Perbedaan Pria dan Wanita
Perbedaan Pria dan Wanita
Perbedaan Proses Informasi
Otak pria sangat tersistematis, dengan kemampuan yang tinggi untuk mengelompokkan segala sesuatu, kemampuan yang rendah untuk multitasking, kemampuan yang tinggi untuk mengontrol emosi, orientasi hubungan (relasional) yang rendah, orientasi kerja yang tinggi, kemampuan yang tinggi untuk “mengasingkan diri”, kecenderungan untuk bertindak lebih dulu baru berpikir kemudian jika mengalami stress, respon yang agresif terhadap resiko, dan kecenderungan untuk berkompetisi dengan para pria lain.
Otak wanita mempunyai tingkat empati yang tinggi, kemampuan yang rendah untuk menggolong-golongkan, kemampuan yang tinggi untuk multitasking, kemampuan yang rendah untuk mengontrol emosi, mempunyai orientasi hubungan (relasional), orientasi kerja yang rendah, kemampuan yang rendah untuk “mengasingkan diri”, kecenderungan untuk berpikir dan merasa terlebih dahulu sebelum bertindak dalam meresponi stress, respon yang berhati-hati terhadap resiko, dan kecenderungan untuk bekerja sama dengan para wanita lain.
Perbedaan Cara Berkomunikasi
Percakapan para pria biasanya cenderung berfokus pada fakta-fakta, percakapan wanita cenderung menekankan pada perasaan di balik fakta-fakta. Para pria mengatasi masalah paling baik dengan memikirkan satu masalah pada satu waktu, biasanya dengan berpikir sendiri. Namun wanita secara umum perlu membicarakan masalah mereka dengan orang lain untuk memproses pikiran mereka. Pria mendekati suatu situasi dengan keinginan kuat untuk membuat keputusan dan mengambil tindakan, sementara wanita kadang hanya ingin membicarakan bagaimana perasaan mereka tentang situasi yang sama.
Pria cenderung berbicara secara langsung dan menggunakan kata-kata literal atau harafiah, dan wanita cenderung berbicara secara tidak langsung.
Perbedaan Pendekatan Terhadap Seks
Pria cenderung mempunyai orientasi fisik, sementara wanita cenderung mempunyai orientasi hubungan (relasional). Pria biasanya terangsang dengan bentuk dan penglihatan mereka, sementara wanita biasanya terangsang dengan perasaan, bau, sentuhan, dan kata-kata. Pria sering menginginkan seks kapanpun dan dimanapun, sementara wanita biasanya menginginkan seks lebih jarang. Para pria biasanya mempunyai respon seksual yang cepat dan sulit terganggu pada saat berhubungan seks, sementara wanita mempunyai respon seksual yang lebih lambat dan lebih mudah terganggu saat berhubungan.
Perbedaan antara “Menaklukan Vs Memelihara”
Pria sangat dimotivasi oleh tindakan “menaklukkan”, mereka cenderung mendefinisikan diri mereka berdasarkan kesuksesan kerja dan pencapaian-pencapaan mereka. Wanita dimotivasi oleh tindakan “memelihara”, mereka cenderung mendefinisikan diri mereka berdasarkan orang-orang yang mereka pedulikan.
Perbedaan antara “Penyediaan Vs Rasa Aman”
Pria diciptakan untuk menyediakan (terutama) secara finansial kepada keluarganya, sementara wanita diciptakan untuk menyediakan rasa aman secara emosional dan rumah yang damai.
Perbedaan “Rasa hormat VS cinta
Pria memerlukan rasa hormat dan kekaguman dari istri mereka untuk segala usaha dan pencapaian mereka, mereka juga perlu mengetahui ketertarikan istri mereka terhadap pekerjaan dan hobi mereka. Wanita memerlukan ekspresi cinta yang sering dari suaminya melalui kata-kata dan perbuatan.
Edited by: Cut Hani Bustanova
Depok, 27 Oktober 2008
Dari berbagai sumber
12 September 2008
Depok, 12 September 2008
Aku ingin menulis tentang apa saja
Di mana saja
Apa yang dilakukan seorang penjaga laboratorium komputer ?
Di laboratorium komputer pascasarjana Universitas Indonesia dipekerjakan seorang pegawai baru. Deskripsi fisiknya kira-kira seperti ini. Wajahnya lonjong. Berkumis rapi dan tidak tebal. Berpakaian batik (hari ini)
Perilalu pemotongan waktu kuliah dosen matakuliah polisi dan pemolisian
Latar belakang
Hari ini Rahel ternyata tidak mengikuti kelas polisi dan pemolisian. Dia men-drop kelas tersebut menjadi kelas lintas fakultas ke salah satu jurusan di FKM. Tadi ketika aku masuk kelas Polisi dan pemolisian jumlah mahasiswanya berkurang dari hari kemarin. Banyak mahasiswi psikologi yang minggu kemarin mengambil kelas ini juga ikut mendrop mata kuliah tersebut seperti Rahel.
Rumusan Masalah
Apa yang menyebabkan mahasiswi tersebut mendrop mata kuliah polisi dan pemolisian?
Variabel
Independent Variable : Pengaruh Komtak Mata
Dependent Variable : Daya Tangkap Matakuliah
Extraneous Variable : Sedang puasa, Waktu kuliah, Suara dosen, Penggunaan alat bantu kuliah
Berdasarkan observasi observer di lapangan saat matakuliah berlangsung, suasana kelas polisi dan pemolisian kurang kondusif. Dosen yang mengajar tidak menciptakan suasana kelas yang nyaman dan menarik perhatian mahasiswa. Hal ini terlihat dari minimnya kontak mata antara dosen dan mahasiswa. Ketika dosen tersebut memberikan contoh dari materi beliau menoleh ke arah kaca ruangan kelas. Mungkin dalam durasi lima menit beliau hanya sekali menatap mata mahasiswa. Padahal kontak mata adalah komponen utama teknik mengajar. Ditambah dengan waktu kuliah polisi dan pemolisian yang merupakan waktu istirahat siang yakni pukul 13.10-15.20 wib.
Ada satu hal lain yang saya temukan hari ini. Saya tidak tahu siapa nama dosen polisi dan pemolisian saya. Ketidaktahuan saya itu menunjukan komunikasi antara dosen dan mahasiswa yang kurang diutamakan oleh dosen tersebut. Selain itu, saya juga baru mengetahui bahwa ada dosen di Universitas Indonesia yang memotong waktu kuliah selama 80 menit. Matakuliah ini berlangsung dari pukul 13.10 sampai dengan pukul 15.14 wib. Kebetulan saya terlambat mengikuti kuliah selama kurang lebih 10 menit sehingga ketika saya masuk kelas kuliah sudah hampir dimulai. Namun yang mengherankan adalah ketika dosen tersebut telah selesai mentransfer ilmu berupa sejarah polisi dan pemolisian yang berdurasi kurang lebih 60 menit, beliau mengakhiri kuliah tersebut setelah sebelumnya menanyakan kepada para mahasiswa apakah ada diantara kami yang ingn bertanya atau tidak.Tidak ada diskusi atau brainstorming.
Perlu diketahui, polisi dan pemolisian adalah salah satu matakuliah di jurusan kriminologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia. Untuk semester tiga ini saya diperkenankan mengambil 24 sistem kredit semester yang asa.
Bagaimana Menjadi Orang yang Optimis ?
Oleh: Ester Widhi Andangsari
“Kehidupan tidak pernah sesuai dengan cara yang diiginkan. Kehidupan seperti apa adanya. Cara Anda mengatasinyalah yang membuat perbedaan”
(Virginia Satir)
1. (“Saya rasa sulit bagi saya untuk mencari pekerjaan yang saya inginkan. IPK saya pas-pasan. Pasti yang diterima bekerja hanya mereka yang memiliki IPK tinggi”).
2. (“Kemarin saya ada wawancara kerja dan ternyata perusahaan itu tidak menerima saya. Mungkin saya memang kurang tepat ditempatkan di perusahaan tersebut. Saya akan terus berusaha mengirim surat lamaran ke perusahaan lainnya, siapa tahu nanti saya diterima”).
Dari cerita di atas, ada 2 jenis manusia. Reaksi pertama adalah jenis orang yang pesimis, sedangkan reaksi yang kedua adalah jenis orang yang optimis.
Optimis
Definisi Optimis: kecenderungan untuk bersikap tetap berharap akan terjadinya sesuatu yang menyenangkan walaupun mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan. “Kegagalan adalah sukses yang tertunda”
Pesimis
Definisi Pesimis: seseorang hanya memperhatikan sisi gelap dari suatu peristiwa yang terjadi dan mengharapkan hal terburuk yang terjadi.
Alan Loy McGinnis menyatakan bahwa salah satu ciri dari orang optimis adalah selalu mencari kebaikan dalam situasi yang buruk.
Karakteristik Pemikiran Orang yang Optimis (menurut McGinnis)
- mampu memecahkan masalah
- memilili alternatif pemecahan masalah (berpikir secara divergen)
- mampu berbicara mengenai perasaan negatif
Karakteristik Pemikiran Orang yang Pesimis (menurut Dr. Martin Seligman)
- Permanence. Kejadian masa lalu dianggap sebagai sesuatu yang tidak akan pernah berakhir. Misalnya : Seorang atasan menegur Anda dengan sangat keras di depan rekan-rekan kerja yang lain. Anda bereaksi dengan berkata dalam hati bahwa Anda sangat membenci dia. Peristiwa tersebut telah berlalu dan Anda tetap membenci atasan Anda serta segala sesuatu yang dilakukannya. Sebaliknya dengan orang yang optimis, dia akan berpikir, “Kemarin dia sedang tidak mood, sehingga mudah marah. barangkali ada sesuatu yang sedang terjadi.”
- Pervasiveness. Bagi orang yang pesimis, ketika mengalami satu kegagalan maka ia akan menganggap bahwa dirinya tidak mampu melakukan semua hal. Atau sama halnya ketika ditolak oleh satu orang, maka ia akan merasa bahwa dirinya ditolak oleh semua orang. Biasanya orang seperti ini kehilangan rasa percaya dirinya dan mudah merasa tertekan.
- Personalization. Orang yang pesimistik menganggap bahwa ketika terjadi suatu kegagalan maka dia akan menganggap itu adalah kesalahannya. Tetapi ketika keberhasilan tercapai, maka itu seharusnya karena orang lain bukan karena dirinya.
Beberapa saran yang dapat diberikan untuk dapat menjadi orang yang optimis, diantaranya :
- Berpikir positif. Menilai diri sendiri dengan positif, bukan mengatakan bahwa “Saya adalah orang yang tidak berguna.” Atau “Saya adalah seorang pekerja yang gagal yang tidak mungkin berhasil.”. PIkiran yang positif akan mengarahkan kita untuk memiliki sikap-sikap yang tidak mudah menyerah.
- Membantah keyakinan yang negatif dalam diri sendiri. Seringkali kita berbicara dengan diri sendiri (self talking) mengenai keyakinan yang negatif dalam diri sendiri. Kita tidak menyadarinya karena sudah sering dilakukan dan akhirnya menjadi kebiasaan. Untuk menghilangkan kebiasaan buruk ini, Dr. Seligman menyarankan agar menuliskan pemikiran atau keyakinan yang negatif apa saja yang muncul tentang diri sendiri. Kemudian beranikan diri untuk membantah pemikiran tersebut. Misalnya, “Saya gagal lagi dalam wawancara kerja ini, pasti karena saya memang bukan orang yang pintar.” Pemikiran tersebut dapat Anda bantah dengan mengatakan, “Saya tidak lolos dalam interview kerja karena posisi tersebut kurang tepat untuk diri saya. Pasti akan ada posisi yang lebih tepat untuk saya dikemudian hari.” Cara lain yang dapat dilakukan selain membantah keyakinan yang negatif yaitu dengan berdoa.
- Menikmati. Berusaha untuk menemukan hal-hal yang dapat dinikmati seburuk apa pun situasi yang dihadapi. Menikmati percakapan yang terjadi dengan sang interviewer walaupun akhirnya tidak lolos dalam seleksi kerja, menikmati dinginnya udara ketika hujan turun dengan sangat derasnya, dan sebagainya.
Hal-hal di atas harus sering dilatih dalam diri kita supaya menjadi kebiasaan dan akhirnya kita dapat menuju sebagai orang yang optimis. Sama halnya seperti orang yang pernah belajar naik sepeda atau berenang, sekali melakukan maka tidak akan pernah bisa dilupakan.
mba romi
dia barusan ngrimin sms penyemangat biar aku sholat..tapi aku lagi asyik ngenet,, baca-baca email,, cari bahan jurnal buat essay psikologi sosial.. huff..allah adkah kau di sana?untukku siapa ya yang rela menemaniku dari aku bangun sampai tertidur lagi di malam hari
huff
menjadi mahasiswa psikologi ui ternyata tak pernah seindah yang kub ayangkan. Kecuali saat aku mendapatkan uang 50 ribu rupiah hanya dengan datang duduk dan menjadi paduan suara pada acara hari kebangkitan nasional di istora senayan mei 2008 kemarin.
atau
saat orang-orang bertanya, Kuliah dimana? ui. and that’s it.. Adakah kebahagiaan lain..
merasakan pertama kali dalam hidupku naik kereta baik itu ekonomi maupun ekspress. melewati hutan -hutan ui yang rindang.
lari pagi di lapangan rotunda.









