluarkan untuk setiap trainee besar.
c.Studi Kasus (Case Study)
Dalam metode ini, trainee diberikan uraian tertulis atau lisan tentang keadaan perusahaan yang didasarkan pada suatu kenyataan. Kelebihan dalam metode ini, trainee dilatih berfikir analitis untuk memecahkan suatu masalah, sedangkan kelemahannya dalam keadaan nyata data yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah masih harus dikumpulkan sendiri oleh trainee.
d.Bermain Peran (Role Playing)
dalam metode ini, trainee diberi tahu tentang suatu keadaan dan peran yang harus mereka mainkan tanpa suatu script. Misalnya peserta A berperan sebagi manajer produksi, B berperan sebagai manejer pemasaran. Salah satu kebaikan dalam metode ini adalah trainee dapat belajar melalui perbuatan.
e.Bimbingan Berencana atau Instruksi Bertahap (Programed Instruction)
Setiap trainee mempelajari bahansesuai dengan tempo dan minatnya sendiri, pada akhir setiap modul pelajaran terdapat setiap tes yang harus dibuat. Jika mendapat jawaban di atas 80% boleh melanjutkan ke modul berikutnya
f.Simulasi
Metode ini berusaha menciptakan suatu situasi tiruan dari keadaan nyata. Misalnya, business game dan vestibule. Dalam business game situasi perusahaan beserta permasalahannya disalin. Sementara itu, dalam vestibule, calon-calon tenaga kerja dilatih pada suatu tempat yang merupakan perusahaan tiruan.
E.Penyusunan Program Pelatihan dan Pengembangan
Di dalam penyusunan program pelatihan dan pengembangan dibutuhkan beberapa tahap, antara lain:
1. Identifikasi Kebutuhan Pelatihan atau Studi Pekerjaan
Untuk mengidentifikasi kebutuhan pelatihan harus diketahui terlebih dahulu tentang pengetahuan, keterampilan, dan sikap-sikap apa saja yang dibutuhkan oleh tenaga kerja. Dilain pihak, kita juga harus mengetahui pengetahuan, keterampilan, dan sikap-sikap apa saja yang telah dimiliki oleh tenaga kerja. Perbedaan antara pengetahuan, keterampilan, sikap yang dibutuhkan dengan yang telah dimiliki merupakan bahan kebutuhan dalam pelatihan.
Untuk mengidentifikasi kebutuhan pelatihan perlu dilaksanakan dua kegiatan utama, yaitu:
a.Mengadakan assesment dari tenaga kerja
Assesment dapat dilaksanakan langsung oleh atasan dari tenaga kerja dan dapat pula dilaksanakan oleh assesment centre. Kebutuhan akan pelatihan juga dapat diperoleh dari bagian sumber daya manusia demi kepentingan promosi atau pemindahan tenaga kerja ke tempat yang baru.
b.Job Study (Melaksanakan Studi Pekerjaan)
Job study pada hakikatnya merupakan analisis pekerjaan. Berdasarkan data pekerjaan yang terkumpul, kita dapat menentukan tuntutan pekerjaan (job requirement) maupun ciri-ciri kepribadian yang dibutuhkan oleh pekerjaan.
2. Penetapan Sasaran Pelatihan dan Pengembangan
Sasaran pelatihan, terdiri dari sasaran umum dan sasaran khusus yang meliputi sasaran keseluruhan pelatihan dan sasaran subjek pembahasan/latihan. Sasaran subjek pembahasan/latihan selalu menggambarkan perilaku yang dimiliki oleh trainee stelah selesai mengikuti pelatihan.
Contoh :
“Setelah pelatihan trainee diharapkan dapat mengetik surat dalam bahasa Inggris yang terdiri atas 500 kata dalam waktu 5 menit tanpa ada kesalahan dengan menggunakan komputer.”
3. Penetapan Kriteria Keberhasilan dengan Alat Ukurnya
untuk mengetahui apakah pelatihan efektif dan trainee benar-benar belajar melalui pelatihan, maka sebelum pelatihan diberikan pretest dan post test.
