Bagaimana Menjadi Orang yang Optimis ?

27 October 2008 at 7:24 AM (Uncategorized)

Oleh: Ester Widhi Andangsari

“Kehidupan tidak pernah sesuai dengan cara yang diiginkan. Kehidupan seperti apa adanya. Cara Anda mengatasinyalah yang membuat perbedaan”
(Virginia Satir)

1. (“Saya rasa sulit bagi saya untuk mencari pekerjaan yang saya inginkan. IPK saya pas-pasan. Pasti yang diterima bekerja hanya mereka yang memiliki IPK tinggi”).
2. (“Kemarin saya ada wawancara kerja dan ternyata perusahaan itu tidak menerima saya. Mungkin saya memang kurang tepat ditempatkan di perusahaan tersebut. Saya akan terus berusaha mengirim surat lamaran ke perusahaan lainnya, siapa tahu nanti saya diterima”).

Dari cerita di atas, ada 2 jenis manusia. Reaksi pertama adalah jenis orang yang pesimis, sedangkan reaksi yang kedua adalah jenis orang yang optimis.

Optimis

Definisi Optimis: kecenderungan untuk bersikap tetap berharap akan terjadinya sesuatu yang menyenangkan walaupun mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan. “Kegagalan adalah sukses yang tertunda”

Pesimis

Definisi Pesimis: seseorang hanya memperhatikan sisi gelap dari suatu peristiwa yang terjadi dan mengharapkan hal terburuk yang terjadi.

Alan Loy McGinnis menyatakan bahwa salah satu ciri dari orang optimis adalah selalu mencari kebaikan dalam situasi yang buruk.

Karakteristik Pemikiran Orang yang Optimis (menurut McGinnis)

  1. mampu memecahkan masalah
  2. memilili alternatif pemecahan masalah (berpikir secara divergen)
  3. mampu berbicara mengenai perasaan negatif

Karakteristik Pemikiran Orang yang Pesimis (menurut Dr. Martin Seligman)

  1. Permanence. Kejadian masa lalu dianggap sebagai sesuatu yang tidak akan pernah berakhir. Misalnya : Seorang atasan menegur Anda dengan sangat keras di depan rekan-rekan kerja yang lain. Anda bereaksi dengan berkata dalam hati bahwa Anda sangat membenci dia. Peristiwa tersebut telah berlalu dan Anda tetap membenci atasan Anda serta segala sesuatu yang dilakukannya. Sebaliknya dengan orang yang optimis, dia akan berpikir, “Kemarin dia sedang tidak mood, sehingga mudah marah. barangkali ada sesuatu yang sedang terjadi.”
  2. Pervasiveness. Bagi orang yang pesimis, ketika mengalami satu kegagalan maka ia akan menganggap bahwa dirinya tidak mampu melakukan semua hal. Atau sama halnya ketika ditolak oleh satu orang, maka ia akan merasa bahwa dirinya ditolak oleh semua orang. Biasanya orang seperti ini kehilangan rasa percaya dirinya dan mudah merasa tertekan.
  3. Personalization. Orang yang pesimistik menganggap bahwa ketika terjadi suatu kegagalan maka dia akan menganggap itu adalah kesalahannya. Tetapi ketika keberhasilan tercapai, maka itu seharusnya karena orang lain bukan karena dirinya.

Beberapa saran yang dapat diberikan untuk dapat menjadi orang yang optimis, diantaranya :

  • Berpikir positif. Menilai diri sendiri dengan positif, bukan mengatakan bahwa “Saya adalah orang yang tidak berguna.” Atau “Saya adalah seorang pekerja yang gagal yang tidak mungkin berhasil.”. PIkiran yang positif akan mengarahkan kita untuk memiliki sikap-sikap yang tidak mudah menyerah.
  • Membantah keyakinan yang negatif dalam diri sendiri. Seringkali kita berbicara dengan diri sendiri (self talking) mengenai keyakinan yang negatif dalam diri sendiri. Kita tidak menyadarinya karena sudah sering dilakukan dan akhirnya menjadi kebiasaan. Untuk menghilangkan kebiasaan buruk ini, Dr. Seligman menyarankan agar menuliskan pemikiran atau keyakinan yang negatif apa saja yang muncul tentang diri sendiri. Kemudian beranikan diri untuk membantah pemikiran tersebut. Misalnya, “Saya gagal lagi dalam wawancara kerja ini, pasti karena saya memang bukan orang yang pintar.” Pemikiran tersebut dapat Anda bantah dengan mengatakan, “Saya tidak lolos dalam interview kerja karena posisi tersebut kurang tepat untuk diri saya. Pasti akan ada posisi yang lebih tepat untuk saya dikemudian hari.” Cara lain yang dapat dilakukan selain membantah keyakinan yang negatif yaitu dengan berdoa.
  • Menikmati. Berusaha untuk menemukan hal-hal yang dapat dinikmati seburuk apa pun situasi yang dihadapi. Menikmati percakapan yang terjadi dengan sang interviewer walaupun akhirnya tidak lolos dalam seleksi kerja, menikmati dinginnya udara ketika hujan turun dengan sangat derasnya, dan sebagainya.

Hal-hal di atas harus sering dilatih dalam diri kita supaya menjadi kebiasaan dan akhirnya kita dapat menuju sebagai orang yang optimis. Sama halnya seperti orang yang pernah belajar naik sepeda atau berenang, sekali melakukan maka tidak akan pernah bisa dilupakan.


About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: