Tips Membuat Curricullum Vitae

21 November 2008 at 10:26 AM (Uncategorized)

1. Identitas (Data Pribadi)

Cantumkan identitas anda dengan jelas, seperti : Nama Lengkap, Jenis Kelamin, Tempat dan Tanggal Lahir, Kewarganegaraan, Agama, Status Perkawinan, Tinggi dan Berat Badan, Alamat Lengkap, Telepon & HP, serta e-mail (bila ada).
Khusus untuk e-mail, sebaiknya anda memilikinya. Jika tidak memilikinya, anda dapat membuat alamat email di Gmail, Yahoo, atau Hotmail (silakan klik) atau yang lainnya.

2. Pendidikan

Cantumkan pendidikan formal dan pelatihan/kursus yang pernah anda ikuti; lengkap dengan tahun masuk dan tahun lulus, jurusan, jenjang studi, dan nama lembaganya. Urutannya dimulai dari pendidikan formal terlebih dulu, baru kemudian pendidikan non formal (pelatihan, kursus, dsb).

3. Kemampuan

Uraikan secara singkat kemampuan anda yang relevan dengan bidang pekerjaan yang dilamar. Misalkan anda melamar kerja di bidang akuntansi, maka jelaskan secara singkat bahwa anda memahami akuntansi dan administrasi, sistem perpajakan, biasa bekerja menggunakan komputer, dsb-nya. Tentu saja kemampuan-kemampuan yang anda tulis/cantumkan tersebut harus benar-benar anda miliki. Jangan mencantumkan kemampuan yang tidak anda miliki.

4. Pengalaman kerja

Cantumkan deskripsi singkat tentang pekerjaan anda pada perusahaan sebelumnya, lengkap dengan pangkat, jabatannya, jenis pekerjaan, prestasi (bila ada), tanggung jawab dan wewenang pekerjaan. Serta periode kerja, yaitu bulan dan tahun mulai menempati dan mengakhiri posisi tersebut.
Urutannya dimulai dari pekerjaan (atau jabatan atau posisi) terakhir.

5. Pengalaman Organisasi (bila ada)

Cantumkan pengalaman organisasi yang relevan (sesuai atau berhubungan) dengan jenis pekerjaan yang anda lamar tersebut. Bila tidak ada yang relevan, lewati saja nomor 5 ini.

6. Referensi Kerja (bila ada)

Bila memungkinkan, cantumkan referensi, yaitu orang yang bisa dihubungi oleh pihak penyeleksi lamaran kerja untuk menanyakan hal-hal penting seputar diri anda (biasanya nama atasan dimana anda bekerja sebelumnya).

Penting : Dalam hal pencantuman nama orang yang akan dijadikan referensi, anda harus sangat yakin bahwa orang tersebut benar-benar mengetahui tentang anda serta akan memberikan informasi positif mengenai diri anda. Seandainya anda ragu-ragu bahwa orang tersebut akan memberikan informasi positif tentang anda, maka anda tidak perlu mencantumkan referensi kerja tersebut (lewati saja yang nomor 6 ini).

7. Pengalaman lain yang menunjang (bila ada)

Cantumkan pengalaman lain yang menunjang “promosi anda”. Dan sebaiknya yang relevan dengan jenis pekerjaan yang anda lamar tersebut. Jika anda melamar untuk posisi pemrogram komputer, maka pengalaman anda sebagai Ketua RW atau juara bulutangkis, tentunya tidak relevan. Jadi bila tidak ada yang relevan, lewati saja nomor 7 ini.

B. Kertas, Huruf, Foto, Dokumen Pendukung

1. Gunakan kertas putih polos

CV hendaknya polos tidak menggunakan background image (dasar bergambar). Sebaiknya jangan menggunakan form CV yang dijual di toko-toko.

2. Diketik dengan huruf standar surat resmi

CV jangan ditulis tangan, namun diketik. Gunakan huruf dengan ukuran dan jenis standar (warna hitam), contohnya font jenis Arial atau Times New Roman.

3. Foto terbaru

Lampirkan pas foto terbaru ukuran 3×4 atau 4×6. Sebaiknya gunakan pas foto berwarna, dan berpakaian resmi (misalkan jas lengkap dengan dasi).

4. Dokumen pendukung

Lampirkan dokumen atau bukti-bukti tentang hal-hal yang dituliskan dalam CV (resume), seperti ijazah, transkrip nilai, sertifikat atau penghargaan, dsb (dokumen pendukung tersebut dalam bentuk photocopy).
Agar dokumen pendukung yang dilampirkan tidak terlalu banyak, sebaiknya anda menyeleksi/menyortir dokumen mana yang paling penting dan relevan untuk dilampirkan.

Penting : Bila transkrip nilai anda tidak bagus, maka anda tidak perlu melampirkannya. Karena CV atau resume tersebut merupakan promosi diri anda. Namun, seandainya perusahaan penerima kerja meminta/mensyaratkan untuk melampirkan transkrip nilai, barulah anda “terpaksa” melampirkannya.
Sebaliknya jika transkrip nilainya bagus, anda justru harus melampirkannya.

Jujur, Jangan Berbohong

Ingat, jangan sekali-kali menuliskan pada CV anda suatu pengalaman yang anda sendiri tidak mengalaminya. Memang seseorang terkadang merasa gengsi dengan pengalaman yang dia miliki, karena merasa kalah pengalaman. Percayalah pada diri anda sendiri bahwa anda mempunyai kelebihan yang orang lain tidak punya.

Jumlah Halaman

Pada umumnya CV hanya terdiri dari 1 (satu) atau 2 (dua) halaman. Namun jika memang riwayat pekerjaan/karir anda sangat banyak, juga pendidikan/kursus/pelatihan anda sangat banyak. Dan anda menganggap bahwa itu penting untuk ditampilkan, maka anda boleh menambahkannya menjadi 3 (tiga) halaman CV sebagai lampiran Surat Lamaran Kerja, tidak masalah.
Tetapi khusus untuk Surat Lamaran Kerja, tetap upayakan 1 (satu) halaman.

Tata Bahasa, Tanda Baca, dan Ejaan

Tidaklah dibenarkan jika dalam resume terjadi kesalahan-kesalahan menyangkut tata bahasa, tanda baca, dan ejaan. Bacalah kembali tata bahasa di buku atau Kamus Bahasa Indonesia.
Jika anda menulis CV dalam Bahasa Inggris, dan anda belum yakin, maka cobalah minta dicek kembali atau di-review oleh teman/kerabat yang menguasai Bahasa Inggris tersebut.

Eksplisit (Gamblang, Jelas)

Jangan membuat orang yang membaca CV atau resume anda mengintepretasikan atau mengartikan hal yang berbeda.
Contoh sederhana : Di CV pada bagian pendidikan, anda menuliskan Sarjana Akuntansi Universitas Pancasila, dan tidak menambahkan nama kota lokasinya. Jangan berasumsi bahwa pembaca pasti tahu Universitas Pancasila itu ada di Jakarta. Oleh karena itu tambahkan nama kota dibelakangnya, misalkan Sarjana Akuntansi Universitas Pancasila – Jakarta.

Mudah Dibaca dan Mudah Dicerna

CV yang dibuat secara kacau-balau menggambarkan pikiran yang tidak jernih dan ketidakmampuan penulis dalam menuangkan isi hatinya. Oleh karena itu sangat penting membuat CV yang mudah dibaca, mudah dicerna, urutannya jelas, dan logis.
Bila perlu bagian-bagian atau kata-kata yang anda anggap sangat penting untuk ditonjolkan, dapat ditulis dengan huruf tebal (bold). Namun jangan terlalu banyak bagian yang ditebalkan, sehingga tidak terlihat lagi bagian yang sangat penting tersebut.

Sumber : Yayasan KPT, Hilmy AAP, CV. Flamboyan, Anna T. Yuliati, dsb

ayo-bekerja!!!

Permalink Leave a Comment

My Curricullum Vitae

21 November 2008 at 10:17 AM (Uncategorized)

Curriculum Vitae

I. Identitas Personal

Nama : Cut Hani Bustanova

Jenis Kelamin : Perempuan

Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 12 Juli 1989

Kebangsaan : Indonesia

Agama : Islam

Status Perkawinan : Belum Menikah

Tinggi dan Berat Badan : 157 cm & 49 kg

Telepon : 021-78883115

Handphone : 961 33 116

E-mail : bismillah.first@gmail.com; hany27231@yahoo.co.id

Website : www.bustanova.wordpress.com

II. Riwayat Pendidikan

II. 1 Pendidikan Formal

Institusi Pendidikan

Tahun Masuk

Tahun Lulus

TK Islam Al-Hidayah Pamulang, Banten

1993

1995

MI Pembangunan UIN Jakarta

1995

2001

MTs Pembangunan UIN Jakarta

2001

2004

SMAN 70 Bulungan Jakarta

2004

2007

Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

2007

till now

II. 1 Pendidikan Non-formal

Institusi Pendidikan

Tahun Masuk

Tahun Lulus

LIA Ciputat

2003

2004

Bimbingan Terpadu Alumni (BTA) 70, Mayestik

2206

2007

III. Kemampuan

Saya ammapu bekerja sebagai Office Girl. Saya bias menyapu, mengepel, menghidangkan minuman, mencuci priring , dan sebagainya. Saya adalah orang yang rajin, ulet, sabar, dan dapat mengontrol emosi ketika bekerja. Saya juga dapat bekerja dengan konsisten dan serius selama pekerjaan tersebut tidak menghalangi atau mengganggu kewajiban saya sebagai seorang mahasiswi yang beragama islam. Sebagai tambahan, saya juga mampu mengoperasikan Microsoft Word, Excel and Powerpoint. Selain itu, saya juga dapat berkomunikasi menggunakan bahasa inggris baik aktif maupun pasif.

IV. Pengalaman Kerja

Saya belum pernah bekerja pada suatu institusi atau perusahaan manapun sebelumnya.

V. Pengalaman Organisasi

Organisasi

Jabatan

Masa Jabatan

Pasukan Khusus Andalan (PASKHAND) MTs Pembangunan

Anggota

2001-2002

Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) MTs Pembangunan

Anggota

2002-2003

Kerohanian Islam (ROHIS) MTs Pembangunan

Anggota

2001-2003

Seksi Kelompok Ilmiah Remaja (SKIR) SMAN 70

Anggota

2004-2005

Kerohanian Islam (ROHIS) SMAN 70

Anggota

2004-2006

Tata Laksana Upacara SMAN 70

Staf Koordinator Upacara

2005-2006

Forum Ukhuwah dan Studi Islam (FUSI) Psikologi UI

Staf Departemen Syiar Peduli

2008

VI. Pengalaman Kepanitian

Kepanitian

Jabatan

Masa Jabatan

HUT SKIR SMAN 70

Sekretaris

2004-2005

Sketsa ROHIS SMAN 70

Sie. Publikasi

2005-2006

Variasi dan Formasi Zona Pelajar VAFOR (TLUP SMAN 70)

Humas

2005-2006

Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) FUSI Psikologi UI 2008

Ketua

2008

‘Cangkir’ (Bincang Kastrat in Here) 2008 BEM F. Psikologi UI

Staf Koordinator Acara

2008


hany-maba-2007

Permalink Leave a Comment

Daftar Matakuliah Angkatan 2007 Psikologi UI

21 November 2008 at 8:43 AM (perkuliahan)

daftar matakuliah yang pernah hani ikuti:

Semester I (total 6 matakuliah)

MPKT

MPK bahasa Inggris

Psikologi Umum dan sejarah Aliran Psikologi

Logika dan Penulisan Ilmiah

Konsep Ambisi, Kenyataan, dan Usaha

Bimbingan Pendidikan

Semester II (total 7 matakuliah)

MPK Agama

MPK Teater

Individu dan Kebudayaan Masyarakat

Filsafat Manusia

Metode Penelitian dan Statistik I

Psikologi Umum II

Psikologi Faal

Semester III (total 8 matakuliah)

Logika dan Penulisan Ilmiah (Mengulang)

Metode Penelitian dan Statistik

Psikologi Belajar

Psikologi Industri dan Organisasi

Psikologi Perkembangan

Psikologi Sosial

Kenakalan Anak di Indonesia

Polisi dan Pemolisian

Permalink Leave a Comment

my life span development from prenatal till adolescence

20 November 2008 at 8:34 AM (Uncategorized)

MAKALAH PSIKOLOGI PERKEMBANGAN

“My Life Span Development”

–from prenatal till adolescence periode–

Cut Hani Bustanova (07 06 280 611)

Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

November 2008

PENDAHULUAN

Psikologi Perkembangan manusia adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia yang merupakan proses yang selalu berlangsung berubah-ubah sekaligus stabil. Pada abad ke-19, penelitian ilmiah mengenai perkembangan manusia sudah dimulai terutama pada perkembangan kanak-kanak, kemudian berlanjut sampai perkembangan orang dewasa. Pada dasarnya, tujuan mempelajari perkembangan manusia adalah untuk menggambarkan (to decribe), menjelaskan (to explain), memprediksi (to predict), dan memodifikasi (to modify) perilaku manusia itu sendiri. Untuk itu, metode penelitian yang paling sering digunakan yaitu penelitian longitudinal sebab merupakan metode penelitian yang paling tepat untuk menjelaskan perkembangan yang berlangsung terus-menerus dari awal sampai akhir kehidupan manusia.

Berkaitan dengan ini, Baltes dalam Papalia menyatakan 6 konsep perkembangan yaitu: perkembangan berlangsung terus-menerus, perkembangan mencakup aspek peningkatan maupun penguranga, perkembangan dipengaruhi oleh faktor-faktor biologis dan unsur budaya, perkembangan dipengaruhi latar belakang sejarah dan konteks budaya, perkembanagn menunjukan plasticity, perkembangan mencakup perubahan sumber-sumber dalam kehidupan. Sesuai dengan pernyataan Batles, perkembangan manusia dipengaruhi oleh faktor hereditas dan lingkungan. Faktor hereditas berasal dari gen kedua orang tua seseorang sedangkan faktor lingkungan antara lain keluarga, status sosial ekonomi dan lingkungan rumah, budaya dan etnis, latar belakang sejarah, asupan gizi, pemeliharaan kesehatan, dan pendidikan yang ditempuh seseorang.

Dalam ilmu psikologi perkembangan manusia, dikenal lima perspektif besar, yaitu: 1) perspektif psikoanalitis yang dipelopori oleh Freud’s dan Erikson; 2) perspektif belajar yang dipelopori oleh Bandura, Watson, dan Skinner; 3) perspektif kognitif yang dipelopori Piaget dan Vygotsky; 4) perspektif evolusi/sosiobiologi yang dipelopori oleh Wilson; 5) perspektif kontekstual yang dipelopori oleh Bronfenbrenner. Kelima perspektif ini saling melengkapi satu sama lain untuk menjelaskan tahapan perkembangan manusia. Selain itu, perkembangan manusia dapat dipelajari berdasarkan tiga sudut pandang penting, yaitu: perkembangan fisik, perlembangan kognitif, dan perkembangan psikososial dimana tiap sudut pandang saling mempengaruhi satu sama lain.

Seperti yang telah penulis paparkan sebelumnya, perkembangan bermula dalam rahim ibu sampai dengan akhir kehidupan yang ditandai dengan kematian seseorang. Untuk itu, agar dapat dipelajari secara sistematis dan rinci, Papalia (2007) membagi perkembangan manusia ke dalam delapan periode kehidupan, yakni: 1) bayi dan 3 tahun pertama kehidupan; 2) masa kanak-kanak awal; 3) masa kanak-kanak pertengahan; 4) masa remaja; 5) masa dewasa muda; 6) masa dewasa madya; 7) masa dewasa akhir. Namun dalam makalah ini penulis hanya akan menuliskan perkembangan kehidupan sampai pada masa remaja saja, mengingat usia penulis yang baru menginjak 19 tahun.

ISI

I. Masa Prenatal dan Bayi (Infancy)

Informasi mengenai perkembangan masa prenatal dan bayi diri saya peroleh dari ayah, sebab ibu saya telah meninggal dunia. Berdasarkan keterangan ayah, ketika ibu mengetahui bahwa beliau hamil, usia kandungannya sudah berjalan tiga minggu (Embryonic Stage) dan beliau saaat itu berusia 25 tahun. Kemudian ketika usia kandungannya menginjak 4 bulan, Ibu mulai merasakan janin sedikit bergerak dan pada bulan ke tujuh kehamilan, gerakan janin terasa makin sering dan kuat, ditandai dengan gerakan kaki menendang perut ibu (Fetal Stage) yang terus berlangsung sampai proses kelahiran.

Ibu saya menyuplai asupan gizi yang baik untuk bayinya namun menurut ayah beliau suka sekali memakan soto yang bergajih, selain itu beliau mengonsumsi vitamin penyubur kandungan. Saat itu, berat badan ibu sekitar 45 kg dan bertambah menjadi sekitar 65 kg. Ibu saya juga aktif mengajar di suatu SD (5 hari dalam satu minggu), namun beliau tidak mengalami stress kerja. Beliau juga tidak sedang mengonsumsi obat-obatan karena penyakit tertentu, walaupun setahun sebelum saya lahir, beliau menjalani operasi usus buntu. Sedangkan ayah saya secara fisik maupun psikologis memberikan pengaruh yang baik terhadap perkembangan janin ibu. Lingkungan tempat tinggal orang tua saya juga cukup kondusif, jauh dari kebisingan dan polusi udara. Sehingga janin yang dikandung ibu tidak mendapat pengaruh pada masa prenatal ini.

Selanjutnya setelah sembilan bulan beberapa hari, tepatnya tanggal 12 Juli 1989, melahirkan saya dengan cara normal. Sayangnya, ayah saya tidak mengetahui secara persis tahapan melahirkan yang dialami ibu, karena beliau tidak ada di damping Ibu ketika itu. Keadaan fisik saya ketika baru dilahirkan adalah sebagai berikut: panjang tubuh 52 cm, berat badan 3,2 kg, kepala agak lonjong, wajah putih (asumsi ayah disebabkan oleh gajih), rambut tebal, dan pernapasan serta pencernaan berfungsi dengan normal, sebagai tambahan mata saya sudah terbuka dan saya juga menangis ketika dilahirkan. Secara keseluruhan, saya lahir sebagai bayi yang sehat dan normal. Menurut ayah, beliau mendapatkan dokumen tertulis (semacam Apgar Scale) ketika saya lahir, namun saat ini dokumen tersebut tidak dapat ditemukan.