Pretest diberikan sebelum trainee mengikuti pelatihan, sedangkan post test diberikan setelah trainee mengikuti pelatihan Makin besar perbedaan antara skor pretest dengan skor post test(skor pretest rendah dan skor posttest tinggi), maka makin banyak yang dipelajari trainee dalam pelatihan, begitu juga sebaliknya. Skor post test yang rendah bagi trainee disebabkan oleh trainee belum mengetahui pengetahuan atau keterampilan prasayarat untuk mengikuti pelatihan. Oleh karena itu, dilaksanakan test of entering behaviour, yaitu test yang mengukur kemampuan penguasaan pengetahuan atau keterampilan (prasayatat) yang harus dimiliki trainee sebelum mengikuti pelatihan. Prestasi kerja trainee ketika kembali bekerja setelah mengikuti pelatihan juga dapat dijadikan kriterira keberhsilan program pelatihan.
4. Penetapan Metode-Metode Pelatihan dan Pengembangan
Metode-metode pelatihan dan pengembangan, antara lain kuliah, studi kasus, simulasi, dan sebagainya
5. Pencobaan dan Revisi
Setelah kebutuhan pelatihan diidentifikasi, sasaran pelatihan ditetapkan, kriteria keberhasilan dan alat ukur dikembangkan, bahan untuk latihan dan metode latihan disusun dan ditetapkan, maka diadakan pencobaan atau try out untuk mengidentifikasi kelemahan apa saja yang masih ada dalam pelatihan.
6.Model Penilaian dan Keefektifan Program Pelatihan dan Pengembangan
Tujuan dari penilaian program pelatihan dan pengembanagn dapat dirumuskan menjadi : “Apakah sasaran-sasaran pelatihan telah tercapai?”. Sementara itu, tujuan dari efektivitas program pelatihan dan pengembangan dapat dirumuskan menjadi : “Apakah tercapainya sasaran pelatihan menghasilkan peniingkatan unjuk kerja pada pekerjaan?”. Model-model penilaian program pelatihan dan pengembangan, yaitu:
1.Model Reaksi dari Trainee
Model ini menitik beratkan kepada sejauh mana para peserta latihan merasa senang dengan program pelatihan yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap kesedian dari para trainee untuk mempelajari materi-materi yang diberikan dalam pelatihandan penilaian dari trainee merupakan feedback bagi penyelenggaraan program pelatihan untuk meningkatkan mutu.
2. Model ‘After-Only’ dan Model ‘Before-After’
a. Model After-Only (Model Hanya-Sesudah)
Pada model ini hanya diberikan post test yang pertanyaannya menggambarkan sasarn pelatihan. Jika peserta latihan mampu mengerjakan post test dengan baik, maka sasaran pelatihan tercapai (program pelatihan berhasil)
Kelompok eksperimental yang terdiri dari peserta latihan dan kelompok kontrol yang terdiri dari orang-orang yang tidak mengikuti pelatihan diberikan post test. Diharapkan hasil post test kelompok kontrol lebih rendah dari kelompok eksperimental sehingga dapat disimpulkan anggota kelompok eksperimen (peserta pelatihan) mendapat pengetahuan dari penyelenggaraan program pelatihan.
b.Model Before-After (Sebelum-Sesudah)
Dalam model ini, tenaga kerja dibagi menjadi kelompok ekperimental dan kontrol. Kemudian hanya kelompok eksperimental yang diikutkan dalam pelatihan. Setelah pelatihan selesai, diberikan post test kepada kelompok ekperimental maupun kelompok kontrol. Jika hasil post test kelompok eksperimental secara statistik lebih tingi secara bermakna dibandingkan dengan hasil pretestnya sendiri dan hasil post test dari kelompok kontrol, maka sasaran program pelatihan tercapai.
c. Model Penilaian Program Pelatihan
Pertanyaan dasar dalam model ini: “Seberapa besar pengaruh pelatihan terhadap organisasi?” Mengikutsertakan tenaga kerja dalam pelatihan memerlukan biaya tertentu sehingga jika hasil yang diperoleh selama pelatihan lebih besar daripada investasi berupa biaya yang dikeluarkan untuk mengikuti pelatihan, maka program pelatihannya efektif.
Pelatihan yang efektif membutuhkan konsep dan prinsip pembelajaran di dalam prosesnya. Miner (1992) dalam Munandar (2001) mengajukan konsep pembelajaran agar proses pembelajaran dapat efektif yang meliputi :
a.Motivasi
Motif yang dimiliki setiap orang dapat berbeda-beda, tetapi adanya motif yang kuat merupakan pendorong/insentif yang kuat yang menyebabkan orang mau tetap belajar.
b.Positive Reinforcement
Sesuai hukum Law of Effect-nya Thorndike, sesuatu yang dianggap mendatangkan kesenangan akan cenderung diulang.
Contoh : Seorang trainee (peserta latihan) berhasil memecahkan suatu masalah dengan suatu teknik tertentu, maka agar perilakunya diulang kembali perlu diberikan positive reinforcement, misalnya trainee tersebut diberi pujian atau diberi kesempatan kembali untuk memecahkan masalah yang lain.
c.Pengetahuan tentang Hasil
Dengan memberikan feedback kepada trainee, maka trainee akan mengetahui kelebihan dan kelemahannya sehingga ia dapat fokus untuk memepelajari hal-hal yamg belum mampu ia kuasai.
d.Experimental Learning (Praktek Aktif dan Pembelajaran Melalui Penghayatan)
Dalam konsep pembelajaran ini, harus ada praktek yang aktif agar trainee dapat mengualang-ulang apa yang dipelajari dan hayati sehingga ia dapat menguasai pengetahuan dan keterampilannya.
e.Transfer of Training (Pemindahan dari Pelatihan)
Terkadang apa yang telah dipelajari tidak dapat diterapkan di situasi kerja. Oleh karena itu, harus ada unsur-unsur yang sama dalam situasi pelatihan dengan situasi kerja.
Referensi :
Munandar, Ashar Sunyoto. (2001). Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta: UI Press
Riggio, Ronald E. (1999). Introduction To Industrial/Organizational Psychology. New Jersey: Prentice Hall
www.antaranews.com. “Pemerintah Targetkan Tempatkan Satu Juta TKI pada 2007” (Diakses: Sabtu, 13 September 2008)
www.hrw.org. Rekomendasi “Human Rights Watch” Mengenai Buruh Migran dan Pekerja Rumah Tangga (Diakses: Sabtu, 13 September 2008)
www.kompas.com ”BLK, Gerbang Utama Masuk Dunia Kerja” (Diakses: Sabtu, 13 September 2008)
“Self-Control and Social Control: An Examination of Gender, Ethnicity, Class, and Delinquency”
<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>
TUGAS REVIEW MATA KULIAH “KENAKALAN ANAK DI INDONESIA”
- KELOMPOK 3 -
Cut Hani Bustanova (0706280611)
Desiana Nurahayu (0606096736)
Hesty Apriani (0706282516)
Lucky Nurhadiyanto (0905040324)
Rosana Yuniasih (0706281740)
Salmah Hilmia A (07062818030)
“Self-Control and Social Control:
An Examination of Gender, Ethnicity, Class, and Delinquency”
(M. Reza Nakhaie, Robert A. Silverman, Teresa C. LaGrange)
-
Latar Belakang
Keberadaan peran dari kontrol dalam kaitannya untuk mengurangi tingkat kriminalitas telah menjadi fokus utama dalam kajian teoritis kriminologi. Kontrol tersebut berkembang saat seseorang masih berada dalam masa anak-anak yang baik secara langsung maupun tidak lagnsung berkaitan erat dengan norma sosial di masyarakat. Oleh karena itu, kontrol dalam diri seorang individu dapat diklasifikasikan atas dua macam, kontrol internal (self-control/ kontrol diri) yang terkait dengan individu itu sendiri dan kontrol eksternal (social control/ kontrol sosial) yang melihat adanya batasan-batasan norma masyarakat.
Penelitian-penelitian dalam ranah kriminologi atau pun cabang ilmu sosial lainnya jarang sekali mengkaji suatu fenomena dengan pisau analisa kedua macam kontrol tersebut. Terkadang hanya mempergunakan kontrol internal saja dalam menjelaskan suatu kasus, tetapi tak sedikit yang hanya memfokuskan pada kontrol eksternal. Oleh karena itu, penelitian ini berusaha mengkaji keterkaitan kedua kontrol tersebut untuk kemudian mendapatkan penjelasan terbaik mengenai kenakalan.
Di tahun 1969, Travis Hirschi dalam bukunya Causes of Delinquency menjelaskan bahwa proses sosial yang dialami individu, mulai dari keluarga sampai institusi sosial lainnya, akan membentuk ikatan antara individu tersebut dengan agen-agen sosial. Disini peran kontrol sosial adalah sebagai ikatan yang menyatukan individu dengan beberapa agen sosial lainnya. Hirschi menyebutnya sebagai social bond (ikatan sosial). Lebih lanjut Hirschi mengetengahkan adanya empat (4) dimensi ikatan sosial, yaitu attachment (keteriakatan), commitment (komitmen), involvement (keterlibatan), dan belief (kepercayaan). Keempat elemen tersebut saling terkait satu sama lainnya dan jika terjalin ikatan yang kuat antara individu dengan masyarakat maka potensi terjadinya kenakalan kecil. Sedangkan, jika ikatan tersebut lemah maka akan memiliki kecenderungan yang besar terjadinya kenakalan.
Hubungan antara attachment dan commitment dengan involvement dan belief telah diuji dalam beberapa penlitian. Dalam penelitian-penelitian yang dilakukan oleh Glueck dan Glueck (1950), Nye (1958), Hirschi (1969), Hagan et. al. (1985, 1988), Rosenbaum (1989), McCord (1991), Wells dan Rankin (1991), serta Hirschi dan Gottfredson (1993) memperlihatkan adanya ketrikatan empat elemen tersebut dengan keluarga dan kenakalan. Sedangkan, Stinchcombe (1964), Waitrowski et. al. (1982), Toby (1983), Figueira-McDonough (1987), McGee (1992) mengkaji kaitannya dengan institusi sekolah. Dan keterkaitan dengan peer group (teman sebaya) telah dikaji dalam penelitian Hirschi (1969) dan Akers at. al. (1979).
Memang lebih banyak penelitian yang memfokuskan pada keluarga dan sekolah dari pada yang menkaji teman sebaya, tetapi keberadaan teman sebaya dapat menjadi dalah sati indikator individu melakukan kenakalan.Tidak cukup hanya sampai disini, perkembangan untuk menjelaskan kenakalan kembali dilakukan Gottfredson dan Hirschi (1990) yang mengembangkan ‘General Theory of Crime’ (Teori Umum Kejahatan). Teori ini memperhatikan adanya kaitan karakteristik kepribadian indiviu dengan kenakalan. Mereka menyatakan bahwa, “Teori klasikal dalam kriminologi merupakan teori tentang kontrol sosial (eksternal)… Teori klasikal itu sendiri memiliki kekurangan dalam menjelaskan tentang unsur kontrol diri (internal)… Mengkombinasikan dua ide tersebut hanya mengenalkan keberadaan batasan perilaku sosial dan individual secara bersamaan” (1990 87-88).
Sebagai contoh, mereka memberi penekanan yang sangat kuat bahwa larangan orangtua dan latihan-latihan di sekolah dapat membantu pencegahan perilaku anak yang tidak diharapkan dan sekaligus juga meyakinkan internalisasi dari nilai-nilai dan pelajaran-pelajaran moral. Hal ini-lah yang menurut mereka dapat mencegah terjadinya penyimpangan perilaku anak (kenakalan) di masa mendatang.
Lebih lanjut, mereka menyatakan bahwa interaksi dan sosialisasi normal yang terjadi dalam kehidupan individu di kesehariannya dapat memantu meningkatkan kontrol diri. Keterkaittannya adalah dengan kontrol diri yang rendah maka seseorang juga akan memiliki ikatan yang lemah terhadap institusi konvensional dalam masyarakat. Kesimpulannya adalah bahwa kontrol diri dan kontrol sosial saling mempengaruhi. Secara lebih spesifik, dinyatakan bahwa kontrol diri dan kontrol sosial terkait dalam menjelaskan kenakalan. Meskipun dalam penilitian yang dilakukan oleh Gottfredson dan Hirschi lebih terfokus pada kontrol diri sebagai prediktor utama dari kejahatan dan atau kontrol sosial serta kurang memperhatikan keberadaan kontrol sosial.
Asumsi dari General Theory of Crime bahwa semua manusia yang melakukan tindakan merupakan makhluk rasional dan memiliki kehendak bebas (free will). Perbedaannya terletak pada tingkat kontrol diri individu. Sosialisasi masa kecil dalam keluarga merupakan faktor dominan yang mempengaruhinya. Pemberian sanksi dinilai tidak efektif. Tetapi memberikan dengan cara yang lebih mendidik dianggap metode yang lebih baik. Anak akan memiliki tingkat sensitifitas yang baik, mandiri, mengetahui batasan peran, dan meminimalkan sikap kekerasan merupakan beberapa karakteristik pengambangan kontrol diri yang tangguh. Disinilah peran sentral keluarga dalam mempengaruhi kenakalan.
Salah satu pernyataan lainnya adalah kontrol diri yang dimiliki seseorang sejak kecil dan terbentuk melalui institusi keluarga, cenderung tidak berubah di masa-masa mendatang dan hampir tidak dipengaruhi oleh institusi-institusi lainnya selain keluarga tersebut (Gottfredson dan Hirschi, 1990: 107-108, 117). Oleh karena itu, meskipun mereka menekankan pada kedua aspek yaitu kontrol internal dan eksternal, mekanisme kontrol eksternal dianggap lebih penting pada masa kanak-kanak awal untuk proses internalisasi tentang kontrol diri.
Bagi Gottfredson dan Hirschi (1990, 190), kesempatan kejahatan merupakan percampuran antara kontrol diri yang rendah dan perilaku kejahatan, “Karena kejahatan mencakup benda-benda, pelayanan, dan korban, mereka juga memiliki unsur pokok lainnya: mereka membutuhkan kesempatan, dan mereka mengetahui bahwa mereka akan diberikan sanksi apabila perilaku kejahatan mereka diketahui.” Jika kontrol diri dan kontrol sosial lemah maka individu tersebut berpotensi melakukan kenakalan. Sedangkan, jika individu tersebut memiliki kontrol diri dan kontrol sosial yang kuat maka kecenderungan melakukan kenakalan kecil.
-
Rumusan Masalah
Bagaimana keterkaitan kontrol (internal dan eksternal) dengan gender, etnis, dan struktur kelas terhadap kenakalan?
-
Pembahasan
Sekolah yang dipilih dalam penelitian adalah sekolah yang berasal dari daerah dengan tingkat vandalisme yang tinggi, yaitu sebanyak 5 SMU dan 6 SMP umum, serta 2 SMU dan 2 SMP Katolik di Edmonton, Alberta. Pemilihan tersebut didasarkan pada asumsi bahwa daerah dengan tingkat vandalisme tinggi merupakan daerah yang banyak terjadi kasus kenakalan. Desain penelitian dalam penelitian ini berupa cluster sampling, yaitu membagi populasi ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan tingkat kelas, dan dari masing-masing kelompok diambil beberapa partisipan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa gender (pria dan wanita), usia (dibawah 15 tahun dan diatas 15 tahun), dan etnik (Aborigin, etnik minoritas, dan lainnya) berpengaruh terhadap kenakalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa etnik Aboriginal lebih terlibat dalam tindak kriminal dibandingkan etnik lain. Selain itu, terdapat perbedaan jumlah terjadinya kenakalan pada sekolah umum dan sekolah Katolik. Pada sekolah Katolik, kriminalitas dan kenakalan yang terjadi cenderung rendah, kemungkinan sebagai akibat dari pengaruh hubungan keagamaan, keanggotaan gereja, dan pemberian dukungan berdasarkan nilai-nilai keagamaan. Sayangnya, dalam penelitian ini tidak dijelaskan lebih lanjut mengenai hal tersebut.
The General Theory lebih terfokus pada pendekatan terhadap kontrol internal atau kontrol diri. Asumsi dari pencetus teori ini yakni, Gottfredson dan Hirschi, berpendapat bahwa hubungan antara kontrol diri akan mampu untuk menjelaskan fenomena kejahatan atau pun kenakalan yang ada. Logikanya adalah jika kontrol diri seseroang kuat maka kemungkinan ia melakukan kenakalan akan semakin keci. Kontrol diri yang terbentuk dalam kepribadian seseorang merupakan hasil penanaman yang dilakukan oleh agen sosial keluarga, sekolah, dan dalam pergaulan teman sebaya (peer group).
Meskipun keberadaan kontrol diri dan kontrol sosial memiliki hubungan yang erat dengan kenakalan akan tetapi perlu diperhatikan juga adanya faktor-faktor lain yang mempengaruhinya. Adanya sikap keberanian untuk mengambil resiko (risk-taking) dan keterlibatan orang tua dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam mengkaji kenakalan. Serta adanya faktor kepribadian juga dapat menjadi alternatif utama. Risk-taking dan faktor kepribadian dapat mempengarahui seseorang untuk melakukan kenakalan, terlebih perbedaan kepribadian merupakan stimulus keberanian untuk mengambil resiko.