II. Masa Tiga Tahun Pertama Kehidupan (The First Three Years)

Masa tiga tahun pertama kehidupan saya berlangsung di sebuah rumah di jalan Andara Pondok Labu. Selama tiga tahun pertama kehidupan, waktu tidur saya berjalan normal (sekitar 3-4 kali sehari). Ibu saya memberikan ASI hanya sampai usia dua bulan, karena beliau tidak menghasilkan ASI yang cukup dan memiliki aktivitas mengajar dengan intensitas cukup tinggi sehingga saya diberikan susu botol sebagai penggganti. Selain itu, Ibu juga rutin membawa saya ke posyandu untuk mendapatkan imunisasi dan melaksanakan imunisasi secara bertahap dan lengkap. Perkembangan bahasa yang saya alami adalah sebagai berikut: babbling ketika usia sekitar 4-5 bulan, penggunaan gesture mulai pada usia 7-8 bulan, first word timbul pada 8-9 bulan dan first sentences pada usia 15 bulan. Pada usia sekitar 18 bulan saya sudah sangat ‘cerewet’ berbicara (naming explosion). Pada usia 18 bulan juga saya sudah bisa berjalan. Perkembangan psikososial yang terjadi pada diri saya secara umum berjalan normal. Saya menangis, tersenyum, dan tertawa seperti anak yang lain. Namun saya memiliki temperamen difficult children, karena saya akan marah jika orang lain mencolek atau mengganggu saya dan akan secara agresif memukulnya atau menunjukan ekspresi wajah tidak suka namun jika sudah kenal dekat saya tidak akan berperilaku demikian. Mengenai perkembangan kognitif, saya tidak dapat memaparkannya secara rinci, tetapi secara umum saya tidak mengalami gangguan fungsi kognitif dan memiliki tahap perkembangan yang relatif sama dengan bayi-bayi lain.

Saya meraih trust dari kedua orang tua, terutama dari ayah sebab setahun setelah saya lahir Ibu saya sering menderita sakit yang berhubungan dengan pernapasan, yang akhirnya divonis mengidap kanker paru-paru sehingga saya jarang sekali tidur dengan ibu melainkan dengan ayah. Dengan demikian, saya mendapatkan secure attachment dengan ayah, dibuktikan dengan ketika ayah akan berangkat ke kantor saya akan menangis sebelum diajak berkeliling gang satu kali dengan motor begitupula ketika beliau pulang saya sangat antusias menyambutnya. Walaupun demikian, saya juga sering berjalan-jalan ke supermarket dengan ibu pada akhir pekan. Selain itu, saya juga mengalami stranger dan separation anxiety ketika berhadapan dengan orang yang baru saya temui dan merasa sedih ketika pengasuh saya pergi meninggalkan saya, sebab di samping ayah saya juga diasuh oleh pembantu dan saya mengalami mutual regulation dengan pengasuh tersebut.

Saya juga termasuk anak yang memiliki autonomi dan self-control yang cukup baik ditandai dengan kebiasaan saya buang air kecil sebelum tidur yang diinternalisasikan dan disosialisasikan oleh ibu saya. Proses sosialisasi dan internalisasi lainnya antara lain membiasakan cium tangan dan makan dengan tangan kanan. Pada masa tiga tahun pertama kehidupan ini, saya juga dikaruniai seorang adik yang yang jaraknya dua tahun. Hubungan saya dengan adik berlangsung dengan cukup baik walau saya lebih aktif dan dia lebih pendiam.

III. Masa Kanak-kanak Awal (Early Childhood)

Perkembangan fisik saya pada masa ini berlangsung dengan normal. Saya memiliki tinggi yang normal dan berat badan cukup gemuk. Gigi susu pertama saya tumbuh ketika saya berusia 15 bulan. Demikian pula dengan pola tidur, saya tidak mengalami gangguan tidur dan pada usia dua tahun sudah jarang mengompol di tempat tidur. Namun, saya justru sering mengalami gangguan tidur berupa sleep walking dan sleep talking pada masa middle childhood bahkan beberapa kali pada masa awal adolescence, walaupun tidak terjadi setiap malam. Perkembangan motorik saya berkembang secara seimbang antara gross motor skills dan fine motor skills, karena saya senang bermain mainan yang ada di TK (ayunan, jungkat-jungkit, dan sebagainya) dan juga senang menggambar namun saya tidak dapat mengambarkan secara rinci artistic development yang ada pada diri saya. Saya juga menggunakan tangan kanan untuk menulis dan melakukan kegiatan-kegiatan lain karena ibu saya mengajarkan demikian. Mengenai isu kesehatan, saya pernah satu kali mengalami kecelakaan mobil yang mengakibatkan kulit kepala saya robek dan harus dijahit, tetapi hal itu tidak berdampak negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan otak saya. Begitupula dengan lingkungan, secara umum lingkungan memberikan sumbangan positif pada perkembangan fisik saya. Hal ini ditandai dengan status pekerjaan ayah sebagai pegawai negeri sipil golongan dua yang mendukung status sosial ekonomi keluarga saya dan lingkungan perumahan komplek yang cukup aman dan kondusif meskipun pada usia empat tahun saya berpindah rumah dari Pondok Labu ke Pamulang. Kebiasan buruk yang saya lakukan pada masa ini adalah menghisap dan mengigit jari jempol, yang berawal pada masa early childhood. Kebiasaan ini terus berlangsung sampai sekarang (19 tahun), terutama ketika saya sedang belajar atau membaca buku. Saya juga paling takut dengan kecoa dan ketakutan ini tetap ada sampai masa kuliah. Hal ini menunjukan bahwa dalam aspek perkembangan manusia seseuatu terjadi secara terua menerus.

Berikutnya paragraf ini akan berisi tentang perkembangan kognitif saya selama early childhood menurut teori kognitif Piaget dan Information Processing Theory dan perkembangan berbahasa. Berdasarkan ingatan ayah, saya sudah mampu menggunakan fungsi simbolik sebab saya sudah dapat meminta pergi ke pasar swalayan untuk bermain permainan tertentu dan saya juga sudah dapat berhitung secara berurutan dari angka satu sampai sepuluh sebelum berusia empat tahun. Mengenai fungsi kognitif lain, saya belum memperoleh informasi yang cukup jelas dan rinci. Namun demikian saya juga menderita egocentrism dan conservation seperti anak lainnya. Selain itu, saya juga sudah mampu menggunakan generic memory, karena pada usia 4-5 tahun saya sudah tahu jalan pulang dari TK ke rumah, yang berjarak 200 meter, tanpa perlu ditemani pengasuh atau ibu. Mengenai perkembangan bahasa, saya sering menyebut diri saya dengan nama panggilan ”Hani” bukan saya atau aku, namun panggilan itu memiliki maksud yang sama dan menunjukan perkembangan grammar dan syntax yang baik.

Terakhir mengenai perkembangan psikososial, selama masa early childhood saya sudah sering mengikuti dan memenangkan berbagai macam perlombaan sehingga dapat dikatakan memiliki self-esteem yang tinggi dan initiative yang tinggi. Sedangkan mengenai isu gender, kedua orang tua saya sudah mengenalkan identitas gender sebagai perempuan, peran-peran sebagai perempuan dengan membelikan mainan-mainan berupa masak-masakan dan boneka. Pada tahap ini, saya juga sudah mampu constructive dan pretend play yang ditandai dengan kesukaan saya mewarnai gambar dan bermain masak-masakan. Pola asuh yang diterapkan oleh orang tua saya saat itu adalah autoritatif, sebab biasanya mereka mengajak berenang sebagai reinforcement ketika saya meraih suatu prestasi dan cenderung menggunakan verbal expression dan terkadang withdrawal of love (dengan mengurung saya di kamar mandi) ketika melakukan kesalahan sebagai bentuk punishment yang mereka lakukan untuk membentuk disiplin pada diri saya. Perilaku prososial dan agresi jarang muncul pada saat saya berada pada tahap ini. Saya juga tidak memiliki ketakutan yang berlebihan, menurut ayah, saya hanya takut pada jarum suntik. Hubungan saya dengan orang lain selain orang tua dan pengasuh juga sangat baik terutama dengan adik kandung dan teman-teman bermain di TK.

IV. Masa Kanak-kanak Pertengahan (Middle Childhood)

Masa Middle Childhood saya berlangsung cukup singkat, hanya 5 tahun (6-10 tahun) sehingga saya masuk ke masa Adolescence lebih awal. Saya tetap memiliki tubuh yang cukup gemuk sampai usia sekitar 7 atau 8 tahun dan dengan tinggi badan yang seimbang. Karena hal tersebut saya dipanggil”Atun” oleh teman-teman sekolah dan tukang sampah di komplek. Saya juga mendapatkan asupan gizi yang cukup baik karena sampai kelas 5 SD selalu diwajibkan minum susu dan sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolah. Namun demikian, saya sempat berobat jalan selama 6 bulan saat kelas 2 SD untuk menghilangkan penyakit paru-paru basah yang berasal dari ibu kandung saya, selebihnya saya beberapa kali mengalami gejala tipes, penyakit pencernaan, dan kecelakaan kecil. Pada usia 6 sampai 9 tahun saya ‘wajib’ tidur siang sekitar 2-3 jam perhari namun ketika menginjak usia 10 tahun kewajiban itu perlahan mengendur berganti kegiatan ekstrakurikuler yang saya ikuti di sekolah. Karena kesibukan kegiatan sekolah dan ekstrakurikuler (pramuka dan seni tari), berat badan saya perlahan turun. Ketika masa ini, saya senang sekali bermain sega (semacam play station) dan lompat tali dengan teman-teman di sekolah.

Saya diterima di Madrasah Ibtidaiyah Pembangunan UIN JAKArta (sekolah islam swasta) pada Juli 1995, saat itu saya sudah memiliki kemampuan akademik dasar yang dibutuhkan untuk memasuki sekolah dasar yakni membaca, menulis, dan berhitung yang berada di tingkat rata-rata. Selanjutnya, saya memang cenderung meraih prestasi yang cukup baik selama kelas 1 sampai kelas 4 SD. Ketika kelas tiga SD saya sudah mampu menghafal dan mengoperasikan pertambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian di luar kepala. Saya juga senang sekali mengarang yang menuntut kemampuan induksi maupun deduksi, saya sudah mengetahui rute-rute perjalanan dalam komplek perumahan dimana tempat-tempat strategis berada seperti restoran, toko buku, swalayan, masjid dan sebagainya. Sejak kelas 1 sampai 4 SD, saya selalu mendapat ranking sepuluh besar di kelas, hal ini menunjukan perkembangan kognitif saya berlangsung dengan baik. Beberapa hal yang mempengaruhi prestasi saya di sekolah adalah self-efficacy yang tinggi, ibu yang selalu mendukung dan membantu belajar, guru private yang sempat mengajar saat masa-masa awal setelah ibu saya meninggal, status sosial ekonomi keluarga saya yang cukup baik dan juga sistem pendidikan di sekolah yang sangat menunjang.

Ayah saya selalu menyediakan banyak buku bacaan, baik fiksi maupun non-fiksi, karena beliau memang bekerja di bidang pendidikan dan mempunyai banyak teman yang bekerja di bidang penerbitan buku. Hal inilah yang meningkatkan perkembangan bahasa saya sejak masa ini dan berlanjut sampai adolescence nanti. Karena banyak membaca buku, saya mengetahui lebih banyak kata kerja dan istilah-istilah tertentu (pragmatics) dan kemampuan ini saya salurkan melalui bentuk karangan dan puisi.

Perkembangan psikososial saya berjalan baik dan normal. Ketika kelas 4 SD saya sudah merasa sangat pandai pada pelajaran bahasa Indonesia dan ilmu sosial, dan ilmu alam dan merasa tidak terlalu pandai pada pelajaran matematika, saat itu saya sudah mengembangkan representational system. Saya juga memiliki self-esteem yang tinggi sebab saya suka menjadi pemimpin pada upacara hari senin, mengikuti pertunjukan tari, dan kegiatan pramuka. Hal tersebut juga menunjukan saya sudah dapat memperoleh rasa bangga. Saya juga memiliki rasa peduli yang tinggi pada teman-teman saya dan cenderung berperilaku prososial pada berbagai kesempatan. Ditandai dengan seringnya saya meminjamkan catatan atau PR kepada teman yang meminta.

Di dalam keluarga, saya merupakan anak pertama. Seharusnya jika kakak saya lahir dengan sempurna dan masih hidup saya menjadi anak kedua. Seperti yang sudah saya katakan pada awal tulisan, mendekati ulang tahun saya yang ke 7, Ibu saya meninggal dunia. Hal ini berdampak negatif pada pencapaian prestasi saya (saya meraih ranking terburuk (ranking 9) selama Sekolah Dasar saat kelas dua SD). Namun, dengan fasilitas guru private tambahan di rumah, saya dapat mempertahahan prestasi saya kembali. Kemudian untuk menghadirkan kembali peran ibu dan tentu saja mencukupi kebutuhan kami sekeluarga, ayah saya memutuskan untuk menikah kembali sebelum usia saya genap 8 tahun. Jadi saya mendapatkan figur seorang ibu kembali. Hubungan yang terjalin antara saya dan orang tua tidak sedekat waktu saya berada pada masa tiga tahun pertama kehidupan. Saya jarang sekali bertukar pikiran dengan ayah begitu juga ibu sambung saya. Namun selama periode ini, saya tidak pernah mengalami konflik yang cukup berarti dengan keduanya. Pada masa ini, saya sering sekali bertengkar dengan adik saya, seringkali kami merasa iri satu sama lain, mungkin karena jarak usia yang dekat atau perlakuan ayah yang selalu memuji-muji saya di depan keluarga besar dan relasinya yang tidak beliau lakukan terhadap adik saya yang memang selama masa Middle Childhood tidak menunjukan prestasi belajar yang cukup signifikan. Terkadang ayah saya menggunakan hukuman fisik ketika pertengkaran kami sudah melewati batas atau membuatnya sangat jengkel dan kesal sehingga kami merasa takut dan enggan berbagi cerita dengan ayah. Ibu sambung saya termasuk orang yang pendiam, beliau jarang berbicara dan bercengkrama dengan kami sehingga ketika ada konflik antara kami dan ayah beliau cenderung diam dan tidak berani membela kami. Dalam hal ini, ayah saya menganut pola asuh autoritarian. Dimana kami dilarang keras bermain ke rumah teman seusai pulang sekolah dan hal ini terus berlanjut sampai masa Adolescence.

Di sisi lain, saya tidak pernah memiliki peer masa ini, saya hanya memiliki satu sahabat yang dekat sekali ketika kelas 3 SD yang bernama Tika. Selebihnya hubungan saya dengan teman-teman relatif baik tidak hanya pada satu orang namun beberapa orang. Berdasarkan isu popularitas, saya termasuk anak yang dikenal punya popularitas yang baik karena prestasi dan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler yang saya ikuti.

V. Masa Remaja (Adolescence)

Seperti yang telah saya sampaikan pada tahap middle childhood, saya mengawali masa remaja pada usia 10 tahun. Saya mengalami menarche tepatnya tanggal 10 April 1999. Beberapa bulan sebelum menarche, rambut kelamin dan ketiak saya telah tumbuh walaupun jumlahnya sedikit, payudara saya juga sudah membesar. Namun saya mengalami kelainan fisik yakni puting payudara saya tidak tumbuh sempurna (cenderung terlihat seperti tidak memiliki puting). Pertumbuhan fisik saya juga cukup normal dengan berat badan berkisar antara 45-52 kg selama usia 10-19 tahun dan tinggi badan 157 sentimeter. Ketika mengalami menarche pertama saya mengalami sakit perut, namun selang 5-6 tahun berikutnya saya jarang sekali mengalami sakit perut. Saya mengalami PMS seperti remaja wanita lain, yang biasanya ditandai dengan kecenerungan untuk lebih emosional dan ingin selalu marah dan akhirnya menangis. Anehnya, pada masa akhir SMA dan awal perkuliahan, saya makin sering menderita sakit perut karena haid pada hari-hari pertama haid.

Pada masa adolescence saya menjalani tiga tingkatan pendidikan, 2 tahun SD, 3 tahun SMP, dan 3 tahun SMA, danpada masa awal perkuliahan. Saya bersekolah di lembaga yang sama (Madrasah Pembangunan UIN Jakarta) selama SD dan SMP sedangkan pada saat SMA saya memilih Sekolah Negeri yang letaknya relatif jauh dari rumah (berjarak 18 km dari rumah). Setidaknya terdapat tiga kejadian penting menyangkut perpindahan tempat selama saya menjalani masa adolescence. Pertama, pada tahun 1999 (kelas 5 SD) saya pindah sekolah ke Madrasah Pembangunan Pusat yang terletak di kawasan Ciputat sehingga saya perlu mengendarai mobil jemputan sekolah untuk sampai ke sekolah (sejak kelas 1-4 saya bersekolah di cabangnya yang terletak di Pamulang). Kedua, pada akhir tahun 2000 (kelas 6 SD), kami sekeluarga pindah rumah ke komplek Pondok Hijau, Ciputat yang hanya berjarak sekitar 2 km dari sekolah sehingga cukup menggunakan ojek untuk sampai ke sekolah. Kami tetap tinggal di rumah ini sampai saya lulus SMA. Ketiga, pada pertengahan 2004 saya diterima di SMA 70 yang terletak di daerah Kebayoran Baru. Ketiga perpindahan ini mempengaruhi masa remaja saya baik dari segi fisik, kognitif, dan psikososial.