Konsep risk-taking sebelumnya telah dikaji oleh Miller (1958) yang berusaha meneliti proses sosialisasi pada masyarakat lower class. Dalam definisi yang berbeda risk-taking juga dapat diartikan sebagai pilihan untuk melakukan atau tidak melakukan kenakalan. Hal ini disebabkan karena risk-taking dilatarbelakangi oleh perbedaan budaya dan latar belakang historis lainnya. Selain itu faktor kesempatan memiliki hubungan dengan pembentukkan keberanian mengambil resiko.
Pengaruh masalah jenis kelamin, usia dan perbedaan kelas sebagai pemicu kenakalan dinilai kurang memperhatikan adanya faktor karakteristik kepribadian individu. Gottfredson dan Hirschi berpendapat bahwa perbedaan kepribadian individu telah terbentuk, terstuktur dan telah ada sejak individu tersebut berada pada tahap anak-anak. Maka dapat dikatakan bahwa pada kehidupan laki-laki dan anak-anak, suku Aborigin, dan masyarakat lower class telah terinternalisasi sikap risk-taking yang mampu mempengaruhi keberanian melakukan kenakalan.
Meskipun begitu kontrol diri dan kontrol sosial masih tidak mampu terelimiasikan dari variable jenis kelamin, suku, dan usia. Dalam konteks gender, Gottfredson dan Hirschi membedakan kenakalan yang dilakukan anak laki-laki dan perempuan dengan menunjukkan perbedaan perlakuan berdasarkan gender sejak anak-anak dan pengawasan yang diperolehnya. Hasilnya adalah anak perempuan memiliki kontrol diri yang lebih kuat dari pada anak laki-laki. Penelitian memperlihatkan laki-laki lebih signifikan melakukan kenakalan setelah self dan social-controlnya juga diteliti. Itulah yang menyebabkan anak laki-laki lebih nakal daripada anak perempuan jika kita melihat dari sudut pandang kontrol diri dan kontrol sosial.
Selain itu dalam penelitian ini ditemukan bahwa golongan minoritas (suku Aborigin dan suku minoritas lainnya) memiliki kecenderungan yang rendah untuk melakukan kenakalan. Karena internalisasi kontrol diri dan kontrol sosial telah lama ditanamkan dalam kehidupan mereka sejak masih kecil. Ini memperlihatkan bahwa kontrol sosial dan kontrol diri bukanlah faktor yang memengaruhi mereka melakukan kenakalan. Selain itu ternyata masih terdapat faktor lain untuk menjelaskan kenakalan yang dilakukan oleh golongan minoritas tersebut (Aborigin, golongan minoritas, masyarakat lower class, dan anak perempuan/ masalah gender).
Sebagai contoh anak-anak Aborigin mungkin melakukan kenakalan karena mengalami kemiskinan, latar belakang historis, pengalaman hidup kaum marginal, dan perlakuan negatif yang didapatnya di sekolah. Singkatnya, efek perlawanan dari gender dan suku setelah mengontrol self dan social control bahwa predictor sendiri dibutuhkan untuk tujuan menjelaskan kejahatan dan kenakalan anak. (lihat Smith 1991).
Oleh karena itu, keberadaan risk-taking merupakan faktor pendorong yang kuat untuk mempengaruhi seseorang melakukan kenakalan. Selain itu adanya motivasi dan kesempatan yang berbeda-beda dapat pula menjadi faktor penting yang mampu mempengaruhi kenakalan. Hal ini dilandasi karena dalam pembentukkan kontrol diri dan kontrol sosial terdapat pengaruh dari perbedaan sosialisasi yang didapat individu tersebut. Terlebih sulitnya mencari penjelasan mengapa terjadi perbedaan sosialisasi yang dialami individu dalam komunitas sosial yang berbeda pula. Terutama dalam konteks agen sosial yang paling pertama, yaitu keluarga.
-
Keterkaitan dengan kasus di Indonesia
‘Gang Nero’ (neko-neko dikeroyok) merupakan salah satu bentuk komunitas beranggotakan anak-anak perempuan yang berasal dari Juwana, Pati, Jawa Tengah. Sebagai informasi Kota Kecamatan Juwana dikenal sebagai pusat pasar beras, industri kuningan, pelabuhan antarpulau, dan tempat pendaratan ikan maupun tempat penjualan ikan (TPI) terbesar nomor dua di Jateng, serta berada di jalur utama Jakarta-Semarang-Surabaya.