Ketika masa kelas 5-6 SD, saya pernah memiliki sahabat dan clique. Saya juga pernah mengalami ‘cinta monyet’ yang terkadang mempengaruhi prestasi saya walaupun pengaruh tersebut tidak signifikan. Selebihnya, akhir masa SD saya disibukkan dengan latihan dan belajar menghadapi UAN SD dan persiapan menuju SMP. Saya pernah beberapa kali mengalami depresi terutama saat awal masa adolescence. Suatu kali, di penghujung kelas 6 SD, saya pernah tidak pulang ke rumah dan berniat kabur dari rumah karena sudah pulang terlalu sore (mendekati magrib akibat bermain ke rumah teman), karena tidak tahu mau pergi kemana, saya berjalan dari rumah teman saya yang sekomplek ke rumah nenek saya yang terletak di dekat sekolah. Hal ini saya lakukan karena kebencian yang membuncah pada ayah saya yang begitu otoriter dan takut terkena hukuman karena pulang sekolah terlambat. Pada tahun-tahun berikutnya, perlahan perilaku ayah saya mulai membaik walaupun tidak secara spontan berubah. Di sini terlihat betapa pola asuh sangat berpengaruh pada perkembangan anak. Selain itu, aktivitas yang saya lakukan sepulang sekolah adalah mengikuti pengajian rutin dari hari Senin sampai Jumat. Saya memiliki satu orang sahabat bernama Momoh yang tidak pernah saya temui lagi sampai saat ini, karena kabarnya dia pindah ke kampungnya di Tasikmalaya. Persahabatan kami berlangsung sekitar 2 tahun ketika saya masih tinggal di Pamulang, saya sempat memberinya beberapa pakaian yang masih layak pakai, berhubung dia berasal dari keluarga dengan SES rendah (ketika itu ibunya bekerja sebagai buruh kerja di rumah saya). Nama lembaga pengajian itu adalah Raudhatul Al-Qut’an. Di tempat ini juga, sya mampu menghapal tiga juz pertama dan satu juz terakhir Al-Qur’an sehingga saya memperoleh penghargaan dan hadiah berupa satu set baju muslim.

Ketika masa SMP, saya tetap dapat mempertahankan prestasi dengan meraih ranking 10 besar selama tiga tahun berturut-turut. Ranking terburuk yang pernah saya raih adalah ranking lima ketika berada di kelas unggulan pada semester pertama kelas 3 SMP. Hal ini menunjukan perkembangan fungsi kognitif saya berkembang cukup baik. Sedangkan perkembangan cara berpikir saya yang belum matang (Elkind) pada masa ini yang paling menonjol adalah Idealism and criticalness, Argumentativeness, dan Indecisivenesss. Pada masa remaja inilah saya seringkali mengalami ‘perang mulut’ dengan ayah saya, saya bermaksud mengemukakan argumen-argumen namun ayah mengartikannya sebagai bentuk pembangkangan. Saya juga seringkali merasa lebih pandai daripada orang tua saya dan juga seringkali bingung menentukan pilihan namun di sisi lain sudah ingin memiliki kebebasan menentukan pilihan. Saya juga telah masuk pada tahap conventional morality, dimana saya berpikir harus tetap berperilaku baik dan menjadi anak yang pintar yang dapat membanggakan keluarga. Hal ini sering terjadi ketika saya ingin mengikuti beberapa macam ekstrakurikuler sekaligus yang dilarang oleh ayah saya sebab beliau khawatir akan mengganggu kesehatan fisik dan akhirnya berakibat buruk pada pencapaian prestasi. Pada satu titik, saya akhirnya harus memilih meninggalkan salah satu eksrakurikuler (yakni PASKHAND) dan tetap mengikuti KIR. Selama kelas 1 SMP aya mengikuti PASKHAND, dan saat kelas 2 SMP saya beralih mengikuti KIR dan bersahabat akrab sekali dengan Irma (teman sekelas dan se-ekskul). Pertemanan kami terus berlanjut sampai kelas 3. Hubungan kami semakin lama semakin dekat, karena selalu terlihat berdua di sekolah. Sampai masa SMA pun kami masih sering membina komunikasi yang baik walaupun berbeda sekolah.

Jika dilihat dari perkembangan bahasa, saya adalah remaja yang pandai membuat puisi, mengingat pada masa SMP saya sudah banyak membaca novel-novel karya Mira W yang ada di perpustakaan sekolah, saya juga suka membaca literatur berbau sastra Indonesia, sebaliknya komik yang pernah dan suka saya baca hanya Detective Conan. Puisi ini juga terkadang ‘curahat hati’ saya ketika sedang jatuh cinta, mengalami konflik dengan ayah maupun pacar. Suatu ketika saya ditawari menulis puisi dan membacakannya pada Hari Guru di SMAN 70. Walaupun performance saya tidak terlalu baik saat ‘berlaga ‘ di atas panggung saya tetap bangga pada diri saya sendiri.

Mengenai hubungan saya dengan pacar, saya memiliki riwayat tersendiri. Saya pertama kali pacaran pada usia 11 tahun (kelas 6 SD). Dan terus berlanjut sampai kelas 3 SMP. Selama 5 tahun tersebut (kelas 5 SD – kelas 3 SMP) saya sudah pernah 3 kali pacaran. Batasan-batasan seksual yang pernah saya lakukan adalah ciuman. Saya tidak berani mengambil risiko lebih jauh lagi. Saya memang mengetahui berbagai macam hal tentang seks dari berbagai sumber seperti film, novel, dan majalah namun pengaruh agama islam dan peraturan-peraturan yang dibuat oleh ayah saya mencegah saya melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.

Seperti yang telah saya sebutkan di atas, saya juga memiliki aktivitas fisik yang cukup banyak di samping belajar, yakni kegiatan ekstrakurikuler KIR dan PASKHAND (semacam Pecinta Alam). Saya sudah tidak setiap hari melakukan ‘ritual ‘ tidur siang. Namun di malam hari saya dapat memenuhi kebutuhan tidur saya. Terkadang saya senang bergadang pada beberapa hari menjelang ujian (UAN dan UAS) dan sepulang ujian saya membalasnya dengan tidur sampai sore. Saya tidak mengalami obesitas seperti pada awal Middle Childhood, walaupun saya tidak mengonsumsi susu setiap hari lagi, asupan gizi yang saya konsumsi cukup baik, karena saya jarang sekali memakan junkfood dan memang orang tua saya tidak memiliki kebiasaan memakan junkfood. Perkembangan fisik yang seperti ini terus berlanjut sampai saya lulus SMA.

Masa remaja saya terus berlanjut ke tingkat pendidikan SMA. Semasa SMA prestasi yang saya raih mengalami penurunan, yang mungkin disebabkan oleh iklim akademis SMA 70 yang merupakan SMA Unggulan Nasional sehingga saya harus bersaing dengan teman-teman saya yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Sistem pendidikannya pun berbeda, dimana tiap pelajaran memiliki nilai SKBM (Standard Ketuntasan Belajar Minimal) yang cukup tinggi minimal meraih nilai 70 pada tiap mata pelajaran. Pada pembagian raport aspek yang dinilai ada tiga: kognitif, afektif, dan psikomotor. Pada rapor tersebut juga sudah tidak ada ranking, yang terkadang kurang memotivasi saya untuk belajar lebih giat. Pada masa SMA saya disibukkan dengan belajar, mengikuti ekstrakurikuler PASKIBRA (TLUP SMAN 70), dan bebrapa macam kepanitian di tingkat sekolah. Saya memiliki kedekatan secara fisik dan emosional dengan teman-teman PASKIBRA karena kami sering sekali berlatih bersama dan mengikuti perlombaan. Moment terindah terakhir yang kita alami adalah menyelenggarakan suatu acara perlombaan PASKIBRA tingkat Jabodetabek “VAFOR”, dimana saya berperan sebgai Humas. Saya dan teman-teman satu angkatan juga menjadi pengurus TLUP SMAN selama satu periode (2005-2006). Namun sayangnya, menginjak bangku kuliah kami sudah jarang bertemu satu sama lain. Suatu hari, ketika kelas 2 SMA sekitar beberapa hari menjelang perlombaan di SMAN 90 , Petukangan Jakarta Selatan, saya mengidap cacar. Hal ini tentunya membuat saya sangat kesal dan sedih, karena tidak dapat mengikuti perlobaan tersebut dan mengecewakan teman-teman TLUP. Namun apa mau dikata, saya tetap sabar, dan cacar itu menghilang segera setelah sekitar 9 hari..

Pada masa SMA, saya merasa Ayah tetap mengasuh saya dengan pola asuh autoritarian. Saya tetap dimarahi kalau pulang terlalu malam karena latihan TLUP. Hal ini yang membuat saya sering berbohong dan berdalih dengan berbagai macam alasan ketika saya pulang terlambat karena bermain di rumah teman atau sekadar nonton film di Twenty One Blok M. Pada Masa akhir SMA saya ingin sekali menlanjutkan kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Keinginan ini sudah timbul sejak saya kelas 6 SD. Saya memang sudah bercita-cita ingin menjadi Psikolog sejak saat itu. Namun saya juga tertarik pada ilmu biologi dan sastra indonesia. Ayah yang notabene orang yang berkecimpung dalam pendidikan (Pegawai Negeri DEPDIKNAS) juga sudah merencanakan saya harus dapat kuliah di UI jauh-jauh hari ketika saya masih di SD. Bahkan saya ingat, ketika saya SD, beliau sudah merencanakan saya harus melanjutkan SMP ke Madrasah Tsanawiyah Pembangunan, SMA ke SMAN 70 atau Al-Azhar, dan tentu saja kuliah di Universitas Indonesia. Alhamdulillah sampai pada tahap SMA keinginan ayah itu terkabul. Hal ini karena saya menyetujui dan sejalan dengan pemikiran ayah. Di sini terlihat jelas motivasi eksternal dan internal seseorang sangat berpengaruh dalam meraih keberhasilan belajar seseorang.