Sekilas mendengar bahwa ada sekelompok wanita yang membentuk sebuah gang mungkin akan terdengar biasa saja, tetapi jika ternyata gang tersebut melakukan tindak kekerasan, ini baru menarik. Aksi kekerasan yang dilakukan anggota gang Nero terhadap salah seorang siswi SMP di sebuah gang yang bernama Gang Belimbing.
Gang yang punya nama lain ‘Gang Belimbing’ dan ‘Gang Cinta’ ini biasa berkumpul di Gang Belimbing tersebut yang ternyata merupakan tempat yang biasa dipakai oleh para remaja untuk melakukan kenakalan, seperti mabuk-mabukan, merokok, dan melakukan tindakan vandalis (mencoret-coret tembok). Selain itu gang ini juga sering dipakai oleh para remaja untuk berpacaran karena kondisi jalan yang jarang dilalui orang.
Aksi kekerasan ini dilakukan sebagai bentuk perpoloncoan terhadap calon anggota baru, tetapi kabar lain meyebutkan aksi tersebut dilandasi dendam karena korban menghina salah seorang anggota Gang Nero. Aksi kekerasan yang dilakukan Gang Nero tersebut berupa penamparan, penjambakkan, hingga penendangan. Bahkan tak cukup hanya itu, kekersan verbal juga turut mewarnai aksi gang tersebut. Tapi aksi kekerasan mereka tersebut terekam video dan telah beredar di luas di masyarakat, bahkan telah jatuh ke tangan polisi. Inilah kemudian yang menjadi bukti untuk melakukan pidana terhadap mereka terkait aksi kekerasan tersebut. Kini mereka harus berurusan dengan pihak kepololisan guna mempertanggungjawabkan perbuatannya tersebut.
Aksi kekerasan yang dilakukan oleh Gang Nero dapat digolongkan sebagai bentuk kenakalan karena terbukti melanggar hokum dan norma social yang ada di masyarakat. Keterkaitannya dengan tugas review ini adalah adanya kesamaan permasalahan kenakalan yang berhubungan dengan gender, etnis, dan struktur kelas. Anak perempuan yang lebih dikenal sebagai seseorang yang harus bersikap sopan, terlebih pada masyarakat etnis Jawa terdapat tuntutan untuk bersikap kemayu, malah melakukan kekerasan yang berbuntut pada penangkapan. Selain itu mereka juga tergolong sebagai masyarakat kelas menengah (middle class). Karena berdasarkan data yang ada (meskipun terbatas) menunjukkan mereka mampu bersekolah sampai tingkat SMA dan mampu memiliki telepon genggam yang berkemampuan untuk merekam video.
Dalam review diatas kontrol diri dan kontrol sosial bukan merupakan faktor utama seseorang melakukan kenakalan, tetapi terdapat faktor risk-taking dan karakteristik kepribadian yang berbeda-beda. Terlebih rasa solidaritas anggota gang turut mewarnai ikatan emosional gang yang telah terbentuk sejak mereka SD.
Keberanian mengambil resiko dengan merekam gambar aksi kekerasan tersebut dengan catatan mereka juga masih tercatat sebagai siswi aktif di SMA dan masih duduk di kelas 1 menunjukkan mereka memiliki risk-taking yang rendah. Ditambah perbedaan latar belakang keluarga masing-masing anggota turut mempengaruhi karakteristik kepribadian mereka.
Referensi :
ANTARA. 2008, Anggota Geng Nero Ditangkap Polisi, tersedia di: http://www.antara.co.id/arc/2008/6/13/anggota-geng-nero-ditangkap-polisi/, diakses pada Kamis 9 Oktober 2008, pukul 09.25.
KOMPAS. 2008, Gang Belimbing, Gang Cinta, Juga Ganng Nero, tersedia di:
http://www.kompas.com/read/xml/2008/06/16/19290990/gang.belimbing.gang.cinta.juga.geng.nero., diakses pada Kamis 9 Oktober 2008, pukul 09.30.
Moyer, Imogene L. 2001, Criminological Theories: Traditional and Nontraditional Voices and Themes, Sage Publications, Inc., Thousand Oaks, California.
M. Reza Nakhaie, Robert A. Silverman, Teresa C. LaGrange. 2000, ‘Self-Control and Social Contreol: An Examination of Gender, Ethnicity, Class, dan Delinquency’, dalam Sourcer Canadian Journal of Sociology, Vol. 25, No. 1, hal.35-59, tersedia di: http: www.jstor.org/stable/3341910, diakses pada: 02 September 2008, pukul 04.24.