Pada masa SMA saya sempat ‘dicekoki’ oleh ayah harus bisa mengejar Fakultas Kedokteran UI, saya memang tidak membenci jurusan itu, namun minat saya lebih tinggi pada ilmu Psikologi. Akhirnya, pada tahun terakhir SMA, ayah dapat mengerti dan mengizinkan saya memilih psikologi sebagai pilihan pertama SPMB. Perjuangan saya masih terus berlangsung, ayah saya menyarankan mengambil program IPC (Ilmu Pengetahunan Campuran) agar dapat mengambil ilmu kedokteran walau tujuannya bukan UI melainkan UIN yang letaknya dekat dengan rumah. Namun saya berhasil meyakinkan bahwa saya tidak mampu belajar keduanya yakni IPA dan IPS. Dan akhirnya kami berdua sepakat mengambil jalan tengah, yakni pilihan jurusan Ilmu social dengan kombinasi keinginan saya pada pilihan pertama dan saran ayah pada pilihan kedua. Pilihan saya adalah Psikologi UI dan Sastra Inggris UNS. Dan alhamdulillah saya dapat membuktikan dan membuat ayah dan tentu saja seluruh keluarga saya bangga dengan keberhasilan saya masuk F. Psikologi UI. Berdasarkan wacana di atas, saya mengalami Identity Achievement. Selain itu, saya juga akhirnya meraih Identity dengan virtue kepercayaan yang lambat laun saya peroleh dari ayah.

Peraihan identitas ini terus berlanjut sampai sekarang, ketika saya menginjak bangku kuliah di UI. Saya merasa semakin punya kebebasan sekaligus tanggung jawab yang besar dalam berbagai bidang kehidupan misalnya mengatur uang mingguan kos, mengatur pola makan, mengatur waktu pulang malam. Dimana terkadang saya ‘mambandel’ dan memilih menginap di rumah teman yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan ketika saya berada di rumah.

Selama masa SMA saya tidak pernah berpacaran, saya hanya memiliki ’gebetan’ yang merupakan teman akrab di TLUP. Namun menjelang awal perkuliahan saya malah sering bergonta-ganti pacar. Mungkin karana saya lebih meraih kebebasan dengan tinggal di tempat kost di daerah Kober, Depok.

KESIMPULAN

Secara umum perkembangan saya berlangsung normal. Aspek kognitif perkembangan saya berlangsung sangat baik, dibuktikan dengan prestasi-prestasi yang telah saya raih sejak TK, SD, SMP, dan SMA. Aspek fisik saya juga demikian, hanya saja saya cenderung memiliki tinggi badan yang kurang proprosional dan akhir-akhir ini selama masa kuliah, saya cenderung kurang menjaga pola makan dan asupan gizi karena kesibukan kuliah dan status sebagai anak kos. Perkembangan puting payudara saya juga dapat dikatakan tidak sempurna. Saya juga masih mengalami gangguan tidur sleep talking sampai masa adolescence akhir (usia 18 tahun). Pada aspek psikososial, saya mendapat pengaruh dari pola pengasuhan ayah yang cukup dominan sedangkan ibu yang hampir tidak memiliki andil dalam kehidupan. Ayah cenderung mengasuh dengan pola autoritatif walaupun semakin dewasa beliau semakin mengerti dan hubungan kami semakin membaik mungkin saja karena kami hanya bertemu semingggu atau dua minggu sekali. Selain itu, keberadaan ibu tiri tidak terlalu berarti bagi perkembangan psikososial, beliau hanya memenuhi kebutuhan fisik kami (saya dan adik), saya merindukan figure seorang ibu, terutama untuk memahami hal-hal yang berkaitan dengan isu-isu seksualitas. Sedangkan hubungan dengan teman, sahabat dan lawan jenis relatif cukup baik pada masa TK sampai dengan awal perkuliahan (early childhood – adolescence).

Menurut saya, walaupun saya sudah meriah keberhasilan pendidikan, saya masih sering labil dalam menjalani kehidupan. Walaupun usia saya sudah 19 tahun, ketidakmatangan berpikir pada remaja masih saya rasakan dan terbawa sampai ke masa perkuliahan saat ini misalnya indeciveneness dan self-cosciousness. Selain itu, sesuai dengan prinsip perkembangan Baltes, banyak aspek dari perkembangan diri saya yang tetap ada seperti kemampuan berbahasa yang tinggi dan sekaligus berkurang seperti sifat emosional yang sangat terasa pada masa SMA dan intensitasnya berkurang pada awal perkuliahan.

REFERENSI

Papalia, Diane E., Olds, W. Sally & Feldman D. Ruth. (2007). Human

Development 10th Edition. New York: McGraw-Hill Companies, Inc.

LAMPIRAN

Berisi foto dan puisi

Permalink Leave a Comment

from atteen to hany

19 November 2008 at 2:55 AM (renungan)

karena cintaNya padamu, Allah percayakan amanah di langit dan di bahumu

Karena sayangNya padamu, Alah pilihkan jalan penuh cinta untukmu

Pernahkah kau bertanya, Mengapa Allah memilihmu?

Permalink 1 Comment

kissing

12 November 2008 at 8:26 AM (Uncategorized)

MENGAPA kita mencium? jawaban yang keluar bisa beragam. Bisa jadi Anda menjawab karena gairah seksual meningkat. Bisa juga karena ingin menunjukkan rasa sayang, rasa hormat dan lain-lain.

Tapi coba cermati seekor induk burung, entah itu bapak atau ibunya saat sedang memberi makan anaknya. Anda akan sadar bahwa kegiatan yang disebut mencium antar mulut yang satu dengan yang lain bermula dari cara kuno yang dilakukan induk burung saat memberi makan anaknya.

Dalam beberapa kebudayaan, ada kebiasaan seorang ibu yang mengunyah makanan terlebih dahulu sebelum memberikannya pada bayinya. Gaya khas mencium ini didorong oleh perasaan cinta mendalam saat mulut beradu.

Secara teknis, sebuah ciuman mulut dilakukan dengan membuat kontraksi pada dua otot orbicularis di bibir saat bibir-bibir itu diadu. Saat seorang bayi lahir, dia akan menghisap payudara si ibu tanpa perlu diajari. Teknik yang digunakan nyaris sama dengan mencium. Artinya ciuman adalah insting dasar manusia.

Banyak penelitian menegaskan bahwa wanita ternyata lebih suka menikmati ciuman lebih lama daripada pria. Para wanita lebih mudah mengingat pengalaman ciuman romantis mereka yang pertama kalinya daripada pria.

Istilah kiss sendiri yang artinya mencium dalam bahasa Indonesia berasal dari istilah Inggris kuno cyssan, yang muncul sebelum abad kedua puluh. Artinya menyentuh atau memberi perhatian denan bibir sebagai ekspresi dari salam, afeksi, atau penghargaan. Gampangnya, ini merupakan satu cara, di jaman moderen untuk membagi sesuatu yag spesial untuk orang yang spesial.

Ciuman Perancis-French Kiss; Awal Tahun 1920-an

Istilah French Kiss pertama kali diketahui di Inggris pada tahun 1920-an. Aktivitas ini ditandai dengan membuka mulut masing-masing lalu dengan bergairah mengadu lidah satu sama lain.

Kata Perancis (French) disebutkan disini bukan karena ciuman dengan lidah ini adalah ciuman khas Perancis. Ciuman semacam bisa kita temukan dalam berbagai budaya, entah disebut ciuman lidah, cium basah atau soul kissing. Namun orang-orang Amerika dan Inggris menamakannya demikian karena menganggap orang-orang Perancis sangat liberal dalam hal kegiatan seks.

Tidak heran pula ada banyak istilah seks dikaitkan dengan Perancis (French).
Ada French disease (syphilis), French love letter (kondom), French postcard (gambar-gambar porno), Frenching (oral seks), French woman (pelacur).

Ciuman Romantis, Awal Mula Bangsa Eropa
Tidak semua budaya memiliki gaya bercium romantis. Tampaknya kebiasaan mencium secara romantis ini bermula dari kebudayaan awal mula orang-orang Eropa muncul. Setidaknya hal ini bisa dilacak cari teks dan literature yang ada.

Orang-orang Teuton Jerman, Yunani, Romawi dan juga klan Semit adalah yang memulai mengembangkan gaya ciuman romantis. Kelompok orang-orang ini menyebar ke mana-mana.

Orang China kuno dan Jepang tentu saja juga melakukan ciuman. Namun malu-malu, sehingga tidak mau ketahuan orang lain. Ciuman adalah kegiatan pribadi antara dua orang dan tidak layak untuk didiskusikan apalagi ditulis.

Saat orang Eropa mulai mengunjungi wilayah timur di abad enam belas, orang-orang China dan Jepang sempat terkejut serta merasa luar biasa dengan kebiasaan orang Eropa yang tidak malu-malu berciuman di depan publik.

Pada pertengahan abad sembilan belas, saat bahasa China mulai diterjemahkan ke bahasa barat, mulailah ditemukan tulisan baru yang menggambarkan gaya ciuman romantis.

Ciuman a la Eskimo

Gaya mencium dengan menempelkan hidung satu sama lain bemula dari kebiasaan yang dilakukan oleh orang Polynesia, sebagian Asia, Afrika, dan Eskimo artik. Orang Eskimo malah melakukannya dengan cara menempelkan mulut dan hidung di pipi sambil menghirup udara. Mereka saling membaui satu sama lain. Dalam kasanah bahasa Eskimo, kata ‘mencium’ justru punya arti ‘membaui’. Tidak heran bila dalam industri parfum, bau memberi kesan erotis tersendiri karena dijual dan diperdagangkan.

Bahkan dalam kebudayaan Semit pernah diceritakan saat Iskak meminta Jakub menciumnya, sebelum memberkatinya. Meskipun sebenarnya Iskak bermaksud hendak membaui apakah benar yang dimintanya itu Esau, kakak Jakub. Sayang, karena Jakub lebih cerdik, dengan baju kulit yang dikenakannya, Iskak terkelabui, sehingga berkat datang pada Jaku (Kitab kejadian 27:27).

Ciuman Pipi

Orang-orang wanita Indian Amerika Utara melakuka bentuk ciuman ini dengan cara menempelkan bibir dengan rilek ke pipi seorang laki-laki tanpa gerakan lain atau suara tertentu. Maksudnya tidak lain adalah hendak merasai bau si pria.

Ciuman Tangan
Ciuman tangan mulai muncul di beberapa wilayah bagian India dan Arab Peninsula. Di budaya tertentu malahan kebiasaannya lain lagi. Orang mencium tangannya sendiri kemudian menempelkannya ke dahi orang lain. Kebudayaan lain menceritakan hal yang lain lagi, saat dua orang pria bertemu mereka akan memberi salam satu sama lain dengan cara mencium secara cepat punggung tangan satu sama lain. di Eropa, ciuman tangan pada seorang wanita dikenal dengan sebutan Handkuss.

Selama abad pertengahan, beberapa rabbi di wilayah timur mengadopsi kebiasaan menggunakan sarung tangan tipis entah itu musim salju ataupun panas untuk menghindari gairah atau birahi. Sarung tangan itu digunakan untuk menghindari gejolak yang mungkin timbul saat bertemu seorang wanita. Kebiasaan mereka justru si wanitalah yang mencium punggung tangan pria.

Ciuman Menghisap Bibir

Orang-orang India memiliki bentuk ciuman yang lebih dahsyat lagi, yakni cara mencium dengan menghisap bibir orang dicium secara secara bergairah. Dalam Kama Sutra hal semacam ini diajarkan. Cara ciuman ini persisnya adalah ketika seorang pria menghisap bibir atas si wanita, si wanita sebaliknya menghisap bibir bawah si pria. “Kumakan kau,” kata mereka satu sama lain. faktanya, beberapa binatang, khususnya serangga betina, akan memakan pasangannya setelah melakukannya hubungan seks.

Ciuman Seremonial

Saat Odysseus, seroang pejuang dari Yunani pulang dari pengembaraannya yang panjang, seorang temannya menciumnya di kepla, tangan dan bahu. Beberapa abad sesudahnya, ciuman antara pria semacam menjadi kebiasaan yang dilakukan antara seorang uskup dan pastor. Seorang usku akan mencium pastor yang baru ditahbiskan dan pastor tersebut akan mencium kaki Sri Paus.

Orang-orang Katolik Roma melakukan kebiasaan dengan mencium altar, reliqui atau benda yang ditinggalkan oleh para kudus, luka-luka pada patung Jesus, dan saudara-saudara mereka yang meninggal. Orang Yahudi punya kebiasaan mencium kitab Taurat, tapi tidak pernah mencium saudara mereka yang sudah meninggal. Selama abad pertengahan, seorang ksatria akan dicium oleh ksatria yang lebih tua, bahkan kadang-kadang oleh raja, setelah dilantik.

Ciuman tangan khususnya antara lekali, adalah sebentuk sikap menghormati. Menurut salah satu legenda Kristen, acara mencium kaki atau tumit Sri paus sebenarnya adalah bagian dari gaya ciuman tangan. Cerita berkembang. Di abad delapan, diceritakan seorang wanita yang sedang bergairah tidak hanya mencium tangan Sri paus,melainkan juga menghisap jari-jari sang pemimpin umat Katolik sedunia ini dengan dahsyatnya.

Tentu saja, orang yang dianggap suci ini terkejut sekali. Lalu selanjutnya agar kebiasaan tidak berlanjut, Paus mengumumkan bahwa ciuman tangan ini diganti dengan ciuman kaki. Sementara dalam legenda lain menyebutkan adanya kebiasaan mencium kaki raja.

Ciuman Kupu-kupu

Beberapa kebudayaan memiliki kebiasaan yang lebih aneh lagi saat kedua orang dimabuk cinta. Caranya dengan mengedipkan bulu mata ke pipi pasangannya. Sementara mengadu bulu mata disebut “double butterfly.”

Ciuman kupu-kupu ini mengadopsi cara mencium serangga yakni dengan cara menempelkan satu sama lain antenanya ke pasangannya. Naun, tentu saja dua orang yang sedang jatuh cinta bisa saja membuat bentuk ciuman yang lain lagi. Mau bereksperimen?

Dibaca oleh : 148 pengunjung

Permalink Leave a Comment

Self-esteem dan Narcissistic Personality Disorder

7 November 2008 at 8:49 AM (my essay ("-"))

Pengantar

Pengantar Umum

Perkembangan teknologi tidak sepenuhnya memberikan kemudahan dan manfaat bagi manusia. Beberapa diantaranya bahkan memberikan dampak negatif yang cukup signifikan terhadap perkembangan diri manusia, misalnya perkembangan jejaring sosial seperi facebook. Menurut penelitian dari University of Georgia, pengguna facebook dengan jumlah jaringan pertemanan yang besar di dalamnya memiliki sifat dan mental narsisme yang merupakan salah satu gangguan kepribadian. Laura Buffardi, seorang mahasiswa kedokteran psikologi dari University of Georgia dan professor W. Keith Campbell telah melakukan survey terhadap 130 pengguna facebook. Akhirnya Professor W. Keith Campbell menyimpulkan narsisme bersembunyi dalam kemampuan untuk membuat pertemanan yang sehat (www.beritanet.com).

Narsisme dalam ilmu psikologi dipandang sebagai gangguan (Narcissistic Personality Disorder). Individu yang narsis memiliki gambaran diri yang sangat positif dan menggunakan strategi tertentu untuk membentuk jarak dalam menjalin hubungan intrapersonal dan interpersonal demi mempertahankan gambaran diri positif yang ada pada dirinya (Campbell, Rudich,& Sedikies , 2002).

Dalam hal ini, penulis tidak akan mengaitkannya dengan (gambaran diri) self-concept seseorang melainkan dengan self-esteem, yakni penilaian seseorang mengenai self-concept yang dimiliki. Berdasarkan pernyataan Baumeister, Campbell, Krueger, Vohs, 2005 dalam Baron, Branscomber, dan Byrne 2008 yakni self-esteem yang tinggi berkaitan erat dengan dengan bullying, narsisme, ekshibisionisme, self-aggrandizing, dan agresi pada diri sendiri maka dalam bagian pembahasan, penulis akan memberikan argumentasi apakah individu yang memiliki self-esteem yang tinggi sama dengan individu dengan Narcisstic Personality Disorder?

Kerangka Tulisan

Penulis akan membahas mengenai self-esteem dan Narcissistic Personality Disorde (NPD)r. Pembahasan mengenai self-esteem berisi definisi self-esteem dan karakteristik individu yang memiliki self-esteem tinggi. Sedangkan pembahasan mengenai NPD hanya akan difokuskan pada karakteristik individu dengan NPD. Pada akhir tulisan, penulis akan menganalisis apakah Individu yang mempunyai self-esteem yang tinggi memiliki kesamaan dengan individu dengan NPD.

Tesis

Hipotesis penulisan esai ini adalah “Apakah individu dengan self-esteem yang tinggi sama dengan individu dengan Narcissistic Personality Disorder?”. Dugaan sementara yang dapat penulis argumentasikan adalah “Terdapat perbedaan antara individu dengan self–esteem yang tinggi dan individu dengan Narcissistic Personality Disorder”.

Pembahasan

Bukti-bukti

Definisi Self-esteem

Menurut Branden (1994) perilaku seseorang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh tingkat self esteem yang dimilikinya, apakah self-esteem orang tersebut tinggi atau rendah. Sebelum membahas tentang jenis self-esteem, berikut penulis akan memaparkan beberapa definisi self-esteem menurut beberapa ahli psikologi.

…a positive or negative attitude towards a particular object, namely, the self

(Rosenberg, 1965 dalam Burns, 1982: 6)

Self-esteem is the disposition to experience oneself as competent to cope with the basic challenges of life and as worthy of happiness

(Branden, 1994: 27)

The degree to which we perceive ourselves positively or negatively; our overall attitude towards ourselves.

(Baron, Branscombe & Byrne, 2008)

Sehingga dapat disimpulkan bahwa self-esteem adalah penilaian seseorang secara umum terhadap dirinya sendiri, baik berupa penilaian negatif maupun penilaian positif yang akhirnya menghasilkan perasaan keberhargaan atau kebergunaan diri dalam menjalani kehidupan.

Karakteristik Individu dengan Self-esteem Tinggi

Menurut Coopersmith (1967, dalam Teti Nuraini S, 2004) tingkatan harga diri individu dapat dibedakan menjadi tiga golongan di mana setiap golongan memiliki karakteristik masing-masing. Dalam pembahasan esai ini, penulis hanya akan memaparkan karakteristik individu yang memiliki self-esteem tinggi. Karakteristik individu yang memiliki self-esteem tinggi yaitu:

  1. Aktif dan dapat mengekspresikan diri dengan baik
  2. Berprestasi dalam bidang akademis dan berhasil dalam hubungan sosial
  3. Dapat menerima kritik dengan baik
  4. Percaya pada persepsi dan dirinya sendiri
  5. Keyakinan akan dirinya tidak hanya berdasarkan khayalannya, karena mempunyai kemampuan, kecakapan sosial, dan kualitas diri yang tinggi.
  6. Tidak mudah terpengaruh pada penilaian orang lain mengenai sifat dan kepribadiannya, baik itu positif maupun negatif
  7. Mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan baru
  8. Memiliki tingkat kecemasan dan perasaan tidak aman rendah
  9. Memiliki daya bertahan yang seimbang

Karakteristik Individu dengan Narcissistic Personality Disorder

Sigmund Freud menggunakan istilah narsis untuk mengambarkan seseorang yang merasa dirinya begitu penting daripada orang lain dan ingin selalu menerima perhatian dari orang lain. (Cooper dan Ronningstam, 1992). Orang dengan NPD merasa dirinya sangat penting namun hal tersebut sangat tidak beralasan dan sangat memperhatikan diri mereka sendiri sehingga mereka memiliki tingkat sensitivitas dan kepedulian yang rendah terhadap orang lain (Gunderson, Ronningstam, dan Smith, 1995).

Roy F. Baumeister dan Kathlen D. Vohs dalam jurnalnya Narcissism as Addiction to Esteem menyatakan bahwa narsis sangat didukung oleh keinginan meraih pujian dari orang lain. Mereka mencoba memenuhi keinginan-keinginan tersebut dengan mengganggap dirinya lebih hebat dari orang lain dan merasa mereka adalah satu-satunya yang terhebat. Hubungan interpersonal mereka tidak berlangsung baik sebab mereka sangat bergantung pada pujian-pujian dari orang lain yang selalu mereka cari. Selain itu, Michael H. Kernis dalam jurnalnya yang berjudul Following The Trail From Narcissism to Fragile Self-esteem menyatakan bahwa self-esteem orang yang narsis mengalami inflasi dan hal tersebut diasosiasikan dengan perasaan sebagai pihak superior dan perasaan dapat memberikan yang terbaik pada orang lain.

Merupakan sebuah keharusan bagi orang yang mengalami NPD untuk menjadi pusat perhatian semua orang. Mereka sangat membutuhkan perhatian terus-menerus serta pujian yang berlebihan dari orang lain. Selain itu, mereka yakin mereka hanya dapat dimengerti oleh orang-orang yang memiliki status sosial yang tinggi. Hal ini yang memunculkan sifat arogan pada orang-orang yang berperilaku narsis. Hubungan interpersonal mereka terganggu karena mereka memiliki rasa empati yang sangat rendah, perasaan iri, sombong, memanfaatkan orang lain untuk mendapatkan keuntungan tertentu, feelings of entitlement, mengharapkan orang lain melakukan hal yang spesial pada dirinya dan tidak ingin membalas hal yang sama pada orang lain (Ronningston dan Gunderson, 1990).

Individu dengan NPD tidak akan merasa nyaman sampai ada satu orang yang memuji mereka. Perasaan berlebihan akan khayalan mereka mengenai kehebatan-kehebatan yang mereka miliki menciptakan atribut negatif yang melekat pada diri mereka. Mereka membutuhkan dan mengharapkan perhatian khusus yang sangat besar, misalnya mendapatkan meja terbaik di restoran atau memarkirkan mobil secara ilegal di halaman parkir bioskop. Selain itu, mereka juga cenderung mengeksploitasi orang lain untuk memenuhi kesenangan pribadinya dan menunjukan empati yang yang rendah pada orang lain. Saat mereka berkonfrontasi dengan orang sukses lainnya, mereka menjadi sangat iri dan menyombongkan diri. Selain itu, mereka seringkali mengalami depresi karena mereka sering gagal merealisasikan harapan-harapan mereka. Berikut karakteristik-karakteristik orang yang mengalami Narcisstic Personality Disorder (NPD):

  1. Merasa dirinya begitu penting, sehingga memunculkan perasaan superior
  2. Pikirannya dipenuhi dengan khayalan akan keberhasilan yang tidak terbatas, kekuatan, brilian, kecantikan dan cinta yang ideal
  3. Mereka yakin dirinya adalah orang yang khusus dan unik dan hanya dapat dimengerti dan bergaul dengan orang-orang memiliki status sosial yang tinggi
  4. Meminta pujian yang sangat berlebihan dari orang lain
  5. Memiliki sense of entitlement
  6. Sangat kurang berempati pada orang lain
  7. Sangat iri pada orang lain atau yakin orang lain iri pada dirinya
  8. Memiliki sikap sombong dan tidak ramah

Intepretasi

Menurut penulis terdapat perbedaan antara individu yang memiliki self-esteem yang tinggi dan individu dengan karakteristik NPD. Perbedaan-perbedaan yang paling mencolok adalah pada keyakinan akan kemampuan individu yang bersifat realistis pada individu yang meiliki self esteem tinggi sedangkan keyakinan kemampuan individu yang hanya berupa khayalan pada individu dengan NPD. Individu dengan self-esteem tinggi tidak mudah terpengaruh pada penilaian orang lain mengenai sifat dan kepribadiannya, baik itu positif maupun negative hal ini berbanding terbalik pada individu yang mengalami NPD. Hal ini pula yang menyebabkan hubungan intrapersonal dan interpersonal mereka tidak dapat berlangsung dengan baik. Dengan kata lain, individu dengan NPD tidak mampu membangun hubungan sosial yang baik ke dalam diri maupun ke luar dirinya. Perbedaan lain yang terlihat mencolok adalah individu dengan NPD sering gagal merealisasikan harapan-harapan mereka sehingga seringkali mengalami depresi sedangkan individu dengan self-esteem tinggi memiliki tingkat kecemasan dan perasaan tidak aman rendah dan jarang mengalami depresi. Coopersmith, Seery, Blascovich, Weisbuch, & Vick, 2004 berpendapat orang dengan self-esteem tinggi yang tidak stabil akan mengalami kegagalan dan keraguan pada dirinya yang akan tercermin pada respon-respon fisik yang mereka tunjukan dalam hal ini individu dengan NPD sangat membutuhkan pujian dan perhatian dari orang lain. Michael H. Kernis dalam jurnalnya Following The Trail From Narcissism to Fragile Self-esteem menyatakan adanya self-esteem yang rapuh merupakan komponen terpenting yang ada dalam diri orang yang narsis. Kernis juga menyimpulkan bahwa self-esteem orang yang narsis sangat rapuh sebab harga dirinya yang tinggi tersebut tidak stabil. Oleh karena itu, individu dengan NPD dapat digolongkan memiliki self-esteem tinggi yang tidak stabil (rapuh) sehingga terdapat perbedaan yang cukup jelas antara individu yang memiliki self-esteem tinggi dan individu dengan NPD, yakni adanya ketidakstabilan self-esteem tinggi yang dimiliki oleh individu-indibidu tersebut.

Kesimpulan

Akhirnya penulis dapat menyimpulkan bahwa individu dengan self-esteem tinggi memiliki self-esteem yang stabil. Di lain pihak, individu dengan Narcisstic Personality Disorder (NPD) memiliki self-esteem tinggi yang tidak stabil (rapuh). Pernyataan tersebut merupakan perbedaan antara keduanya yang paling mencolok. Perbedaan tersebut tercermin dari perbedaan hubungan sosial yang dapat dibangun baik intrapersonal maupun interpersonal.

Referensi

Barlow, David H & Durand, V. Mark. (2005). Abnormal Psychology An Integrative Approach. Belmont, USA: Thomson Learning, Inc.

Baron, Robert A, Branscombe, Nyla R & Byrne,Donn. (2008).. Social Psychology 12th Edition. New York: Pearson Education, Inc.

Ersi, Vera. (2004). Pengaruh Self-esteem dan The Love of Money Terhadap Perilaku Membeli Barang Berdasarkan Merek. Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

Shofiati, Teti N. (2004). Gambaran Harga Diri dan Frekuensi Teasing pada Remaja.. Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia

H. Kernis, Michael. (2001). Following The Trail from Narcissism to Fragile Self-Esteem. Psychological Inquiry, Vol.12, No. 64, 223-225

Garg, Rashmi et.al. (2005). Parenting Style and Academic Achievement for East Indian and Canadian Adolescents. Journal of Comparative Family Studies, 36, 653-661

http://www.beritanet.com/Technology/Web-Development/Waspadai-Mental-Narsis-Tersembunyi.html (diunduh pada 28 Oktober 2008 pukul 15.45 wib)

Permalink Leave a Comment